Sebuah Kontemplasi

Sebelumnya gw mau ngucapin thanks buat teman dunia maya gw,  Arleta Fenty yang sudah inspired gw dan bersedia memberikan beberapa cuplikan notes-nya untuk ditulis di notes ini. Fiuh…akhirnya gue menulis juga. Tulisan ini untuk Yahya Maulana, mantan kekasihku (aku mengundangmu membalas tulisan ini. Mari berpolemik, Bung!). Untuk seorang perempuan gila [ini gaya bahasa Arleta] bernama Fitriani Wulandari. Dan untuk semua teman-teman yang masih peduli.

Mungkin keduanya tak akan pernah tau notes ini telah ditulis coz dengan dalih menjaga perasaan, facebook gw di-block sama mantan gw sendiri dan gue terpaksa me-remove facebook Wulan setelah gue dituduh sebagai stalker. What th….???!!!! So, buat temen-temen  silakan  kasi tau mereka, copas or apapun biar mereka berdua baca.

Tidak ada maksud untuk mengundang permusuhan atau perpecahan dalam notes ini. Apalagi perang. Terlebih lagi mengharapkan kita untuk balikan. Absolutely no!! Gw tidak akan menggunakan cara yang sama dengan merebut pacar orang lain untuk kesenangan diri sendiri. Dan satu lagi, gue ga desperado, karena gw sudah sangat bahagia saat ini dengan kehidupan dan job-job gw saat ini tentunya dengan sudut pandang yang baru. Cuma ingin membuka pikiran, wawasan, dan tentunya, HATI. Wulan, mungkin dengan ini lo bakal tau bagaimana kisah gue sama mantan gue yang sangat indah, sederhana, dan dewasa. Itupun kalo lo masih punya hati.

*****

TIga tahun dua bulan….

Yahya, aku tidak akan menuliskan semuanya  apa saja yang sudah kamu janjikan ke aku. Hm…mungkin ga akan selesai untukku menulis setahun atau dua tahun. Yang pasti kita dulu memulainya dengan sangat baik. Tanpa diawali pengkhianatan, proses yang pelan, sulit tapi pasti. Aku kena gempa. Rumahku habis tak tersisa. Aku setengah gila. SPMB makin dekat. Dan kamu yang mengembalikan kewarasan dan semangatku, ketika itu…

Dari awal aku selalu bilang, aku anak yang keras kepala, liar dan tak bisa diatur, dan kamu menerimanya dengan tangan terbuka dan senyumanmu. Matamu yang teduh yang selalu membuatku bisa kalem kembali. Ketika itu kita sama-sama mahasiswa yang baru saja diterima di PTN. Kamu di FIKTM ITB, aku di Teknik Industri UGM. Itu jurusan yang selama ini aku dambakan, and I’ve got it!!! Dan pengumuman STAN itupun keluar. Aku tak pernah tau aku diterima, kalau saja Ayu ga ngasih tau. Dan aku memilih STAN, karna keadaan orang tuaku yang single parent, dan kamu…. Jakarta-Bandung dekat kan??

Dan kita menjalani itu semua dengan LDR. Diawali dengan first date. Naik kopaja yang slalu membuatku mengantuk, pertama kali aku digandeng tangan oleh seorang cowok, dan tentunya…tragedi memalukan itu (hahah,,,pastinya kamu ingat kan yahya maulana???). Dan saat itu juga, kamu mengajakku ke rumahmu untuk dikenalkan ke orang tuamu. Wew!!! 21 September 2006. Nice moment.

Setelah itu kita berpisah. Menunggu sebulan lagi untuk bertemu. Sangat berat, tapi kita ikhlas. Tiap malam Sabtu dan Minggu, kita pasti kurang tidur. Yap!! Free talk. Mencari gratisan.Dan bulan September itu pun akhirnya kamu memanggilku “sayang” setelah satu bulan kita jadian. Dasar sifatku yang keras. Aku masih risih dipanggil itu. Kamu pasti tahu, aku ANTI ROMANTIS ketika itu. Dan akupun tak pernah bilang sayang ke kamu. Karena apa??? Karena aku mencintaimu masih pakai otak. Dan di mataku ketika itu, sampai sekarang, pacaran dengan seabrek kata-kata romantis adalah elementary style, huh??!!!

Aku selalu bilang jangan terlalu muluk untuk membuat rencana-rencana kita. Karena kita masih 18 tahun ketika itu. Aku masih selalu bisa berfikir logis ketika itu sehingga aku menjadi orang yang menurut kamu angkuh, arogan, kasar, dan cuek pastinya. Itu memang salahku, karena aku terlalu takut benar-benar tak bias lepas darimu. Keangkuhanku, kearogananku, kekasaranku, karna aku ingin selalu dianggap TANGGUH oleh orang yang sangat kucintai. Cuma kamu. Aku tak butuh pengakuan orang lain.

Dan lagi-lagi kamu bisa mengubahku. Aku melunak, dan mulai suka dengan sesuatu yang berbau romantik. Aku mulai memperhatikan penampilanku yang dulu awut-awutan (sampai sekarang juga sih),mulai terbiasa dengan gombalan-gombalanmu, rengekanmu ketika meyakinkanku kalau sinetron “Hidayah” itu bagus, mendengarkanmu bernyanyi ST12, padahal aku tak suka. Dan aku rindu…..

Kamu bisa menerimaku, just the way I am. Hobiku. Kebiasaanku. Sifatku. Penampilanku. Jadi diri sendiri, begitu katamu tiap kali aku membandingkan dengan wanita-wanita Bandung yang aduhai. Bahkan kamupun masih bisa menerimaku ketika ada bagian tubuhku yang cacat karena  jatuh pas rafting. Dan hebatnya, kamu bisa dengan sabar menugguku selama setahun untukku bilang “sayang” ke kamu secara langsung. Di belakang gedung D. 13 Agustus 2007.

Masa depan kita. Anak-anak kita, ketika kamu mengusulkan untuk memberi nama Sugeng-Slamet. Karna kita sama-sama cinta gunung. Yah, gunung yang sakral di mataku. Dan “I am your future”. Tanggal 23 September 2009, kamu masih bilang kalau masih aku yang jadi masa depanmu. Masih ingatkah? Bulan Maret tahun ini, orang tuamu datang ke rumahku. Bersamamu juga. Jakarta-Pekalongan-Jogja. Itukah bukti katamu kalau tahun terakhir kita, kamu sudah tidak sayang lagi?

Dan otakku pun mulai dikalahkan oleh perasaan. Sampai akhirnya, ingatkah kamu? Tanggal 5 September setelah kita buka bersama di Hotel Harris, aku bilang, aku sangat bahagia dengan hubungan kita, yang dewasa, di mataku. Akupun sangat berterimakasih denganmu yang selalu menerimaku apa adanya, dan aku berniat untuk  melakukan yang terbaik untukmu, setelah selama ini terlalu cuek. Bodohnya aku, aku terlambat. Untuk menyadari suatu pertemuan kebetulan yang membuat semuanya hancur, ketika perasaanku mengalahkan logikaku untuk mencintaimu. Sebuah komitmen dan cinta yang selama ini kubangun dengan perlahan. Oleh seorang wanita yang aku sendiri tak kenal dan dengan sangat pedenya meng-add aku di facebook. Dan kamu bilang, itu teman SMP mu. Dan dari semua itu pengkhianatan itu berawal….

*****

The Disaster…

3 Oktober 2009

Matamu tak bisa bohong ketika itu. Aku ke Bandung.  Dan sayangnya kamu tidak pakai soft lens atau kacamata hitam untuk menyembunyikan ke”salahan” di matamu. Aku tidak pernah salah menilai orang lewat mata selama ini, dude. Dan benar kan? Lucky guess, aku tak salah lagi. Fisikmu bersamaku. Tapi pikiranmu entah dimana. Aku malas menebaknya.

Dan akhirnya, pukul 02.52 dini hari, 7 Oktober 2009 aku membaca wall darimu. “Sepertinya akan jalan sendiri-sendiri”. Lima kata yang cukup membuatku hancur saat itu. Tanpa pembicaraan. Tanpa kompromi. Dan akhirnya aku yang minta klarifikasi darimu. Dan kamupun masih mengelak ketika aku menanyakan tentang orang ketiga. Dan seperti biasanya, kamu tak bisa menolak permintaanku untuk jujur. Yah, orang ketiga katamu. Hancurlah aku. Setengah gila. Tiga tahun. Putus. Lewat wall. Aku yang minta klarifikasi lewat telfon. Ingatkah? Kamu pernah mengutuk-ngutukku ketika aku pernah memutuskanmu via telfon. Dan sekarang giliranmu. Dan aku hanya bisa diam. Dan nama itupun akhirnya terucap. Fitriani Wulandari. Anak ITB juga. Perempuan yang juga sudah punya lelaki sebagai pacar. Selesai. Hari itu aku menangis hebat. Bahkan saat ayahku meninggal, aku tak pernah merasa sepayah itu. Tapi untungnya tak lama. Cuma butuh sepuluh menit, sampai akhirnya aku kehabisan airmata. Dan akupun bisa tertawa lagi.

08.00. Aku buka facebook. Dan kudapati “Fitriani Wulandari and Rekso Priyo Hutomo ended their relationship”. Great!!!! Sempurna!!!! Selamat!!! Kalian berdua memang konseptor yang hebat!!! Dan akupun mencari pelarian. Posko. Satu-satunya tempat yang selalu membuatku kembali “hidup”. Mereka tidak  menghiburku dengan cara terkutuk dengan mengasihani aku. Mereka justru membuat joke yang mengolok-olokku karena aku sudah menjomblo. Dan itu yang membuatku kuat. Sampai saat ini. Tough. Kamu tau, aku berusaha melupakan dengan mengoceh di beberapa acara kampus, dan semuanya sia-sia karena perempuan sulit sekali berkonsentrasi bila hatinya terusik. Beda dengan pria yang hanya akan sulit berkonsentrasi bila pandangan matanya terusik.

Dan masalah “gunung” itupun muncul. Aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu saat itu. Aku bisa terima kamu memutuskanku dengan “caramu”. Tapi aku marah saat kamu menganalogikan perjalanan kita yang kamu khianati dengan “gunung”. Aku sangat cinta, memuja mungkin. Gunung. Lagi-lagi salahku. Aku salah paham. Maaf.

Dan akhirnya kamu block fb ku. Twitter. Dan sekali lagi aku minta klarifikasi. Dan saat aku bertanya makna tiga tahun kita bersama, kamu justru menyalahkanku. Aku dekat dengan cowok bernama Arsi Aditya. Aku terlalu cuek. Aku kasar. Dan dengan alasan itu kamu merasionalisasikan kedekatanmu dengan Wulan yang serba backflushing itu. Just in time. Kamu menyebutnya pertemuan pada saat yang tepat.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk naik gunung untuk melupakanmu. Dan saat turun gunung, aku sangat gembira. Sangat bebas. Dan perasaan itu hancur dalam hitungan detik. Ketika aku kembali mendapatkan sinyal dan membuka facebook. Saat itu kesabaranku kembali diuji. Aku mendapat personal message  dari temanku, padahal aku tidak pernah memintanya, tentang status updatemu “for someone with initial “R”….” dan kemudian dilanjutkan dengan SMS forward-an dari Andhita Nurul Khasanah (Aku sempat berpikir “What a loser!”). Dan parahnya, status Wulan, aku cukup cerdas untuk menebak bahwa yang dimaksud “stalking” itu adalah aku. Kamu bilang aku stalker, atau apalah itu. Great!!! Dari mana kamu tahu tentang isi wall-wallku yang membicarakan kalian sementara kamu sudah nge-block fb aku? Dude, password-ku blum kuganti saat itu. Dan menurut pikiran skeptisku, aku yakin kamu pasti masih hafal di luar kepala. Jadi siapa yang stalker skarang. Kamu sudah minta maaf. Dan semua kembali tenang.

*****

Buat lo, Wulan…

Apa yang ada di pikiran lo saat itu, gue kurang mengerti. Apa lo tidak pernah memikirkan perasaan sesama lo? Perasaan wanita? Bagaimana kalo hal ini terjadi pada hidup lo?

Mungkin hidup lo datar-datar saja dan belum ada dinamika yang membuat lo menghargai perasaan wanita. Sedih sekali gw harus mengajarkan ke lo setelah kalian menyakiti gue.

Tapi gw gak marah. Gw senang segalanya terungkap, walaupun sedikit terlambat. Gw senang yahya punya tempat yang bikin dia nyaman, sekalipun dia bilang kalian pasangan penjahat. Lo mungkin gak pernah tau apa saja yang sudah kami lewati selama ini. Atau mungkin tau banyak? Gue lupa kalian sudah banyak sekali curhat.

curhat.

Gw benci kata itu. Lo tau, setiap perselingkuhan diawali dengan curhat.Hipokrit kalau mengelak ini. Gue pun mengakui hampir terjebak. Sampai akhirnya gw harus merasa sakit karena lelaki yang selalu bilang gw adalah perempuan yang akan dinikahinya, pun berselingkuh karena curhat dengan perempuan lain.

Gue selalu bilang, i don’ believe in karma.Tapi gw percaya Tuhan itu adil. Gw tidak menyumpahi ya (walaupun gw menahan rasa ingin membunuh lo).

Lihat-lihat kalau mau dekat sama cowok. Sekalipun hanya TTM. Apa tidak wajar kalo gw merasa tersakiti karena pacar gw ber-i-love-you dan bersayang-sayangan dan bahkan mengucapkan kalimat-kalimat yang seharusnya diucapkannya ke gw, tapi dia mengucapkannya untuk perempuan lain? Sekali lagi, hargai perasaan orang lain, dengan mencoba memosisikan diri lo sebagai orang itu.

Selamat kalau hubungan kalian berlanjut. Tenang saja. Kami sudah berpisah. Berpisah baik-baik. Sebaik kami dulu memulainya.

*****

Wulan tak pernah meminta maaf kepadaku sekalipun dia tau aku dan kamu bertengkar sampai akhirnya putus.Wajarlah.Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan kamupun memanggilnya”bun..”. Sama persis seperti kamu memanggilku dulu. Lucu sekali. Kurasa sampai kiamat Wulan tetap akan merasa dialah si Nyonya Besar yang jijik berhubungan dengan daun kering sepertiku. Tak sadarkah dia bahwa baru sebulan kembali mengenalmu dan sudah merasa Girl of The Year? Lupa dia bahwa posisinya sebagai orang ketiga selalu salah?


Wulan ternyata tak berani menerima resiko apa yang diperbuatnya. Bahkan mungkin ia tak sadar apa kesalahannya. Come on, dia tak sadar telah merebut kekasihku, Yahya. Apa dia pikir itu wajar, bukan kejahatan dan halal? Yang kupikir sekarang, bagiku darahnya yang halal.

*****

Untuk Yahya….

Trimakasih untuk segalanya. Kesabaran. Keceriaan. Kesederhanaan. Maaf karena semua itu tak cukup memelihara apa yang sudah kita bangun. Tentu ada alasan atas apa yang kau buat. Kau tak biasanya membuatku sesakit ini. Mungkin itu karenaku. Karena keegoisanku, katamu.

Aku, tak bisa terlalu erat untuk dipegang. Seperti pasir. Sampai akhirnya kamu justru benar-benar melepasku. Tak bisa kucegah lagi. Kelak, dengan siapapun kamu memulainya, jangan seperti ini lagi. Berselingkuh adalah memuaskan dua persen nafsu bodohmu, yang akan memorak-porandakan sembilan puluh delapan persen yang kau bangun dengan susah payah dan berakhir sia-sia. Ingat Yahya, pacaran adalah komitmen yang paling sederhana dibanding dengan pernikahan. Dan mungkin kamu lupa. Yang sederhana pun kamu hancurkan dalam hitungan hari.

Aku punya satu anekdot untukmu,Yahya.

Seperti wanita yang tak akan cukup dengan sepasang sepatu, para pria tak pernah puas dengan satu kekasih.

Penyakit.

Kenapa aku repot-repot menulis ini, Yahya? Pertama, menyimpan sendiri masalah, riskan menimbulkan kanker dan gejala sapi gila. Kedua, aku menghabiskan banyak waktuku denganmu. Ketiga, katakanlah ini sisi jahat dariku.

Oh iya. Jangan pernah lagi menganggap kalau kalian sebagai pasangan penjahat. Kamu lupa kalau penjahat sekelas gangster pun masih bisa setia dengan istrinya.

Maaf terlalu panjang. Mungkin ini adalah pelajaran berharga buat gue. Supaya gw bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dan gw saat ini sudah berjalan. Bahkan berlari. Harapan itu masih ada. Pastinya.

Advertisements

13 thoughts on “Sebuah Kontemplasi

    1. ayoooooooo
      nasi kuning nest???
      wkwkwkwk
      yang kemarin itu maksudku kalo gitu kan kamu kesempatan buat ketemu juga cuma 30 persen dun=(

  1. gw ga peduli isinya…. gw justru tertarik dengan caramu menuliskannya….

    wooo ini toh yang pake ada NAMA GW SEGALA ditulis hahahhahaa…..

    pengen arung jeram jadinya…. hihihihihi

    1. yuk ah kapan???
      gw juga udah setengah taun ga ngarung niiii
      hohohoho
      sori dhit gw ga bayar lisensi ke lo….
      pake trade mark lo…
      hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s