sedikit

Suara Kurt Cobain tak kenal ampun mengacaukan segala mood romantic sentimentil yang baru saja mengetuk-ngetuk pintu emosional. Seandainya itu john lenon dengan kacamata cupu tapi ga culun bersendawa, tidak akan mampu mengeroposkan satu titik sensitive perempuan. Aku bukan marah, hanya sedikit melankolis dekstruktif atas semua yang dinamakan perasaan. Sama halnya dengan besi terpercik air garam dan mulai terkorosi. Berkarat menunggu untuk menjadi debu dan kemudian hilang. Iya aku selalu kawatir hal itu, semakin hari menggerogoti layaknya kanker ganas yang tinggal menunggu ajal inangnya. Hanya saja aku agaknya sedikit lelah untuk menunggu alat kejut jantung menggerayangi tubuhku. Aku koma.

Bukan. Bukan karna tidak ada yang berusaha. Hanya saja aku yang menolak. Aku sadar aku bukan lelah menunggu, tapi bernegosiasi mencari waktu yang tepat dengan limit tak terbatas. Kaleidoskop tak pernah berhenti untuk membuat rangkaian yang terkadang membuatku nyaman untuk berada di posisi ini. karna hanya bagian antagonis yang mengulas. entah dimana peran protagonis. lenyap tersapu menjadi serpihan.

Persetan masalah euthanasia. Omong kosong tak pakai otak cuma modal sok tau. Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. Aku mau sembuh. Sudah.

Leukosit yang semakin posesif membentuk resisten. Penolakan atas virus dan bakteri tak terkecuali nutrisi. Protektif atau skeptis. Ah sama saja. Aku cuma mau sembuh. Itu saja.

Memaafkan itu susah. Iya penyakit. Dan aku masih mengusahakan. Sedikit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s