ayank ayank ku

empat hati.empat otak.empat ego.empat karakter.empat hobi.empat pribadi.empat tempat.empat instansi.empat aliran musik.empat asal kota.

empat wanita biasa yang berusaha untuk menjadi tangguh

yang membuat kita menjadi satu

soulmate forever….

Ayang-Ayangku
Ayang-Ayangku
Kau Buatku MelAyang
Kau Buatku Di Mabuk KepAyang

(mahadewi)

Sudah terlalu sering mendengar eksklusifitas. Premodialisme. Chauvinisme. Dan -isme-isme yang lain. Tak peduli apa kata mereka. Kami lebih peduli bahwa kami makhluk sosial. Berbuat baik kepada sesama. Tidak membedakan mana yang hitam, mana yang putih. KAmi lebih menyadari bahwa kami manusia banyak batasan dan berusaha menembus batas itu. Karna sesungguhnya hati manusia tidak bisa ditembus, karna ternyata hati manusia tak ada batasnya (nest).

Entah berapa airmata yang sudah terkuras bersama. tawa yang berderai beriringan. Setiap lelucon di perjalanan. Pertengkaran antar ego dan perbedaan.

KAmi hanya perempuan biasa yang berusaha menjadi luar biasa dan mandiri. Predikat ke”pecinta alaman”an kami tidak cukup representatif bahwa kami benar-benar kuat menantang takdir TUhan. TAngguh. Kata -kata ampuh.

Mungkin badai gunung, kabut tebal, survival hutan, gelap gua, tinggi tebing dan deras jeram kami bisa tegar dan sabar melewatinya. Tapi kami pernah sama-sama menangis untuk urusan hati. Sakit itu. Sakit pada bagian paling tidak bisa ditembus. Loyalitas. Pengkhianatan. Sialnya dilema kami selalu berhubungan dengan makhluk-nmakhluk itu saja. Itulah sisi sensitivitas dan kelembutan kami. Tetap bisa mencintai walaupun pernah disakiti.

Diskusi, dukungan, cercaan, olok-olokan, terbuka, dan “tamparan”. Terima kasih.

Ini memang tidak bisa dipaksakan. Ini memang tidak ada maksud oposisi. KArna kita adalah wanita biasa. Berusaha menjadi luar biasa. Sensitif. emosional. Penyayang. Loyal. Dan sulit untuk mengungkapkan “cinta”nya.

taman ranukumbolo
ayank ayank ku

Nest. Ernestina Rahmanasari. Semarang. KPPN Liwa Lampung.Tomiko van of do as infinity. Panjat Tebing.

Gerie. Selly Kuntiardini. MAdiun. BPK (diklat) Makassar. Ungu (hehe). Gunung Hutan.

Isma. Isma Amalia. Banyuwangi. KPP Pratama Situbondo. Sore. Arung Jeram.

Rian. Rian Rosita LUthfi. BAntul. DJKN (magang) Jakarta. Green Day. Arung Jeram.

puncak semeru
menembus batas

Meski kita tak sama
Bukan berarti kita tak bisa bersahabat
Meski kita tak sama
Bukan berarti kita harus bermusuhan

(The Lucky laki)

Advertisements

11 thoughts on “ayank ayank ku

  1. ^_^

    like this…

    disaat aku merasa sendiri disini,,cuma kalian yg ada untuk aku…
    bukan mereka yg bilang isme-ismeitu…^_^

    like this!!!!!!!!!!!!
    4 thumbs up 4 us…

  2. hihihih
    jangan gitu dong ayank…
    kan kita makhluk sosial….

    cuma masalah “hati” aja yang ga bisa dipaksain….
    mreka mungkin punya cara yang beda….
    heheheh

  3. fakhri…
    anak lelaki tersayang bu tri…
    hihihi
    yoyoyo…

    jadi malu…
    blog ku masi garing banget ga kayak blogmu…
    pengen euy hijrah ke blogspot

    lebih asik kayaknya….
    kapan2 ajari ya kalo jadi hijrah…
    hhihiii

  4. aku taunya isme-amalia
    dan aku ikuti alirannya..
    =p

    “Mungkin badai gunung, kabut tebal, survival hutan, gelap gua, tinggi tebing dan deras jeram kami bisa tegar dan sabar melewatinya. Tapi kami pernah sama-sama menangis untuk urusan hati.”

    killer posting

  5. nest…
    tapi ga sekiler “laki2 sejatimu”
    kakakakakak
    kalo import blogspot, komennya bisa pindah juga ga??

    si pemula…
    nama aslimu sapa siiii
    hihihii
    bole banget kok de…
    tapi konfirm dulu aja ke posko…
    biar bisa disiapin skalian alat2nyaaaaa
    hoho

  6. hahaha.. sopo ‘laki-laki sejati’
    kenalku cuma banci2 taman CD kok

    komen yo gak bisa pindah buk!!
    coba aja tes drive dulu..

    @si pemula: ayok kita manjat!!

    1. mas erry!!!!
      emang kebanyakan gaya nii
      tak pikir sopo ik…
      baru tau barusan kalo ini dirimuuuuuuuuuu
      hhuhuhuhu
      blogmu lebih keren!!!
      aku yangbaru pemula tauk!!!!
      *malu*

  7. cwin….
    kita tercipta karena sering bersama-sama, bukan membuat justifikasi, karena kebersamaan dan “keLukaan” yang sama a ituLah yang membuat kita tetap seperti sekarang ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s