#UsiaCantik: Menjadi Cantik Itu Pilihan

img_4572

“if you get tired, learn to rest

NOT to quit”

Quote itu saya dapatkan dari teman dekat yang baru seminggu yang lalu kehilangan anaknya yang berusia 6 bulan setelah 30 hari dirawat di ICU. Ingatan saya kembali  20 tahun yang lalu, ketika saya masih kelas satu di sekolah dasar. Ingatan saya tidak banyak, tapi ada beberapa yang membekas. Tentang Ibu saya, satu-satunya. Kini beliau hampir pensiun, beberapa kerutan nya terlihat dengan jelas. Setiap kerutnya membawa cerita sendiri. Langkahnya tidak sekuat dulu, ketika mengayuh sepeda jengki menuju sekolah dengan saya dibonceng di belakang. Matanya tak se awas dulu, ketika memasukan jarum jahit untuk menjahit rok sekolah saya hanya dalam hitungan detik. Yang tidak berubah adalah komitmen nya, untuk tidak pernah berhenti berjuang, tidak kenal lelah.

Suatu hari sepulang sekolah di SD, saya mendapati ibu saya, dengan mata basah, berbicara dengan Bapak dengan suara lirih. Sudah hampir sebulan, kakak perempuan pertama kami ada di rumah sakit. Kakak perempuan yang kami cintai, selalu juara kelas, rajin mengaji, disayang banyak orang, harus berbaring di rumah sakit dengan selang di beberapa bagian tubuhnya. It breaks my heart setiap mengingatnya. Dokter memberi vonis tumor otak, iya di otak. Saya terlalu hijau untuk mengerti saat itu. Hanya saja saya sudah cukup mengerti, bahwa sudah jarang sekali ada tawa di rumah.

Ibu tak lagi banyak kata. Air mata dari perempuan yang saat itu berusia 35 tahun cukup membuat kami mengerti, bahwa kami tidak boleh banyak menuntut. Saya dan kakak kedua saya harus tidur dengan nenek setiap malamnya. Sampai suatu pagi, rumah kami begitu riuh. Kudapati Ibu terisak, tetangga berbondong-bondong, Bapak begitu sibuk. Kakak kami tiada, tepat di hari Iduh Adha.

Setelah itu, ibu harus berjuang mengumpulkan kembali kepingan semangat karena kehilangan anak. Saat ini saya sudah punya anak, sehingga bisa merasakan betapa perihnya Ibu ketika itu. Mungkin sampai sekarang bekas lukanya pun tidak akan pernah hilang. Ibu banyak menghadiri majlis taklim, membaca banyak buku rohani, dan mendengarkan tausiyah di radio. Harapannya kembali bangkit, semangatnya berangsur menyala, bahkan lebih terang dari sebelumnya. Ibu menjadi orang baru, yang lebih dekat dengan Tuhan, dan memiliki energi positif yang tak pernah habis. Hidupnya kembali diabdikan untuk menjadi guru di Sekolah Dasar, sore harinya aktif di kegiatan pengajian. Kami sekeluarga pun merasakan kebangkitan yang Ibu ciptakan.

Kondisi perekonomian kami sedang dalam etape lumayan ketika lagi-lagi Ibu harus menerima vonis dokter yang lain. Bapak kena kanker hati. Tujuh tahun setelah Idhul Adha di Tahun 1995, kami harus kehilangan kesayangan kami yang lain. Bapak kembali ke Pemilik Kehidupan, di pangkuan Ibu. Ibu yang memandikan, menyolatkan, sampai menguburkan. Tidak sekalipun saya lihat Ibu beranjak dari samping Bapak.

Sepeninggal Bapak, semua mulai kembali dari nol. Psikis kami sama hancurnya dengan finansial kami. Wanita berusia 42 tahun itu kini menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung kami satu-satunya. Tak sedikit saya dengar Ibu mulai lelah, tak ada harapan hidup, tak punya arah. But time heals everything. Beranjak dari keterpurukan, mental dan rohani Ibu semakin tertempa.

Tak lama berselang, saya dan kakak harus masuk SMA dan kuliah. Prihatinnya Ibu tidak pernah luput dari mata saya. Puasa, solat malam tidak pernah dia tinggalkan. Beberapa kali saya mendapati Ibu yang sedang menghitung uang gaji dan pensiun Bapak yang tak seberapa. “Hey, kamu harus cukup buat makan kami sebulan ya”, katanya, mengajak bicara recehan uang dengan senyum tipis.

Tak jarang Ibu keras kepada kami. Ya, terkadang kenakalan remaja kami membuat Ibu lelah dan tak tahan. Namun sekarang kami menuai “keras”nya Ibu dulu. Kami mengerti bahwa sikap Ibu yang dulu demi anaknya agar memiliki behave yang baik, mandiri, dihormati, dan berdaya juang.

Kalau kata pepatah:

“tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan”

Tapi apa yang membuatnya dewasa, setiap orang pasti berbeda-beda. Pilihannya adalah “take it or leave it”, menyelesaikannya dengan cantik, atau lari seperti pengecut. Ya, untuk mencapai ke level kehidupan tertentu, pasti akan ada syaratnya. Kita semua setuju, bahwa untuk naik kelas, perlu ada ujian untuk memastikan apakah kita pantas untuk mendapat reward naik kelas tersebut.

img_4573

Kini Ibu sedang menanti masa pensiunnya. Masih aktif menjadi Kepala Sekolah di sebuah Sekolah Dasar di pelosok dusun. Tabungannya cukup untuknya untuk bersenang-senang menikmati hari tua. Anak-anaknya telah memiliki pekerjaan yang layak dan telah berkeluarga. Namun doa dan prihatinnya untuk anak tak pernah putus. Sesekali Ibu mengirim pesan WhatsApp untuk memberikan restu dan doa kepada kami. Ibu kami yang cantik dan sarat pengalaman hidup. Sayapnya yang cantik telah berkembang, kepakannya tak akan pernah luntur untuk membuat kami selalu ingat, bahwa hidup itu adalah untuk berjuang.

“Mungkin kita tidak pernah punya pilihan untuk memilih proses apa yang akan kita lalui untuk menjadi cantik, tapi Tuhan lah yang memilih kita. Yakinlah, Tuhan tak pernah salah pilih.”

-Rian

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.

Advertisements

14 thoughts on “#UsiaCantik: Menjadi Cantik Itu Pilihan

  1. yan tissu yan…. T_T aku nangis gerung2 perkoro embun wingi… Ini jugaaa, ibumu hebat banget yan… aku nangis maneh….. T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s