Belajar Demokrasi dari Mbak Papi

DSC01632

Mbak Papi, ART baru kami, yang sangat kami sayangi, yang mengakhiri ba-la-da ART saya, semoga looooong last. Amin. Nama sebenarnya adalah Padmi, tetangga saya di Bantul. Keenan yang memanggilnya Mbak Papi, maka seluruh rumah dan tetangga-tetangga memanggilnya Mbak Papi. Dia sebenarnya adalah kakak kelas SD saya, hanya saja dia sedikit kurang beruntung sehingga menganggur. Maka dengan sangat sigap, Ibu saya mengambilnya untuk membantu-bantu saya.

Dia bukan tidak berpendidikan loh, dia lulusan SMA, meski SMA tidak terakreditasi. Dia selalu semangat menceritakan guru-guru dan teman-teman SMAnya. Ada yang hamil di luar nikah, ada yang selingkuh, ada yang suka membolos. Duh, kok serem-serem. Meski dia ART, dan kadang suka hang kalau diberikan perintah yang menuntutnya multitasking, dia cukup punya ingatan yang baik tentang almarhum Bapak saya yang dulu menjadi kepala sekolahnya saat SD. Bahkan dia ingat detail Bapak saya saat berbicara. Hahaha.. Ada-ada saja Mbak Papi.

Satu hal yang membuat saya kagum dengan Mbak Papi. Dia sangat jujur. Jujur dan lugu. Saking lugunya, dia pernah “hilang” di Jakarta selama 7 jam (ceritanya nanti aja karna panjang dan dramaaa). Tidak jarang saya sering ngoomel-ngomel kalo kerjaan dia suka ga beres. Kadang saya lebih memilih diam. Tapi Mbak Papi tidak pernah tersinggung dan justru bilang “Kalau ada apa-apa dan keluhan, bilang langsung aja ya, Mbak. Biar sama-sama enak.” Ah, Mbak Papi.. Saya jadi ga jadi marah kalau dia sudah begini.

Semenjak itu saya sering mengajak ngobrol Mbak Papi. Mengajaknya berdiskusi. Mendengarkan saran-sarannya. Memberinya saran juga. Mbak Papi yang dulu dekil gembrot dan (sedikit) bau, sekarang mulai bertransformasi menjadi (lebih) langsingan, berkulit cerah dan wangi. Saya pun menjadi lebih terbuka pikirannya. Lebih bisa memanage emosi dan pikiran saya. Ah, senangnya.

Mbak Papi ini di kampungnya dulu adalah aktivis Muda Mudi. Mungkin kalau di Jakarta terkenal dengan istilah Karang Taruna. Dia aktif mengikuti kegiatan ini itu, asal bukan bagian hitung menghitung dan pikir memikir. Pokoknya yang tinggal eksekusi hahaha. Dia bercerita, bahwa dia sempat kecewa dengan ketua Muda Mudi, yang tak lain adalah adiknya sendiri, karena dia merasa organisasi yang dia sayangi itu “ditumpangi” oleh partai tertentu saat pemilihan presiden tahun lalu. Dia bercerita meluap-luap, bahwa seharusnya organisasi pemuda itu netral lalalala. Hihi, terkadang saya geli melihatnya bercerita menggebu-gebu. Tapi dari situ saya mengambil nilai dari obrolan kami. Seharusnya kita malu, Mbak Papi yang kondisi ekonominya masih kekurangan saja tidak dihijaukan matanya oleh iming-iming duit kampanye. Sebentar lagi pilkada nasional kan, yang tentunya menjadi libur nasional. Hore! Semoga masyarakat Indonesia semakin cerdas dalam menentukan pilihan, lebih legowo, dan lebih independen. Terimakasih Mbak Papi telah memberikan banyak pelajaran bagi saya dan keluarga!

Just my two cent! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Demokrasi dari Mbak Papi

    1. iya teteh..
      seneng banget dapet ART yang ga neko neko dan jago ngerokin plus mijit kayak mbak papi hihihi..
      sayang belom bisa bikinin kopi yang lezat haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s