Trick or Treat Cerdas Mengelola Uang

MERENCANAKAN KEUANGAN DI USIA MUDA

Ada satu nilai yang diajarkan oleh Ibu saya yang selalu saya ingat, “hati-hati ngatur duit, baik dalam kondisi kurang maupun saat berlebih”. Itu adalah petuah sejak belasan tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku SD. Iya, ibu saya memang mempersiapkan anak-anaknya sejak dini untuk dapat mengatur duit, bukan sebaliknya. Semua harus berdasarkan rencana yang rapi dan penuh pertimbangan, tapi tidak perhitungan. Apalagi semenjak Bapak meninggal ketika saya dan saudara sedang high cost karena kakak akan masuk kuliah bersamaan dengan saya yang akan masuk SMA.

And here I am now, menjadi seorang Chief Financial Officer (CFO) keluarga. Saya dan suami adalah pasangan muda yang sama-sama bekerja. Sebenarnya, pada awalnya saya dan suami merupakan pasangan yang cukup impulsif. Ketika melihat sesuatu yang kami suka, kami sama-sama saling mendukung untuk membelinya selama kami masih mampu. Tidak peduli apakah barang tersebut memang kami butuhkan atau hanya sekedar lapar mata. Kami seperti menikmati masa euphoria, meski belum separah film Confession of Sophaholic sih. Yang kami pikirkan saat itu adalah, kami masih muda, gaji lumayan, lingkungan kami pun tak pernah komplain. Semakin lama, tabungan stuck atau kadang justru nombok. Disitulah saya dan suami menyadari ada yang salah dengan gaya hidup kami. Kami mulai saling menjadi alarm kalau salah satu dari kami mulai keluar track.

Tak cukup sampai disitu, kami mulai mengatur strategi bagaimana caranya supaya kami tetap dapat mengontrol sekaligus dapat merencanakan keuangan kami untuk masa depan. Bagi kami, mengelola keuangan yang cerdas adalah yang selalu berefleksi jauh untuk masa depan. Apalagi semenjak punya anak, kesadaran akan pentingnya memanage uang menjadi semacam kebutuhan. Financial itu tidak hanya seputaran cari duit saja, namun juga bagaimana cara mengelolanya. Strategi yang kami pakai memang bukanlah sesuatu yang mutakhir dan paripurna, namun sederhana dan mungkin telah banyak dilakukan oleh para pasangan muda. Yang penting adalah kami berdua komit dan konsisten untuk selalu disiplin. Kali ini kami akan berbagi tips, because we are not an expert, jadi based on apa yang telah kami lakukan selama ini untuk mengatur dan merencanakan keuangan kami. Here we go.. Yuk, Atur Uangmu!

A. Jangka Pendek

slide1

  1. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran setiap bulan

Di tahun 2016 ini siapa yang tidak bisa menulis? Hampir semua bisa. Mencatat tidak harus menggunakan aplikasi yang mutakhir, mencatat di buku atau agenda pun tak masalah. Selama ini saya dan suami telah melakukannya dengan menggunakan Microsoft Excel. Sederhana, mudah, asal kita mengerti.

Bagaimana caranya? Buatlah kolom pengeluaran yang merupakan fixed expense dan fixed cost. Misalnya biaya cicilan rumah, kendaraan, biaya sekolah, atau arisan. Alokasikan dana dengan jelas dan tepat. Setelah semua fixed cost telah dicatat, mulai alokasikan untuk zakat dan menabung. Kenapa menabung harus dialokasikan di awal? Ya, apalagi bagi saya dan suami untuk mencegah dari sifat impulsif, alokasikan menabung terlebih dahulu, baru sisanya untuk pengeluaran sehari-hari. Jangan dibalik ya, mengalokasikan tabungan di akhir sisa dari belanja sebulan. Kalau seperti itu, bisa jadi tiap bulan saya dan suami ga ada tabungan. Hehe.

2*jika mau formatnya bisa menghubungi saya

  1. Membuat Bucket List Sesuai Prioritas

Apakah saya suka tergoda dengan barang branded? YA! Dengan adanya social media, kemudahan berbelanja online sangat memanjakan konsumen. Belanja online menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tapi saya cukup waras untuk tetap rasional dengan membuat daftar bucket wish list yang saya inginkan, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi financial.

         3. Cerdas Dalam menggunakan Aplikasi Perbankan

Sistem pembayaran saat ini serba mudah. Internet banking, token, SMS Banking, dan aplikasi perbankan yang memungkinkan kita dapat bertransaksi secara real time. Hal tersebut merupakan terobosan yang sangat memanjakan nasabah untuk bertransaksi tanpa harus datang ke bank atau ATM. Tapi… saya sendiri harus bijak dalam menggunakannya, karena kemudahan dan praktis, biasanya mendorong kita untuk lebih konsumtif. Tidak ada yang salah dengan teknologi, asal kita bijak menggunakannya. Tetap harus diingat tiap alokasi belanja kita, semua harus on track.

        4. Bijak Menggunakan Kartu Kredit

Saya bukan tipe saklek yang tidak mau menggunakan kartu kredit. Saya dan suami tetap memiliki beberapa kartu kredit yang digunakan untuk keperluan mendesak dan kebutuhan untuk berjaga-jaga. Sesekali kartu kredit juga digunakan untuk program cicilan 0% di merchan tertentu, namun dipastikan dulu bahwa alokasi dana di bulan selanjutnya untuk menyicilnya ada.

B. Jangka Panjang

jangka-pendek

  1. Menabung

Dari semenjak kita balita sudah sering didoktrin untuk rajin menabung. Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit. Pasti ingat kan pepatah itu? Karena saya dan suami menyadari bahwa kami merupakan tipe yang sulit untuk menabung sehingga kami melakukan strategi “dipaksa nabung” supaya lebih disiplin.

Ada 2 cara dalam strategi “dipaksa nabung” kami. Yang pertama, kami mengikuti cara Felix Siauw dengan menabung setiap uang dua puluh ribu yang kami peroleh. Tidak ada excuse bahwa setiap lembaran hijau dua puluh ribuan harus berakhir di celengan. Jangan ditengok isinya. Biarkan sampai banyak, maka kalian pasti akan terkejut dengan jumlahnya. Untuk cara ini, kami menggunakannya untuk tabungan piknik atau tamasya, sehingga tidak kaget ketika tiba-tiba tagihan tiket membengkak. Cara kedua adalah dengan membuat rekening tabungan dengan sistem autodebet dan tabungan tersebut tidak boleh diambil dalam jangka waktu tertentu. Menabung dengan cara ini mirip dengan konsep deposito. Untuk cara yang kedua ini kami merencanakannya untuk persiapan sekolah anak.

img_4505

         2. Berinvestasi

Berinvestasi telah saya lakukan sejak sebelum menikah. Saya lebih memilih berinvestasi dengan cara konvensional, yaitu menabung logam mulia. Saya usahakan untuk investasi ini tidak boleh diotak atik kecuali untuk kondisi yang sangat mendesak. Yes, we have strict rules about money. Saat ini saya mulai tertarik dengan reksa dana dengan pertimbangan “dont put your egss in one basket“. Mungkin ada saatnya nanti, saya juga akan main saham.

Investasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui stock market atau komoditi. Investasi stock market antara lain dengan reksa dana, saham, dan obligasi. Sedangkan investasi dengan komoditi antara lain dengan logam mulia atau properti. Pilihan investasi masing-masing individu berbeda-beda. Tentukan dulu patternnya dan kenali gaya masing-masing. Misalnya saya yang cenderung tidak telaten dan bukan risk taker, maka lebih memilih investasi konvensional dibanding dengan stock market. Bagi yang suka tantangan, bermain saham sangat worth untuk dicoba. Yang perlu diingat adalah, berinvestasi bertujuan untuk pertumbuhan aset (growth) dan penghasilan pasif (passive income).

       3. Berasurasi

Ini adalah hal yang sangat penting, namun sebagian besar masyarakat Indonesia mengabaikannya. Sejak memiliki anak, saya langsung mempelajari tentang asuransi dan membuat polis untuk kami sekeluarga. Pertimbangannya adalah, family is always come firts, terlalu berharga untuk tidak di lindungi. Sebenarnya tanpa membuka polis, saya dan suami telah tercover dengan BPJS. Tapi bagi kami, proteksi berganda untuk orang yang kami cintai itu bukanlah sesuatu sia-sia.

PENTINGNYA BERASURANSI

Saya dulu termasuk ke dalam golongan masyarakat yang memandang remeh asuransi. Bagi saya ketika itu, asuransi hanyalah pemborosan dan bisnis tanpa kepastian yang jelas. Ketika itu mungkin saya masih belum memiliki tanggungan apapun sehingga cenderung menutup mata. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai teredukasi bahwa asuransi memang bukanlah expense biasa, tapi PROTEKSI.

Ketika saya mengikuti seminar financial planning, saya cukup terkejut dengan fakta yang menyatakan bahwa kurang dari 10% orang Indonesia yang memiliki polis asuransi (sumber: PT Aegon Direct & Affinity Marketing Services (ADAMS)). Seperti dituturkan oleh pakar financial planning, Mike Rini dalam seminar “Yuk, Atur Uangmu” bersama Sinarmas MSIG Life, rendahnya kesadaran asuransi dan investasi masyarakat Indonesia disebabkan adanya lack of dicipline. Karena kesadaran masyarakat Indonesia yang rendah akan pentingnya asuransi, pemerintah mulai care untuk memberikan edukasi. Otoritas Jasa Keuangan menargetkan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia naik dua persen setiap tahunnya (sumber: metrotvnews.com).

factsumber: http://www.fioneysofyan.com

Kenapa harus asuransi? Karena asuransi bertujuan untuk melindungi dan mengantisipasi resiko-resiko yang akan terjadi di masa mendatang. Resiko-resiko tersebut dikaitkan dengan posisi kita sebagai tulang punggung keluarga tidak tergantikan. Nobody’s know what will happend tomorrow. Kalau pepatah bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Setuju? Harapan saya cuma satu, anak-anak dan keluarga saya tetap tercukupi, tak kurang apapun, teredukasi dengan baik, with or without me, karena semua telah terproteksi oleh asuransi. Saya dan suami juga menjadi lebih tenang, karena semua telah dijamin.

Saat ini banyak sekali produk asuransi yang ditawarkan. Anda bingung? Jangan khawatir, saya belajar dari Sinarmas MSIG Life yang menyediakan solusi untuk pilihan produk asuransi yang kita perlukan. Ingat ya, menurut Ruth Nainggolan, General Manager, Head of Marketing & Strategic Office Sinarmas MSIG Life, asuransi itu untuk proteksi dan bersifat jangka panjang. Jika tujuannya untuk short term dan investasi, sebaiknya pilih jenis investasi seperti stock market atau komoditi.

Kenapa saya tertarik dengan asuransi yang ditawarkan oleh  Sinarmas MSIG Life? Asuransi yang merupakan joint venture dengan perusahaan asuransi dari Jepang ini, memberikan penawaran produk asuransi berdasarkan life stage kehidupan kita.  Life stage yang dimaksud mulai dari masih fase:

lajang – baru menikah – menikah memiliki bayi – menikah memiliki anak – menjelang pensiun – pensiun

Life stage yang di atas dibagi dengan sangat detail dan representatif dengan life cycle manusia. Tiap etape kehidupan tersebut masih dibagi lagi berdasarkan kebutuhan asuransi apa yang kita butuhkan. Misalnya, untuk life stage menikah memiliki anak terbagi lagi ke dalam kategori kebutuhan untuk saving & invesment, life & protection, health, dan Riders. Komplit!

life-stagesumber: http://www.sinarmasmsiglife.co.id

Sinarmas MSIG Life juga didukung dengan website yang informatif. Segala informasi yang kita perlukan terkait dengan pilihan produk asuransi, brosurnya dapat kita unduh melalui website. Selain itu, untuk pembelian polis pun dapat dilakukan just one click melalui website Sinarmas MSIG Life. Praktis kan! Jika ingin informasi lebih lanjut juga dapat menghubungi customer service yang siap melayani calon nasabah dengan ramah, sesuai dengan signature Sinarmas MSIG Life, yaitu #SmileWithMe. 🙂

Nah, itu tadi trick or treat mengelola keuangan cerdas ala Rian dan suami. Meski usia masih sedikit, bukan berarti minim ilmu dan perencanaan kan. Jangan sampai kita menjadi generasi muda yang tidak mandiri. Mulai sekarang, Yuk Atur Uangmu!

webanner-blogger-new-corp-web

Advertisements

4 thoughts on “Trick or Treat Cerdas Mengelola Uang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s