Selalu Ada Pesawat Hari Ini

Hari ini mushola kantor pindah, menempati ruangan pojok yang dulu dipakai untuk ruangan ahli hisab (baca:perokok). Baguslah. Meski akhirnya para ahli hisab ini selalu menemukan tempat baru untuk bertukar asap. Mushola kali ini tak main-main. Dipasang karpet halus empuk berwarna marun. Dindingnya dibuat mural kaligrafi yang dibuat 3 hari 2 malam. Iya loh, sampai lembur. Pemandangannya juga lebih indah, jendela dari lantai 12 dengan view menghadap Ancol.

Hari ini saya shalat Ashar agak terlambat (biasanya juga sih). Pukul 16.30 saya bersiap memakai mukena, ketika saya mendapati langit arah Ancol sebuah benda terbang yang tak asing. Iya, pesawat. Google maps di otak saya langsung merespon bahwa arah barat sana adalah bandara Soekarno-Hatta. Sejenak saya freeze, mengamati jalannya pesawat yang perlahan, meski sesungguhnya begitu kencang. Tak lama, saya lihat di arah timur, muncul pesawat yang lain, 2 buah, beriringan. Begitu seterusnya,  lalu lintas udara sedang ramai hari ini. Selama 15 menit saya terpekur, hampir lupa kalau saya harus shalat Ashar. 

Begitu tersadar, ada teman kerja yang datang, mengajak berjamaah (untunglaaah). Ketika shalat, pikiran saya berkecamuk. Kebiasaan jelek, kadang tidak khusyuk kalau lagi banyak pikiran. Saya jadi ingat Bapak dan Mbak Nuzul, kakak sulung yang meninggal tahun 1995, sesaat sebelum Bu Tien Suharto wafat. 

Waktu itu sekitar akhir tahun 1994 atau awal 1995, saya lupa. Saya dapati Bapak dan Mbak Nuzul lepas bepergian, berdua saja. Mbak Nuzul sudah sakit, cukup sakit. Saya bertanya, darimana mereka. 

“Dari Maguwoharjo, nonton pesawat”.

Saya iri luar biasa saat itu. Satu keluarga belum pernah naik pesawat, lihat secara langsung saja belum pernah. Saya bertekad suatu ketika harus ke Maguwoharjo, nonton pesawat. Sudah.

Idhul Adha 1995, bangun tidur rumah sudah ramai. Ambulance parkir di halaman samping pohon sawo. Tidak ada solat Ied, tidak ada takbir. Mbak Nuzul pulang ke rumah setelah dirawat di RS Pemerintah selama hampir satu bulan, dengan senyum tersungging, masih hangat, meski tak ada nafas. Kembali ke Yang Punya Hidup.

Tujuh tahun kemudian, Bapak menyusul. Luka tujuh tahun lalu seakan belum kering, kami harus kehilangan satu kesayangan lagi.

Sembilan tahun setelahnya, saya telah bekerja. Beberapa kali naik pesawat, keliling Indonesia, sesekali ke negara tetangga. Kakak saya yang kedua apalagi. Luar biasa, Eropa dan Australia sudah dijelajahi. Jika libur anak sekolah tiba, sesekali kami ajak Ibuk ke Jakarta. Naik pesawat. Yang rasanya seperti naik ayunan, ada serr serr nya dikit pas lagi take off atau landing.

Kembali ke shalat Ashar. Hati saya hancur luar biasa. Dua orang yang nonton pesawat berdua 20 tahun lalu, masi belum kesampaian naik pesawat. Namanya tidak pernah tercantum dalam daftar booking sekalipun. Saya kirim Al-Fatihah usai shalat. 

Saya menulis ini di kereta, dengan hati yang masih saja remuk. Sesekali harus sering mengedip, takut tiba-tiba air mata tumpah. Saya tau, tak perlu kode booking atau check in lagi untuk naik pesawat di sana ya, Pak, Mbak. Selalu ada pesawat hari ini.

Advertisements

8 thoughts on “Selalu Ada Pesawat Hari Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s