Dia Ibuku

Nok, piye kalo kamu tak tinggalin..”

Hm..

Aku cuma bisa tersenyum samar, tidak tau apa yang harus kukatakan. Seakan-akan semua kata dan ucapan tercekat di tenggorokan.

Ibu. Malam ini aku tidur di sampingnya seperti malam biasanya kalau aku sedang berada di rumah. Kutatap Ibuku yang sudah terlelap beberapa jam yang lalu. Terakhir kali aku masih bersama di rumah dengan Ibu sudah 7 tahun yang lalu. Lulus SMP aku harus pergi meninggalkan rumah. Hari ini, kudapati Ibuku yang sudah mulai merapuh, kerut-kerut usia sudah menghiasi wajahnya yang dulu ayu. Dengan kulitnya yang gelap kecoklatan, kulhat tangan dengan kulit yang tidak sekencang dulu. Entah sudah berapa bajuku yang telah dicucinya. Pati tak terhitung. Aku berusaha mengingat berapa kali aku sudah bertengkar dengannya, berdebat atas nama “kemerdekaan bertualang”. Mungkin saja saat itulah aku yang telah menambah jumlah keriput di dahinya. Saat aku naik gunung, ataupun arung jeram, entah berapa banyak namaku disebut dalam doanya agar aku selamat. Agar dia bisa kembali melihatku lagi suatu saat.

Ibu bukanlah sosok yang romantis ataupun ekspresif. Pengalaman hiduplah yang telah membuatnya menjadi pribadi yang keras. Aku sangat malu saat aku menjadi lemah hanya gara-gara putus dengan pacar. Ini belum apa-apa, mungkin itu dulu yang ingin Ibu katakan. Tapi Ibu bukanlah orang yang begitu saja akan memperolokku. Beliau membiarkanku menyelesaikan semuanya, sendiri. Karna ibu tidak akan pernah membiarkanku menjadi lemah dan tergantung dengan orang lain.

Iya, dia ibuku…
Seorang guru SD yang dulu selalu memboncengkanku naik sepeda ketika aku masih sekolah dasar. Sampai akhirnya dokter memvonis radang di rahimnya sehingga tidak boleh lagi bekerja terlalu berat.

Iya, itu Ibuku..
Yang harus mau merelakan anak sulungnya diambil Tuhan 15 tahun yang lalu karena tumor otak..

Iya, dialah Ibuku yang dengan kebesaran hati memutuskan untuk tetap sendiri mengasuh kedua anak perempuannya setelah bapak meninggal 8 tahun lalu karena hepatitis. Selama bapak sakit, tak sekalipun ibu beranjak dari smpingnya. Bahkan saat pemakamannya sekalipun, ibulah yang menuntun, memandikan, menyolatkan, dan ikut mengantar jenazah ke liang kubur.

Iya, itu ibuku..
Yang setiap saat mengingatkanku untuk selalu bersyukur dan tidak meninggalkan solat.

Iya, itu ibuku..
Yang dengan kebesaran hati memutuskan untuk berhijab meskipun dicaci oleh saudara sendiri….

Iya dia ibuku..
Dengan segala usaha dan kerelaannya mempertahankanku untuk tetap bisa lahir walaupun dokter telah memvonis untuk digugurkan.

Iya, dia ibuku..
Tetap bertahan dan kembali membangun rumah di sisa reruntuhan gempa bantul 2006 lalu.

Iya, dia ibuku…yang selalu menangis di tiap doanya, khusyuk di tiap solatnya..

Sampai akhirnya beliau bilang, “saya puas” setelah wisudaku…

Iya, aku harap aku bisa berikan yang terbaik, bisa menjadi anak soleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya,
Semoga Allah berikan bahagia dan surga untukmu..

Trimakasih ibu..
Trimakasih Allah, kau berikan Ibu yang luar biasa untukku..

:))))

Advertisements

2 thoughts on “Dia Ibuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s