mahameru part 2= elegan, menawan, dan ceria^^

Intermezo
Tengkyu banget buat temen-temen yang selalu menunggu-nunggu postingan dari Mahameru Part II ini. Gw sebenernya jadi curiga, ini emang menunggu karena postingan gw yang superduperkeren ato emang demen jadi bahan hinaan di dalem postingan gw? *geleng-geleng*

Eniwei… Mahameru part II ini adalah lanjutan dari part I kemaren. Mungkin ntar gw mau bikin jadi tetralogi biar kaya Andrea Hirata ato mungkin bisa ngalahin tersanjung 6. Hm… Nobody knows coz ketika gw nulis intermezo ini, gw belum mulai nulis apapun buat Mahameru Part II. Oke!! Yuk Mari kitabaca bersama. Iqro!! Iqro!! Cekidot!!!
***
25 Desember 2009
White Chrismast…

Berangkat pagi buta abis solat subuh menuju Ranupane. Istri Pak Ruseno sangat baik. Membawakan kami beberapa botol teh hangat untuk bekal di jalan. Beliau sangat baik karena tidak mencampuri teh dengan racun gara-gara semalam kami ribut sampe bikin bayi di rumah Pak Ruseno kejer nangis dikira kebon binatang pindah di rumahnya.

Hari masih gelap ketika kami berangkat menuju Ranupane. Nyawapun masih setengah. Saat matahari uda muncul, barulah kami menyadari kalo lagi berada di jalan yang kanan kirinya pemandangan yang baguuuusss banget. Memanjakan mata sejenak sambil tereak-tereak norak kegirangan. Jakarta ga ada yang se eksotis itu Bung!!!

nyampah di truk
nyampah di truk

Sampailah kami di Ranupani… Desa terakhir sebelum pendakian…. Dingin.. Hening.. Mistis.. Dan ga ada sinyal pastinya.. Tapi bersyukurlah yang providernya INDOSAT masi bisa ONLEN bikin status update di facebook. Tapi musti nyari sinyal dulu di sekitar kamar mandi. Aktivitas yang menyenangkan. Sembari memainkan keypad, hidungpun dimanjakan dengan “aroma-aroma” terapi dari kamar mandi.

Uniknya.. Di Ranupani ada papan vandalis. Jadi yang punya hobi corat-coret ato lagi merasa depresi berat dan butuh pelampiasan, papan itu siap menerima perlakuan brutal anda. Sudah pasrah nampaknya. Papan itu terbuat dari ubin berwarna putih dengan tempelan-tempelan striker dari berbagai mapala atau komunitas sebagai tanda mereka pernah sampai Ranupani, ga peduli muncak ato ga. Hehe.

papan vandalis
papan vandalis

*****
Ranupani-Ranukumbolo
Gw berada di rombongan depan bersama “manis manja grup” (gw, nest, geri, isma), Gambreng, dan mbak mela. Jalan paving yang panjang, jadi bingung, ini naek gunung apa di kebon binatang? Dan hebatnya, Wew.. Ga pernah sesemangat ini naik gunung. Yang ada bisanya gw melontong dan males suruh jalan cepet. Tapi kali ini seperti ada yang mendorong. Kekuatan yang sebenernya berasal dari sugesti diri gw sendiri. Sebuah pembuktian. Emosi mungkin. Tenaga itu begitu besar.

pos tiga
pos tiga

Pos tiga. Kira-kira setengah jam dari pos 2. Dimana menjadi pos paling bersejarah buat Gambreng. Dengan segala macam dewa keberuntungan yang lagi berpihak ke dia sepetinya, kali ini dia dapet jackpot yang pastinya bikin dia serasa dapet uang kaget. Maksud hati mau pipis di semak-semak yang tersembunyi, baliknya ga cuma pipis, dia ga sengaja nginjek “ranjau” darat tiga huruf. Hihihihihi. Walhasil dia cuma ngumpat-ngumpat diiringi tawa kami yang udah kayak kesetanan ga brenti-brenti.

500 m Ranukumbolo..

Olala. Tanpa berkata apapun, Geri yang jadi kepala barisan langsung aja lari. Tak peduli kaki uda kram akut, gw, Isma, Nest, dan Gambreng pun ikut lari. Ketika tak sadar gw nengok bagian kiri, padang teletubbies yang begitu luas dan yang paling istimewa tentunya danau jernih yang memantulkan bukit-bukit teletubbies di sekitarnya ,nampak seperti cermin raksasa di tengah hutan. Sadis. Tidak bisa berkata apa-apa. Cuma bisa nganga mangap. Kayaknya kosakata yang gw inget waktu itu cuma “Subhanallah…”.

Ranukumbolo begitu anggun. Indah. Angkuh. Dan mistis.Tenang, tapi membuat hati setiap yang melihat bergelora. Mungkin akan cocok bagi yang sedang patah hati atau bahkan jatuh cinta ke tempat itu. Setiap sudutnya bisa jadi inspirasi. Rasanya damai. Menghisap setiap derita dan kesedihan.

ranukumbolo
ranukumbolo
ranukumbolo lagi
ranukumbolo lagi

Dasar katrok. Tak tahan melihat keindahan Ranomumbolo dan sayang untuk dilewatkan bagi yang suka pamer foto di fesbuk. Akhirnya ketika menuruni bukit menuju Ranukumbolo seakan-akan ada soundtrack yang menyambut kita datang. Hm… kayaknya Kuch Kuch Hota hai deh waktu itu. Haiya!! India lagi kan…. Yang jelas India kali ini ga banyak bulunya. Hehe. Hamparan bunga beraneka warna menambah romantis suasana. Ingin rasanya segera berlari-lari layaknya artis India. Tapi… setelah melihat satu-satunya cowok yang sampe duluan adalah Gambreng, gw serta merta hilang napsu dan mengurungkan niat. Huh!! Coba Nicholas Saputra!!

Dan akhirnya sesi foto-foto dimulai. Mulai dari yang masal sampe personal. Mulai yang dari pose standar sampe yang pose majalah FHM. Mulai dari yang pake kerir sampe yang pake kacamata pantai (untung bukan two pieces). Mulai dari yang sikap tegap, sampai yang sikap kayang. Yang pasti kita Taking picture till death. Dari yang kamera HP sampe yang DSLR. Puas rasanya….

trio macan
trio macan

Melepas lelah sambil memanjakan mata dengan indahnya Ranukumbolo. Bunga berwarna-warni seakan-akan ikut bergembira, kecuali kalo ga sengaja keinjek Gambreng, gara-gara nginjek tokai di pos tiga.Perut kerocongan. Maka sangat manusiawi kalo kita akhirnya memilih untuk memasak, bukan show sirkus di Ranukumbolo. Sayup sop. Hmmm…. Yummy…Untunglah kali ini gw belanja “lumayan” tepat sasaran.

Awan gelap menggantung rendah. Hujan pun perlahan membasahi bumi. Geri sebagai ketua tim akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan pukul 1 siang meskipun hujan turun. Kita sudah siap dengan raincoat masing-masing. Beberapa memakai ponco dan salah satunya sang ketua tim memakai ponco baru berwarna biru menyala hasil sabotase dari si reptile. Ponconya kepanjangan ketika dipakai olenya. Nampaklah ia kayak kluk kluk klan dengan jubah kebesaran. Hm… Bukan… dia lebih mirip lemper kecemplung cat warna biru… Hehehehe.
***
Tanjakan Cinta – Oro-oro Ombo

tanjakan cinta
tanjakan cinta

Langit begitu gelap. Hujan masih turun meski hanya gerimis. Tanjakan diantara dua bukit yang membentuk seperti hati yang retak itu begitu menggoda. Tanjakan Cinta namanya. Sesaat tidak ada yang mau memulai. Mungkin mitosnya begitu kuat menggelitik iman kami untuk menjadi percaya tahyul. Gw pun sempet tertegun sesaat. Bukan apa-apa. Gw cuma masih bingung menentukan siapa yang bakal gw pikirin pas naek ntar. Pengen rasanya membayangkan Nicholas Saputra, Vin Dissel, ato Jensen Ackless. Hehe.. Ngimpi aja kagak pernah ketemu mreka. Akhirnya gw memutuskan untuk just go on. Sebenernya sih yang gw takutin kalo pas naek ntar gw justru kebayang-bayang sama Omas ato Mpok Nori. Hadeu… Berabe deh gw. Musti diperiksa kayaknya kejiwaan gw ato parahnya bisa kena cap pantat yang sama ama Nest dan Geri. MaiGosh!!!

Ternyata tanjakan cinta tak “seramah” namanya. mungkin gw lebih setuju kalo itu tanjakan namanya tanjakan setan. Urghhhh… Gw pikir lumayan landai. Taunya…. Gw Cuma bisa megap-megap sambil berusaha tetep focus dengan pikiran gw dan mitos itu… Dan orang itu ternyata…. Ahahahaha… Yang gw pikirin sama sekali ga pernah ada hubungannya sama gw. Dan terpaksa harus gw skip supaya tidak menimbulkan kontroversi, dekstruksi, dilatasi, dan aborsi. Sebut saja namanya Sri (Ups.. itu nama samaran Isma.. Kikikikik). Bukan… sebut saja namanya Mawar, tapi cowok lohhhhhhhhhhh!!!!!! Fiuh lega… Setidaknya itu jadi bukti kalo gw ga harus ganti kelamin.

Terus berjalan tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan orang yang kita suka.

Sampe juga di atas. Paru-paru gw serasa mau meledak. Khatam tanjakan cinta dengan sukses ditambah dengan beban di punggung yang menghimpit. Lengkap sudah. Idung gw kembang kempis kayak pantat ayam mau bertelor. Entahlah mitos itu. Gwpun ga terlalu memikirkannya lagi.

tanjakan cinta versi komplit
tanjakan cinta versi komplit

Hamparan bunga berwarna kuning begitu luas tampak dari atas. Melambai-lambai tertiup angin ke satu arah yang sama (ya iyalah… kalo beda arah mah namanya angin bohorok!!). Oro-oro Ombo. Sangat cantik ketika kita datang pas musim hujan seperti ini. Semeru memang istimewa. Gw pikir awalnya gw bakal mendaki gunung dengan hutan hujan tropis yang rapat pohonnya, lembab, dan tak ada sinar matahari. Ternyata tidak. Berbagai macam ekosistem (halah apa sih istilahnya, mikir 20 menit masih lupa istilahnya) bisa kita temui meski tak selengkap di Rinjani. Jalan setapaknya jelas. Ada beberapa jalur, tapi berujung sama ke Cemoro Kandang.
***
Cemoro Kandang – Kalimati
Perasaan was-was dan khawatir ketika rombongan mulai memasuki area Cemoro Kandang. “Gerbang”-nya adalah pohon besar yang telah tumbang dengan tulisan-tulisan korban vandalisme dari pendaki yang tidak bertanggungjawab. Teringat cerita di 5 cm. Genta pernah tersesat sehari semalam di daerah ini. Memang pohon-pohonnya ga terlalu lebat si… Cuma banyak jalan setapaknya yang mungkin bikin bingung. Tapi setelah melihat bunga-bunga yang bermekaran dimana-mana, suasana hati ikut berbunga-bunga. Serasa terbang melewati bunga-bunga dengan gaun yang berkibar-kibar (emangnya iklan pewangi baju).

taman cemoro kandang
taman cemoro kandang

Semakin lama jalan mulai menanjak. Tidak terlalu terjal. Rombongan mulai terpisah lagi. Gw lagi-lagi di garda depan (pamer). Hujan belum juga berhenti menambah syahdu suasana. Vegetasi (nah ini dia diksi yang gw Tcari daritadi) mulai berubah. Pohon cemara digantikan perdu dan rumput-rumput setinggi lutut. Tanah berganti menjadi pasir berwarna hitam. Kayak isi bakpia kumbu hitam kata Gambreng. Gw ga tau emang dia serius ngomongnya ato emang lagi laper. Sulit membedakan dengan kondisi yang udah lemah lunglai karna berjalan ga brenti selama 2 jam-an (bukan 2 jaman loh). Kabut mulai tersibak. Dan…Tarraaaaaa…. Puncak Mahameru terlihat sangat jelas dari Jambangan. Tegar. Angkuh. Dan menantang tiap yangmelihat untuk mendakinya.

Dengan kondisi yang memprihatinkan, kerir yang superdupergede (tapi belum tentu berbanding lurus sama beratnya), dan raincoat Jack wolfskin barunya yang sama persis sama punya Hatta dengan ukuran sedikit kegedean, L women series, Gambreng Sembari menjulur-julurkan lidahnya entah kepanasan, kehausan, ato kena rabies, membuat mental kami sedikit drop dengan mengatakan,”Ya ampyuuunnnn ciinnn, Kok rambut eke jadi lepek gini sih cuiiinnnn!!!”…Hm… Tunggu-tunggu… Bukan itu… Maap salah memori. Yang bener dia bilang, “Haduuu… Perasaan uda jalan jauh deh… Kok Semeru masih keliatan kayak gunung yaaaa… “ Ya iyalah gunung, sapa bilang itu kandangg kuda.. Gw cukup ngerti maksudnya kalo Gambreng ngrasa bahkan belum sampai di kaki gunungnya padahal seharian uda jalan kaki jauh. Tapi hasrat justru smakin besar untuk meraih puncaknya.

Rumput mulai rendah. Padang terhampar luas ketika kami mulai menapaki hamparan rumput. Bau hutan tropis yang lembab mulai menyerang. Hujan masih belum brenti. Akhirnya rombongan garda depan memutuskan untuk berhenti sejenak sambil menunggu yang lain. Lapar. Lelah. Dan kedinginan. Inilah Kalimati. Tidak seangker namanya. Pemandangan disini sama bagusnya dengan pemandangan-pemandangan sebelumnya. Disana kita ketemu anak-anak yang kita temui di kereta tempo hari.

Setengah jam kemudian Geri dkk menyusul. Tak seperti biasanya, si penakluk gunung ini tidak segarang sebelum-sebelumnya. Berjalan lemah lunglai. Terseok-seok. Ternyata dia jatuh beberapa kali diperjalanan. Ponco biru menyalanyalah yang jadi kambing hitam. Jadi salah siapa? Ponco yang kepanjangan, ato orang yang kependekan? Hehehehe…

Akhirnya diputuskan untuk ngecamp di Kalimati. Kondisi personel tidak semua fit. Menghemat tenaga untuk summit attack esok hari. Sebenernya gw agak was-was coz jarak antara Kalimati-puncak lumayan jauh. Tapi toh kalo dipaksain juga ga baik. Walhasil dengan riang gembira kami ngecamp di bawah pohon cemara. Feeling gw si itu campnya Soe Hoek Gie tempo dulu pas dia tewas. Hehehehe. Terlalu terobsesi deh gw…

kalimati
kalimati

Time to Barbeque!!!!!
Yippieeee!!!!
Ayam yang uda kami siapkan sejak di Tumpang udah brisik minta segera dibakar. Ato kitanya yang brisik ya? Lupa gw. Bingung bedain mana suara ayam sama perpaduan suara Geri, Isma, Nest, dan Gambreng.Geblegnya kita ga bawa alat buat bakar ayam. Huff. Bingung nguing-nguing… Dan… Triiinnnggggg (efek ada bohlam di kepala tanda ide brilian muncul). Gw inget kalo di bangunan di kalimati ada yang bikin api gede banget. Akhirnya gw mengutus yang mulia Geri dan Mas Wipy untuk minta tolong nebeng bakar ayam. Tentunya dengan politik “bagi hasil”.

Ketika yang lain masih sibuk ngurusin tenda, masak, packing, bahkan ada yang guling-guling sendiri ga jelas kayak trenggiling, bau sedap yang asalnya dari ayam yang dibakar menggoda penciuman kami untuk senantiasa mengendus asal bau itu. Gambreng (lagi) aja sampe brubah jadi bringas. Liurnya netes-netes. Matanya juling. Lo moron ya mbreng?? Hehe piss…

At least… Time to party!!!!!!
Makan besar!!! Perjalanan melelahkan kami telah terbayar dengan makanan lezat yang telah tersaji. Kalo ga salah ada nasi, capcay, bakso, bakwan, dan ayam bakar. Ssslllluuurrrrpppp!!!!! Yummiieeee!!!!

Jangan kaget kalo tiap naek gunung pulang justru jadi buncit. Uda jadi habbit kalo abis makan langsung ngorok. Badan lelah, perut kenyang. Lengkap sudah. Nikmat Anyiiiikkkkkkkkkk!!!!!!!! Jam 7 akhirnya kita semua sudah bersetubuh dengan sleeping bag masing-masing. Rencana kami akan mulai muncak jam 12 malam. Masing-masing berdoa agar besok hari cerah dan ga hujan. Alam mimpi sudah menjemput. Maka terlelaplah kami dengan mimpi masing-masing.
***
Eniwei…
Gw lagi ga ada inspirasi buat nerusin. Tunggu part 3 nya ya…
Jangan bosen…
KArna kita belum muncak…
JAdi belum klimaks…
Bubyeeeeeee…
ci…luk….ba….
mmmuuuaaacccchhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!

Advertisements

12 thoughts on “mahameru part 2= elegan, menawan, dan ceria^^

  1. wahahaha,,temanya tentang gambreng smua nih, likes this lah
    walaupun keceriaan di dalam cerita blog ini, hanyalah secuil dari sluruh keceriaan yang terjadi sebenarnya tul ngga plak? =)

    fotonya kecil2 amat, jd ga keekspose kan tuh tampang gambreng tuh ky gmna,,kan pstinya orang yg baca blog ini pnasaran sm tampang gw:P

  2. mas eryyyy…
    beberapa foto aku pake fotomu yaaaa
    gapapa kan…
    maaf baru ijin…
    hehehehe

    gambreng,,,,
    uda gw gedein tapi malah ngeblur tuh….
    dudul……

  3. iyaa poto kkcilan..
    pas upload pilih ukuran middle/full size coba yan

    kalo kgedean, buka edit post, kan ada visual ma HTML, pilih yg HtmL, resize ukurannya
    mis.tadinya 500 x 380 jd 250 x 170 smp pas

    [reQ] cerita cikandang!!

  4. cwintaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!
    kamu Lagi POLINGLOP sama Gambreng tah?
    aku JELES!!!!
    huh..yaudah kamu sama gambreng, aku rebut homoan dia, aku sama wapres aja deh…
    *jadi, sms waktu ini “Ma, gambreng biLang pasir semeru kayak bakpia apa?” buat ini tho?? untung aja ingatanku masih Lumayan bisa diandaLkan, Nak…

  5. nest….
    yayayaya
    mana si html???
    aku ga tauuuuu
    masi bingung….

    hm…
    cikandang???
    uda lengkap di milis tuuuuu
    jadi malay euy….
    heheheh

    ma….
    hm…
    yang ada aku jatuh ke sungai bukan jatuh cinta…
    kakakakkak….
    iyaaaaa…
    aku lupa…
    emang short memory banget ni…..

  6. gerie hadirrr…..

    aku ada poto brsama ponco biru menyalaku lho pas nyampe kalimati…
    upload dunk,,,hehe

    iyya,,d kalimati,,sblm makan,,kakiku kram..
    sakitnya bukan maen,,,rasanya mau patah…hiks,,,,T_T
    untung ada minya apa ya -lupa-,,panas bgt tp maknyus…

    sipp,,ke-III dan ke-IV nya ditunggu…

  7. gerie…
    upload di fb blum
    enak via url…

    halah gara2 ga ikhlas yang minjemin ponco itu….

    hehehhe

    Pak doski…
    ayam yang bumbuin bu ruseno…
    kita mah trima jadi aja….

    kalo capcay mah standard…
    hehehe
    tanya chef mail saja…

  8. ‘halah gara2 ga ikhlas yang minjemin ponco itu’

    bukan dipinjemin,,tp dibelikan..
    dan pastinya ikhlas lah,,hehe

    ada kok potonya di fb-ku…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s