Friday 14th

IMG_16927309357612

Every newly mom has their own drama… (rian -2014)

Hari itu nurani saya bergumul hebat, antara menjadi anak yang berbakti, atau menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak saya. Suami saya masih saja terdiam di kursi belakang. Semua mata menatap ke depan tanpa berani berkomentar. Jalanan merayap semakin menambah sesaknya perasaan. Tangisan Keenan yang baru berumur 3 hari masih saja belum usai. Anak saya yang lahir 14 November 2014 pasti sudah sangat kesal punya ibu seperti saya. Saat itu saya bimbang dan masih belum berani memutuskan ketika ibu memaksa saya untuk memberikan susu formula karena Keenan menolak untuk menyusu.

Hati saya hancur dan berkali-kali mengusap air mata. Mulut anakku makin kering dan mulai biru. Dia pasti sudah sangat lapar, sementara perjalanan seakan bertambah panjang ketika tangisan Keenan membuat saya makin pilu.

Ibu saya masih saja bicara susu formula, susu formula, dan susu formula. Ingin rasanya saya bilang “Bu, everything can be handled kok, ga usah kuatir, nanti pumping aja di rumah” Tapi bibir saya pun tak sanggup mengeluarkan satu katapun. Idealisme menjadi ibu baru saya masih pada lampu hijau. Memberikan ASI pada anak saya minimal 2 tahun, sesuai dengan Al-Quran. Apalagi ASI eksklusif 6 bulan pertama, sudah pasti menjadi impian para ibu. Di sisi lain saya juga tidak mau menyakiti hati ibu saya, dengan menggurui idealisme yang pasti akan membuat beliau semakin marah.

“Sudahlah ga usah sok idealis, ini anakmu ga kamu kasih makan, kasian kelaparan.” Itu jawaban yang saya terima ketika saya dengan sangat halus menolak untuk memberinya susu formula. Akhirnya susu formula pun terbeli. Di sisi lain suami saya mulai menenangkan saya dan meminta saya menyiapkan alat pumping untuk disterilkan. Dia terus menyemangati bahwa anak kami pasti ASI eksklusif. Disisi lain, ibu saya sudah mulai memanaskan air untuk membuat susu formula. Mulailah saya “kejar-kejaran” dengan ibu saya. Untung sebelumnya saya mendapatkan breastpump gratis dari acara 30 tahun Philips Avent, sehingga alat pumping sudah tersedia. Di samping itu, selepas acara 30 Tahun Phillips Avent, saya sempat berbelanja botol avent sehingga perlengkapan yang saya perlukan hari itu semua tersedia.

Air panas untuk susu formula telah siap bersamaan dengan selesainya suami saya mensterilkan breastpump. Saya mulai pumping sambil berurai air mata, sementara susu formula telah siap dibuat. Namun karena suhu air terlalu panas, tidak bisa segera diberikan kepada anak kami. Saat itulah keajaiban sepertinya mendukung kami untuk memberikan ASI eksklusif. Alhamdulillah meskipun baru 3 hari melahirkan, ASI saya telah keluar. Hasil pumping pertama saya baru 30 ml dan langsung diberikan kepada anak kami yang segera menyambut dengan suka cita. Luar biasa rasanya ketika akhirnya anak saya tidak perlu mengecap susu formula terlalu dini.

Proses melahirkan Keenan sendiri tidak se drama memberinya ASI eksklusif. Cerita melahirkan saya mungkin termasuk yang biasa saja, tidak spesial, bahkan tidak ada bumbu sama sekali. Tanggal 11 November 2014 pukul 19.00 adalah malam dimana saya dinyatakan harus operasi sectio untuk melahirkan makhluk mungil yang selama 40 minggu lebih 2 hari telah meringkuk di dalam rahim saya. Hati saya hancur, ingin menangis selama dalam perjalanan pulang. Suami hanya bisa mengelus-elus punggung saya. Hey, melahirkan melalui operasi bukankah enak, tidak perlu ada drama kontraksi atau tambahan nikmatnya induksi? Saya tau mungkin itu yang ada di benak orang-orang jika mengetahui kondisi saya. Tapi hati saya hancur karena keinginan kuat saya untuk dapat melahirkan normal pupus di saat usia kandungan sudah melewati due date. Posisi bayi saya melintang dan tidak masuk panggul, lagipula tak ada kontraksi sama sekali. Dokter tidak mau mengambil resiko untuk induksi, dan menyarankan untuk operasi. Berkali-kali saya mengusap mata saya sembari pikiran menerawang menanyakan pertanyaan yang bodoh “surga masih di telapak kaki ibu ga ya kalo operasi?” hahaha.

Malam harinya saya berunding dengan suami dan keluarga. Akhirnya keputusan untuk melahirkan dengan sectio jatuh pada hari Jumat tanggal 14 November 2014. Besoknya saya mulai malas melakukan aktivitas rutin yang saya lakukan sebelum vonis sectio keluar dari mulut dokter kandungan saya, yaitu jalan kaki. Saya tak lagi latian senam hamil lagi, saya tak lagi melakukan self hypnobirthing yang biasa saya lakukan sebangun dari tidur, saya mulai makan asal-asalan, toh operasi ini, pikir saya, bayi ukuran berapapun tak kan ada kesulitan. Hmm… padahal sebenarnya semua bukannya sudah ada jalannya ya, ini memang kelakuan emak-emak yang sedang kecewa dan kurang bersyukur hehehe.

20141114_094822

Hari yang ditentukan tiba. Saat itu di rumah sakit kami hanya berdua. Saya dan suami masih sempat selfie-selfie di ruang rawat inap. No need to worry lah untuk operasi nanti, pikir saya waktu itu. Well, selengekan sekali yaa sayaaa.. menyepelekan operasi yang ternyata tak kalah ehem ehem juga. Tidak ada orang tua, sanak saudara, dan kerabat karena memang kami tidak menginformasikan kepada siapapun kecuali orang tua dan saudara kandung kalau hari itu saya operasi. Justru saat itulah perasaan intim itu mulai terbangun *ciee bahasanya. Saat detik-detik menjelang tangan saya ditusuk oleh selang infus untuk pertama kali, baju saya digantikan dengan pakaian operasi berwarna hijau lengkap dengan shower cap, serta tubuh saya yang didorong dengan kursi roda menuju ruang operasi, suami sayalah yang setia menggenggam tangan sambil membacakan doa-doa.

20141114_154820 20141114_155230

Pintu ruang operasi terbuka, dan beberapa pasang mata memandang ke arah saya. Semua berlangsung sangat cepat, sampai-sampai saya hanya sempat mengecup tangan suami tanpa bicara sepatah katapun. Sempat terpikir what my last word ya untuk suami.. halah.. Tapi kemudian saya berusaha berpikir positif. This is our turn my baby, kita bertemu sebentar lagi sayang.

Ruang operasi terbagi menjadi dua celah. Keduanya sedang digunakan untuk operasi. Salah satunya adalah untuk ruang operasi saya nanti. Saya sempat melewati salah satu celah yang sedang berlangsung operasi. Tuhan, darah dimana-mana. Kain hijau menumpuk bersimbah cairan merah marun. Bunyi mesin yang selama ini saya dengar hanya dari sinetron terdengar gaduh. Obrolan para dokter berpakaian hijau bermasker sahut-menyahut. Tidak ada ketegangan di antara mereka, justru saya sendiri yang semakin tegang hehe. Ruang operasi dingin luar biasa. Saya tau itu dari beberapa blog ibu-ibu yang pernah melahirkan sectio. Dan ternyata memang sangat dingin, sedingin suasana hati saat itu, halaaah.. hahaha.

Tujuh lapisan perut saya telah disayat oleh pisau bedah, yang tak lama kemudian tepat pukul 17.25, terdengar tangisan paling merdu yang pernah saya dengar. Seorang bayi laki-laki seberat 3,4 kilo dengan panjang 49 cm telah lahir. Senang, terharu, dan rasa tidak sabar campur aduk menjadi satu. Pikiran saya kembali menerawang, apakah anak saya tadi sehat? Normal? Sempurna? Jari-jarinya lengkap? Dan lain-lain…

DCIM100GOPRO

Malam hari selepas saya operasi, menjadi hari bersejarah dimana Keenan sudah diperbolehkan rooming in dengan kami. Lagi-lagi kami hanya berdua, dan seketika merasa menjadi orang tua paling bodoh di dunia karena tidak tau cara memberikan treatment kepada bayi yang baru lahir. Malam itu Keenan beberapa kali menangis kencang, dan beebrapa kali itu pula kami memanggil suster jaga.. hahaha.. Suami saya menghandle mulai dari menggendong, meninabobokan, sampai dia sendiri tertidur saat mencoba menenangkan Keenan. Terharu rasanya.. Sementara saya masih terkapar dengan sukses di tempat tidur. Disamping mengurus bayi kami, masih ada lagi satu “bayi” besar yaitu saya yang masih belum bisa makan sendiri dan cengar-cengir menahan sakit saat perlahan bius mulai hilang. Suami saya telaten menyuapi sambil sesekali memeluk saya setiap kali saya menarik napas panjang kesakitan. Nah, semua treatment “sweet” dari suami saya inilah yang nantinya bakal jadi cerita baby blues saya selanjutya. Hahaha drama sekali yaaaa…

IMG_16988912262887

Baby blues ini akan saya bahas di postingan saya selanjutnya. Pada intinya, dimana hari-hari pertama setelah Keenan pulang ke rumah dari rumah sakit, justru menjadi awal perjalanan baru yang berat sekaligus menguras air mata setelah tragedi ASI di awal postingan ini. Saya menjadi sering menangis karena berbagai macam pikiran ketakutan dan paranoid. Takut anak sakit, takut tidak mampu memberi ASI yang cukup, dan yang paling mengesalkan adalah, ditinggal suami yang harus bekerja kembali di Aceh. Mata saya sampai bengkak setiap hari, padahal im not thah type loh, menjadi orang yang cengeng tanpa alasan yang ga jelas *cie membela diri.. Huhuhu.. baby blues go away please!!

Dan sampai saat ini Keenan masih terus belajar untuk menyusu secara langsung dengan posisi latch on yang paling nyaman. Terkadang mau, terkadang masih menolak. Botol dan breastpump Philips Avent pun saat ini menjadi “peralatan tempur” paling setia. Thank you sooo much Philips Avent…

Welcome my Friday 14th, kesayangan Ibu, Little K.. Ayo nak kita sama sama berjuang untuk ASI!

Screenshot_2014-12-08-22-45-58

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s