komit yuk!

Beberapa waktu lalu saya beruntung dapat kesempatan untuk mengikuti seminar parenting bersama Ratih Ibrahim, seorang ibu 2 anak sekaligus direktur utama di personal growth, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang psikolog. Ketahuilah bahwa Embak satu ini sungguh seorang hot mama versi saya (outsider sih ya, semoga insidernya pun begitu) hihi. Dari awal melihat dia mingle bersama ibu-ibu darma wanita yang “ehem” pun udah jatuh cinta, ga gengsi, bahkan ga malu nyopot high heelsnya yang setinggi langit supaya pas foto enggak njomplang karna emang doi punya tinggi badan yang agak di atas rata-rata orang indonesia. Rambutnya cepak rapi gaul abis. Bajunya casual tapi tetap sedap dipandang mata. Pas begitu materi dimulai, langsung zzrrt.. saya merasa tersetrum dan ga bisa kedip saking terpananya *lebey dikit.

Materi ketika itu yang dibahas adalah tentang menghadapi dunia digital bagi anak-anak. Tidak dipungkiri bahwa anak-anak kita hidup di dunia netizen, dimana semua serba terkoneksi digital, internet, dan praktis (dari segi mobilitas). Teknologi ini sendiri menurutnya adalah pedang bermata banyak, disatu sisi memudahkan dan membuatnya segalanya menjadi hocus pocus, tapi di banyak mata lainnya, voila!, bisa jadi menghunus ke kita sendiri. Kenapa seperti itu, ya, karena kita tidak membantah bahwa setiap hari pekerjaan kita sangat dimudahkan dengan berbagai teknologi. Misalnya, saya ngeblog ini pun pakai pc/hp, bisa sambil lirak lirik online shop ini itu, kalo bos dateng tinggal pindah tab ke tab kerjaan (loh kok malah pengakuan dosa hehe). Bisa dibayangkan kalo teknologi itu tidak ada. Mana bisa saya multitasking antara curhat, belanja, sambil kerja. Ya tooh?! Untuk urusan kontrol anak di rumah atau daycare pun sekarang mudah, sudah banyak cctv yang terconnect dengan internet yang bisa diakses dengan HP, atau kalo kangen ya tinggal telfon. Namun di sisi lain, teknologi dapat menjerumuskan dan merugikan apabila tidak disertai dengan mental dan pemikiran yang bijak dalam penggunaannya.

Nah, begitu juga dengan anak-anak kita. Teknologi menawarkan beraneka kemudahan, dari urusan mengerjakan tugas, tontonan hiburan, sampai dengan fasilitas pertemanan dunia maya yang dalam satu dekade ini menjadi primadona. Di balik kemudahan dan keasikan tersebut, banyak sekali dampak negatif yang menanti apabila kita sebagai orang tua lengah. Anak sendiri kesiapan mentalnya masih belum matang untuk memilah-milah bagian apa yang dapat diambil keuntungan nya dari perkembangan teknologi ini, sehingga apabila tidak diarahkan akan terjerumus dan sangat merugikan. Lets say, sekarang banyak sekali kasus child predator, atau penculikan, atau bahkan pelecehan anak. Mengerikan sekali kan. Oleh karena itu, tugas terbesar kita sebagai orang tua adalah sebagai regulator sekaligus inisiator.

Kita tidak bisa menghindari dan mengelak bahwa anak-anak kita memang hidup dan tumbuh besar bersama teknologi yang semakin luar biasa pesat perkembangannya. Justru dengan mencabut “kenikmatan” teknologi dari perkembangan anak kita, atau bahasa kerennya nomophobia alias anti mobile phone, juga bukanlah hal yang bijak. Anak kita juga makhluk sosial yang setiap harinya akan berinteraksi dengan anak-anak sebayanya, dengan sanak saudara, dan dengan dunia luar, dan kita tidak dapat menghindari hal tersebut. Saya sendiri pun setuju dengan hal tersebut karena tidak mungkin saya membiarkan anak saya tumbuh menjadi anak yang gaptek dan kudet, bisa-bisa dia minder atau malah tumbuh jadi anak yang biar kudet gaptek tapi congkak (zonk!).  Namun seiring dengan hiruk pikuk teknologi yang semakin progresif, mbak Ratih menyampaikan bahwa alangkah baiknya kita tanamkan juga landasan pribadi dan iman yang baik. Anak kita harus menjadi orang yang berkompeten, ajari menjadi orang yang dapat diandalkan semenjak kecil, tanamkan sefl dicipline dan self help. Seperti apa pribadi yang dapat diandalkan, yaitu yang berani jujur, rajin, dan hormat, maka anak kita akan memiliki good manner.

Jangan lupa juga tanamkan jiwa nasionalis, bahwa I am Indonesian, and I am proud being Indonesian. Tapi bukan berarti bahwa semenjak kecil kita anti dengan bahasa asing. Tidak. Ratih mengajarkan dan menjadikan bahasa inggris menjadi bahasa kedua setelah bahasa ibu mereka, yaitu bahasa indonesia. Lagi-lagi karena dunia globalisasi mengharuskan anak-anak kita bersaing dengan lebih ketat dengan orang seantero dunia. Kalau tak bisa bahasa Inggris, kita ketinggalan 1 poin penting. *sambil manggut-manggut dan ngaca *ga isa basa enggres. Kita dapat mengajarkan cinta Indonesia melalui banyak hal. Dari mulai jalan-jalan menjelajahi alam Indonesia, atau kuliner masakan Indonesia, atau bahkan mengajak anak untuk memasak masakan khas Indonesia.

Lalu bagaimana caranya menanamkan pribadi yang kuat dan baik bagi anak supaya menjadi salah satu yang sukses karena teknologi?

  1. Ya kembali ke menjadi regulator dan inisiator. Sebelum membuat peraturan ini anu inu, alangkah baiknya kita menjadi contoh yang baik dulu. Anak saya masih 10 bulan, saya bekerja, jadi sebaiknya tinggalkan gadget selama bersama anak (suseee yeee bu ibu, tapi pasti bisaaaaa). Tidak ada guru yang lebih baik daripada memberi contoh langsung. Sebagai orang tua, kita harus bekerjasama dengan suami untuk tetap komit menegakkan hukum yang berlaku di muka bumi perumahan *opo seeehhh.
  2. Buatlah rules, pertama, bikin layer dalam akses gadget dulu. Semakin dia besar, semakin dia dewasa, semakin lebih banyak aksesnya. Selain itu bikin jadwal. Jadwal nonton TV, jadwal main game, jadwal buka internet dll.
  3. Libatkan anak untuk membuat rules tersebut, deal with your children dan konsisten. Sangat wajar ketika di tengah jalan, anak akan berusaha bernegosiasi dan melakukan tawar menawar. Nah, PR kita nih untuk tetap konsisten. Ya konsisten terhadap ‘rayuan’ anak yang mulai bargaining, maupun konsisten menjadi inisiator alias pemberi contoh pada anak.
  4. Terapkan reward and punishment. Ini juga perlu komitmen yang tinggi, Kalo salah ya dihukum , kalo benar ya kasih penghargaan. Harus ADIL! Termasuk kalau orang tua sendiri yang melanggar aturan karena aturan berlaku bagi semua anggota keluarga.
  5. Kreatif lah sebagai orang tua. Untuk meminimalisir penggunaan gadget, sebaiknya perbanyak aktivitas outdoor. Dapat dilakukan dengan hiking, lari pagi, main ke playground, dan masih banyak sekali aktivitas-aktivitas DIY yang sedang tren di kalangan anak dengan embel-embel sensory play.
  6. Lakukan kerjasama yang baik dengan semua anggota keluarga terutama suami untuk menegakkan self dicipline tersebut. Tidak boleh ada hal yang bertentangan yang dapat menjadi celah untuk menjadi boomerang. Anak-anak sekarang cerdas dan semakin kritis. Maka kita sebagai orang tua harus semakin lihai. Fufufu..
  7. Pastikan semua akses teknologi dan gadget dapat kita kontrol. Password anak, history, atau bahkan pasang cctv. Menjadi orang tua kepo itu wajib hukumnya!! Bhuahahahha..

Hah, dengan langkah-langkah di atas, diharapkan anak kita akan menjadi “bos” untuk dirinya sendiri. Tidak digoyahkan oleh teknologi ataupun pengaruh dari luar. Tetap menjadi pribadi yang teguh dan berkompeten serta siap menerima perkembangan dunia luar sebesar dan secepat apapun serta terbebas dari culture shock. Karna sukses hanya datang pada orang yang siap. Semoga anak-anak kita termasuk orang yang siap tersebut dan selalu dilimpahi kesuksesan. Amien.

Btw, setelah ikutan seminar itu, saya dan suami sepakat untuk sering-sering mengobrol tentang dunia parenting. Waktu itu anak masih 3 bulan (ketauan kaaan betapa malasny ngeblog). Dan hal positif setelahnya, suami lebih sering membaca buku tentang parenting , termasuk saya, karena dicekoki dengan buku-buku parenting, belanjaan suami. Duuuh jadi inget PR nya banyaakk.. Next time kita bikin review parenting book deh (ah kebanyakan janji busuk).

See you and cheers!!

success is a journey, not destination

  • Ben Sweetland

 picture courtesy by google.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s