menunggu sang utusan

dialah sang utusan.

langkahnya berirama menembus kabut, satu-satu. pelan dan terarah meski tanpa aturan main yang jelas. tidak jelas setidaknya untuk kekosongan dan kebohongan akan iman yang seakan-akan menggelayut mesra layaknya pelacur tengah malam. cinta cuma satu malam.

nafasnya memburu dan beraturan. pasti seakan tak akan pernah lagi tersisa oksigen pikodetik berikutnya. mengerang memasung muslihat ruang kesadaran. seandainya bunglon, dia sudah memantaskan warna tubuhnya sama dengan apa yang kulit arinya tersentuh.

emosinya liar menggelinjang. menggariskan raut kerut-kerut yang tak berkesudahan. menggelitik menautkan hasrat dalam pelukan dan kecupan. selendangnya berpagut sendu menyisakan rintik-rintik hangat gerimis sore hari di tanah merah.

sangkurnya tergenggam kencang dan pada dimensi yang lain senapannya teracung angkuh. gerakannya tak akan pernah keliru, menunggu rem tangan dan koplingnya dimainkan sang tuan. iramanya teratur meski diagonalnya berkelijatan.

disini. pada setiap ruh yang menumpang gumpalan daging beruntai darah menunggu. sang utusan memilihnya atas perintah sang tuan untuk disangkarkan kembali kepada porsi yang seharusnya. perlahan. misteri. dan pasti. waktu itu akan datang. tak ada kawan ataupun musuh.

sang utusan itu bernama kematian.

tigajuniduaribusebelas,¬†tribute to Jayanti Purnasiwi…

kematianmu bukan untuk ditangisi tapi diteladani. trimakasih telah membuka mata-mata ruh dalam jasad hina kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s