the judgment

LULUS

super late posting..

but well, karena ini merupakan salah satu the greatest dot of my life, wajib untuk dipost berhubung kuota memori ingatan pake paket gaul, alias irit.

5 Juli 2013

pukul 9.15 aku mematutkan diri di depan cermin, memantas-mantaskan busana yang hampir serba hitam.

pukul 9.30 aku menghampiri meja kerja setengah berbisik kepada kawan, “aku berangkat 5 menit lagi naik kereta pukul sepuluh lima belas dari juanda”. dia terkikik sebentar kemudian berkata “goodluck! perlu aku bawa bunga? atau coklat?”. “heh! kamu datang saja sudah lebih dari dua kontainer mawar dan seratus ton coklat” sahutku sembari memasang mimik sok serius.

pukul 10.20 kereta tiba agak terlambat menyusuri peron bercat pucat. sebuah headset biru dongker hasil merampok pacar telah bertengger di telinga. setengah berloncat aku masuk gerbong kusus wanita dan memutar everything at once sembari berharap bahwa momen kali ini cukup sekali dan tidak ada siaran ulang.

pukul 11.10 kereta berhenti tepat di peron setengah berderit. setengah berjengit aku keluar dari pintu kereta menuju tap kartu keluar. sekelumit doa bersenandung dari mulutku yang komat kamit. masih sempat aku membeli sekotak tisu dari bapak-bapak bertongkat kayu sebelum bus kuning menghampiri di sela rintik hujan diselingi riuh angin.

pukul 12.00 dua jam lagi sebelum giliranku. menuju mushola dua puluh depa dari ruang penentuan. berdoa dan berusaha fokus , take it easy rian, everything gonna be alright. sembari meringkuk mendekati colokan dinding dekat ruang dosen, hp dan laptop silih berganti mengisi kekosongan masing-masing. beberapa pesan elektronik dan bbm bergantian mendoakan. sekedar minta tips. atau tanya ini itu. tidak ada tips, tidak ada yang istimewa. berdoa saja, kataku.

pukul 14.00 sudah tiba namaku pun dipanggil. tiga orang wanita berkerudung berceloteh ceria saling melempar komentar. bu debby fitriasari, dosen pembimbing baik hati, cantik, dan penuh toleran. menyilakan aku menyusun persiapan sembari asik menekuni sekotak nasi padang. bu dyah setianingrum, wanita mungil lincah, energik, dan kritis, dosen ketua penguji dengan atmosfir merah menyala menyeruak membuat gentar. bu ayuningtyas hertianti, hm.. oke, lebih enak memanggilnya dengan sebutan kakak, kakak kelas SMA terpaut tujuh taun dengan segudang kegiatan inspiratif, semangat meluap-luap dan sejuta alasan untuk membuatmu kagum padanya. dua belas menit waktu tebuang untuk mengatur komputer. terbuang percuma. dan akhirnya meminjam punya mas imam, giliran setalahku. dan sidang pun dimulai…

pukul 16.00 aku keluar ruang sidang dengan perasaan lega luar biasa. sesungguhnya itu belum kulminasi sampai aku dinyatakan lulus. tapi setidaknya segelintir ikatan telah terurai. tiga menit setelahnya namaku kembali dipanggil dan dinyatakan LULUS. Alhamdulillah..

lima juli duaributigabelas..

resmi sebagai sarjana ekonomi universitas indonesia..

All I wanna be, all I wanna be, oh
All I wanna be is everything

~lenka

Advertisements

2 thoughts on “the judgment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s