Cerita dalam Secangkir Kopi

Beberapa saat saya kembali flashback ketika saya mengenal kopi untuk pertama kali. Kopi disini maksudnya kopi item itu loh, bukan kopi susu. Kopi sachet-an sih, jaman kuliah. Mana kuat uang jajannya buat nongkrong cantik di cafe-cafe kekinian. Kopi-item-kapal-api *sebut merek* *ngarep diendorse*. Lalu di mana saya kenal kopi? Di warung Akang. Kalau kalian anak STAN, pasti tahu tempat nongkrong paling hits dan sedikit merogoh kocek untuk bisa menikmati sepiring nasi dengan lauk ayam goreng tepung. Lalu dengan siapa saya menyesap kopi pertama kali? Ah, ya siapa lagi kalau bukan dengan kelompok pecinta alam yang-itu-loh *cie anak MAPALA*. Karna ditraktir sih, jadi saya ga punya pilihan lain untuk bisa minum happy coke (baca: soda gembira. red). Maka dimulailah perkenalan dengan secangkir kopi-kapal-api hitam (alhamdulillah tanpa sianida). Gelasnya beling transparan ada tulisan kopiko-nya (ah, kan mancing di-endorse lagi). Dan apa yang terjadi selanjutnya? Saya tidak bisa menikmati esensi minum kopi! Kenapa? Karna saya meneguknya sekaligus layaknya minum air putih! Jreng!

Lalu cerita kopi ini berlanjut saat saya beberapa kali naik gunung. Apa yang lebih nikmat dari segelas kopi hangat di tengah rintik gerimis, kabut yang menggantung rendah, sembari memandang jajaran edhelweiss yang merekah? Ah, ya si kopi itu! Diiringi celotehan riang di tenda dan tangan-kaki yang berebut masuk ke selimut.

Ada suatu ketika, saat malam saya berlarut di warung kopi Mamad PJMI (nah kan roaming lagi, ini cuma anak STAN yang tau), menenggak beberapa cangkir kopi sampai pagi. Ditemani frustasi Karya Tulis di tingkat akhir sekaligus memori mantan yang baru aja mutusin (aih matek!).

Ah, ada cerita di setiap sesapan secangkir kopi.

Saya pernah berjanji dengan karib, si Gery, yang kali ini sudah beranak dua, kalau suatu saat nanti kami akan menjadi wanita karir yang hobi nongkrong di Starbak! Meski endingnya, tiap pulang kantor mana sempat nongkrong cantik, yang ada lari-lari ngejar kereta. Tapi pasti suatu saat nanti kita akan wujudkan nadzar absurd kita itu ya, Ger! *optimis*

Siang tadi, akhirnya saya kembali duduk berhadapan di kedai kopi bersama karib yang lain. Thanks, Ronny! Secangkir es coffee latte tengah bolong bisa bikin gerimis di hati (eyaak!). Meski kita tadi sempat sibuk moto ambience dan interior Watt Coffee, tapi keramahan dedek-barista-bikin-emesh justru membangkitkan cerita lama di secangkir kopi. Ah, minta dibahas banget kan baristanya :D.

Terimakasih juga Watt Coffee. Next post kita cerita kedai kopi spesial satu ini :).

Mengutip caption Ronny di ig siang tadi “coffee is a pleasure, friend is a treasure” πŸ™‚

Disclaimer:

Ditulis di gerbong campur kereta menuju Bogor dengan semerbak bau beraneka rupa, menambah syahdu hati yang biru (baca: puyeng).

Advertisements

6 thoughts on “Cerita dalam Secangkir Kopi

    1. haduh aku disemprit sama ibu auditor. Siap Mbak Ronce, sudah diganti ya postingannya. Trimakasih telah dikenalkan dengan tempat ngupi yang hangat dan *eyecatchy* uwuwuw!

  1. pertama baca judulnya, ak ud lgsg inget janji kita di warkop ponjay itu, hahaaahaaa,, eh emg itu jg yg dibahas di tulisan ini,,, πŸ™‚ **endingnya, tiap sore buruburu sampe rumah, sebelum ada 2bayi berantem, halah**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s