euleh…euleh… Cikandang Big Bang!!!!

dada saya mau meledak..
paru-paru sudah mengembang pada batas limit..
nafas putus-putus..
bibir berdarah robek..
lutut memar tak karuan…
matapun terbuka…
tampak aliran deras sungai cikandang di depan mata…
saya terbaring…
setengah terbenam…

“neng…istighfar…”
masih dengan kesadaran penuh….
evakuasi…

***

Saya di sebuah kamar kecil, hangat, dan dengan baju kering yang sangat nyaman. Terdengar riuh suara orang berlogat sunda di luar. Entah apa yang dibicarakan. Tapi dari pintu kamar kulihat tatapan mereka ke arahku dengan penuh iba.

“namanya siapa neng?”
“Rian, ibu?”
“Janjan”

Nama seorang malaikat yang telah diutus Tuhan untuk menolongku dalam tragedi bandang 2 jam yang lalu. Saya ceroboh dan tidak becus. Terpelanting saat “derek” memuntahkan awaknya. Dan hanyut selama sejam… Tujuh kilo.. begitu yang kudengar dari mereka.

Langit gelap. Hujan segera mengguyur bumi. Si pemancing ikan itu duduk di kursi kayu ruang depan. Entah siapa namanya. Hanya pening dan suara berdengung di kepala yang bisa terdengar jelas. Dialah yang menyeretku dari amukan arus sungai Cikandang setelah satu jam aku terombang ambing bandang.

“neng bangun… Sudah ditunggu di luar…”
hatiku sangat senang membayangkan yang menjemputku adalah anak STAPALA atau anak dari MAPALA UI untuk segera dievakuasi dan diberi pengobatan yang layak.
“itu neng tukang ojeknya di luar”
Whatz???
Oke. kali ini aku harus memulai perjalanan panjang lagi. Dan offroad pastinya.
“Lima kilo lah neng kira-kira. Sudah kuat kan? Kalo ga kuat mending nginep disini semalem dulu gapapa. Temen-temennya suda nunggu di kantor polisi.” kata suami Bu Janjan.

Agak sedikit shock jarak versi orang kampung yang katanya “lima kilo” itu. Sudah bisa dipastikan akan menjadi lima kilo plus-plus.

Hujan masih cukup deras ketika aku dan Pak siapa yang menanyakan namanya pun aku tak sempat. Menyesal rasanya saat ini tidak tau nama salah satu penyelamatku yang telah membawaku ke “kota” melewati medan yang sangat berat. Gas sepeda motor Honda supra X tidak cukup kuat untuk melewati tanjakan yang berbatu licin dan dialiri air deras. Seperti air terjun mini. Dan bapak itu dengan gigih melewatinya dengan dibantu kayuhan kakinya yang bertelanjang kaki. Beberapa kali kami hampir terpeleset. Tapi untungnya si Bapak cukup cadas untuk mengendarai motor bebek di medan offroad itu.

Mobil polisi. Dan semuanya begitu cepat sampai-sampai saya tak sempat mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang sudah luarbiasa berkorban menolong saya. Cuma ingin segera bertemu anak-anak. Dan Kehed pun sudah duduk manis di dalam mobil sembari melempar senyum. Syukurlah. Selamat….
***

Saya berbaring. Di stetoskop oleh seorang wanita muda. Geulis. Dengan logat sunda membicarakan kronologis kecelakaan yang menimpaku seakan-akan dia melihatnya langsung.

Bopil pun datang. Orang-orang yang menyemut di sekitarku seakan-akan menyingkir memberi ruang privat diantara kami. Sangat lega ketika akhirnya aku melihat salah satu anak STAPALA. Entahlah… Aku mulai bercerita dengan semangat kejadian yang menimpaku tanpa ada sensor sedikitpun dimana aku pikir dia bakal bia menyimpannya. Tapi ternyata sia-sia. Toh anak-anak Cikandang pada tau “rahasia”ku itu. Huh!!!

Komeng datang memelukku sambil minta maaf. Ada Qun2 juga. Aku cuma bisa tersenyum samar. Semakin gembira. Hanya saja aku pasti tidak boleh melompat kegirangan melihat wajah mereka. Aliran darah hangat terasa saat mereka datang menghampiri. Saya sangat lega…

***
“Ga keliatan ya teh pembuluh darahnya…”
Entahlah… Dua kali tanganku ditusuk jarum infus tapi darah seakan beku. Tak ada aliran. Mati rasa…

Ada bapak-bapak dengan raut muka kebapakkan menemaniku sejak aku datang di puskesmas dua jam lalu. Teringat anak perempuannya. Begitu yang dia bilang padaku. Uuk. begitu dia dipanggil orang-orang kampung. Dialah orang yang dituakan di kampung itu.

Ternyata saya tak jadi diinfus. Untunglah… Tidak suka jarum…

Sejenak flashback kejadian setengah hari yang lalu…
***

“Plak…plak…bluppp..blupp… Dayung hanyut!!!!” Teriak Kehed sambil menarik-narik lenganku sesaat setelah aku bisa melihat cahaya lagi setelah selama beberapa detik terkurung di bawah perahu…
“Lepasin hed… Biarin… Menepi…!!” Teriakku mencoba menandingi gemuruh suara air Cikandang dengan sedikit tersengal berusaha memasukkan udara ke dalam rongga paru-paru.

Terlambat. Aku sudah terlanjur kembali ke tengah sungai dan terbawa arus yang begitu deras. Yang aku pikirkan hanya berusaha renang menepi. Sekuat tenaga kugerakkan tanganku membentuk gerakan berenang gaya dada, satu-satunya gaya renang yang aku kuasai. Gagal. Kekuatanku tidak cukup bisa menandingi derasnya aliran Cikandang. Akhirnya aku memutuskan untuk renang jeram.

Standing wave di Cikandang sungguh luar biasa dan mengasyikkan jika kita melewatinya dengan perahu saat itu. Lain cerita kalau melewatinya dengan tangan kosong. Hanya berbekal pelampung dan helm. Terombang-ambing dalam standing wave yang tingginya sekitar 2 meter-an dan disambut oleh hole yang membuat badan berputar-putar di dalam air selama beberapa detik sebelum akhirnya muncul lagi di sisi lain arah sungai. Begitu berkali-kali. Entah berapa kali badanku terhantam tebing, batu dan sekali kurasakan tabarakan hebat antara kepalaku dengan tebing di belokan sungai. Bang!!. Seketika bibirku robek. berusaha orientasi medan. Berharap ada orang di pinggir sungai. Ada!! Beberapa perahu karet beserta awaknya sedang meng-edis tepi kali. Aku berteriak sekuat tenaga. Dan… lewat… Tetap bergumul dengan arus liar….

Ingatan mulai berputar… Tenaga terkuras habis. Lemas. DAn masih dipermainkan jeram cikandang. Utang, janji, dosa, cita-cita, masa kecil, Ibu, Bapak, Kakak… semua berputar cepat membentuk kaleidoskop. Dan aku mulai lelah. Hampir menyerah. Dan bayangan itu muncul. Sosok wanita setengah baya. Dengan beberapa kerutan di wajahnya. Badannya yang ringkih dan sangat kukenal. Ibu. Iya… Aku tak boleh menyerah.. Tak kubiarkan ibu harus kehilangan satu nyawa lagi setelah kakak sulungku, Ayah, Nenek, dan kemudian aku… Dan akupun terus bertahan.. Untuk Ibu. Untuk tidak menambah kerutan dalam baru di dahinya. Menghitamkan kembali lingkar matanya karena terlalu banyak air mata yang keluar… Sungguh… Masih banyak hal yang ingin kulakukan untuk Ibu…

Dan Allah pun ternyata belum memerintahkan Izroil untuk berdinas. Si pemancing ikan itu berlari… Mendekat… dan menyeretku menepi… Evakuasi!!!

***

Mom’s smiles can brighten any moment,
Mom’s hugs put joy in all our days,
Mom’s love will stay with us forever
and touch our lives in precious ways…

The values you’ve taught,
the care you’ve given,
and the wonderful love you’ve shown,
have enriched my life
in more ways than I can count.

derek, helm, dan pelampung dewa
derek, helm, dan pelampung dewa
cikandang sebelum kejadian
cikandang sebelum kejadian
Advertisements

13 thoughts on “euleh…euleh… Cikandang Big Bang!!!!

  1. fiuh.. keren yan
    1 jam tu lamaa bgt buat ukuran hanyut, w o w..
    lho pertamax?! yg lain manaaa??

    btw, kata ganti “aku/ku” dan “saya” gak enak kalo dipake barengan yan,
    pilih salah satu aja
    *hehe sotoy

  2. wuih cerita sang survivor..
    terakhir ada puisi untuk nyokap euy, btw dah ngasih tau nyokap blum tuh??siaga banjir kok sampe hanyut gitu… ckckckck 😛

  3. wah keren yan!!
    aku juga ngerasain tergulung-gulung holes,dah pasrah aj waktu ntu,tapi the power of GOD n doa dari Ortu n temen2 yg membuatKu masih bertahan mpe akhir,,bersyukur bangettt….

  4. Ckckck
    Meski sdh crita live,,ttp asyik dihayati lwt tulisan..
    Gak kapok kan yan? Hehe
    Smangat nak..
    *huu,yg ttg ibu,bkin aq terharu

  5. @a’ qun2=hiyaaaaaaakkkkkkkkkkzzz
    rahasia dunk!!!

    tolong jangn disebarluaskan…
    aib!!!!!

    @nest=oke2… segera diedit…
    nyaris mati…
    inget masi utang kamu…

    @gambreng=who’s the next??? haha

    @kehed=yayayaya…
    lucky!!!
    mari kita bersyukur….

    @gerie=raft is half of my life….
    ga kapok donk!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s