Polemik Mainan Mahal vs Mainan Murah

Ibu-ibu memang naturenya selalu senang berpolemik. Mungkin kalo diadu ya rival yang seimbang ya yang di Senayan sono. Banyak sekali polemik yang terjadi dalam dunia Ibu-ibu. Dari mulai ASI vs sufor, SAHM vs WM, sampe kemaren mahmud challenge aja jatohnya jadi saingan juga. Sungguh wanita itu jiwa kompetitifnya terbaik. Semakin banyak problema dan kompleksitas hidup, maka semakin tidak masuk akal seorang wanita berargumen (ya ga sih). Termasuk dalam hal menentukan mainan mahal vs mainan murah. Pasti akan banyak perdebatan.

#TeamMamaMainanMahal vs #TeamMamaMainanMurah tetaplah akan berakhir pada adu argumen yang tidak akan pernah habis. Dan sudah pasti, tidak penting. SETIDAK PENTING UPIL. Nyarinya sampai penuh perjuangan, pas ketemu dibuang. YA KAAAAANN?!

Untuk mainan kali ini, setiap mama pasti memiliki alasan masing-masing, mengapa membelikan mainan anak memilih yang murah atau yang mahal. All depend on your choices, Mama. Tidak ada yang benar maupun salah, semua kembali ke nature, culture, financial, dan believe masing-masing. YA KAN! Untuk Mama (yang elegan, kece, dan ga gampang kepancing) alangkah baiknya tidak perlu ikutan nyemplung ke dalam dunia polemik Ibu-ibu. Akan lebih bermanfaat jika subscribe blog ini saja dan setia duduk manis menunggu postingan saya (tetep promosi).

Nah, bagi yang masih bingung menentukan mainan mahal vs mainan murah, masing-masing pilihan memiliki plus dan minusnya. Apa saja? Kurang lebih seperti ini:

MAINAN MAHAL

Plus:

  1. Mainan awet, long term used, bisa diwariskan.
  2. Memiliki standar safety yang telah teruji.
  3. Bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi telah teruji dan aman bagi anak-anak.
  4. Responsibility dari produsen biasanya lebih besar untuk urusan safety.
  5. Purna jualnya biasanya lebih bagus.
  6. Dapat melatih sense of belonging anak, karena mainan mahal, jadi biasanya (emak+bapaknya) anak pun ikut sayang dengan mainannya.
  7. Sembari punya wishlist mainan mahal, maka anak dapat sekalian dilatih untuk menabung.

(Sebenarnya sih masih banyak, tapi tergantung dengan kreativitas dan kembali ke orang tua masing-masing, bagaimana memberdayakan alasan punya mainan mahal.

Minus:

  1. Harganya mahal.
  2. Bikin bokek.
  3. Kalo sial ya dinyinyirin temen/tetangga/keluarga.
  4. Uang beli bedak jadi pindah alokasi.
  5. Makin sial lagi kena omel suami.
  6. ATM sama kartu kredit jadi dibekukan bapak bojo.
  7. Kalo ilang nyeri hati.
  8. Apalagi kalo rusak, lebih nyesek ketimbang diputus pacar.

(kebanyak syurhaat ya Maaaak!)

 

MAINAN MURAH

Plus:

  1. Harganya miring, kantong aman.
  2. Hemat pangkal kaya.
  3. Bisa sodakoh lebih banyak (mulai jadi #teammipporight).
  4. Biasanya kalau anaknya masih under 3 years masih abusif, jadi kalau dibanting-banting ga sayang. Rusak satu, beli se abang mainannya.
  5. Kalau ilang ga bikin baper.
  6. Bisa tuker-tukeran ke temen (inget koleksi kertas surat jaman jadul).
  7. Kalo kesapu ga bikin dunia kiamat (ga kaya kehilangan 1 piece lego karna kesapu Padmi, dunia serasa mau runtuh).

Minus:

  1. Bahannya biasanya ya seadanya. Kalo ga ada yang diada-adain.
  2. Safety prosedur nomor sekian, yang penting margin keuntungan dapet.
  3. Purna jual, jangan diharapkan. Beli terompet di pasar gembrong, ternyata bunyinya bukan OM TELOLET OM, tapi malah kaya bunyi kentut, balik ke Gembrong, ternyata udah digusur satpol PP (KELAR).
  4. Mainan biasanya disposable used (untuk yang anaknya abusif tingkat tinggi). Kalau masih sempet diwariskan, mungkin ceritanya aja.
  5. Karna harga murah, biasanya sense of belonging ortu pun jadi rendah. Jadi jangan kaget kalau awareness anak terhadap benda juga rendah.

upload

Apakah saya #teammainanmahal karena pernah merekomandasikan ELC? Ga juga, saya memilih mainan tentu saja sesuai dengan kebutuhan dan finansial yang masuk akal. Bagaimana cara menentukan belanja mainan dengan kebutuhan? Ini dia tips dari saya:

  1. Mainan harus disesuaikan dengan usia anak dan yang tak kalah penting adalah jenis kelamin.
  2. Orang tua harus tau kecenderungan minat anak. Dari manakah kita bisa tahu? Di usia sekitar 1 tahun, dimana anak mulai sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan terlihat minat anak terhadap sesuatu. Sifat dasar dari anak pun akan berpengaruh terhadap minat anak. Misalnya: #Kinong sejak usia kurang dari setahun terlihat bahwa dia anak yang ekspresif, senang bergaul, antusias terhadap sesuatu yang entertaining (misal: kakak sebelah rumah yang cantik). Semakin besar semakin terlihat bahwa anak ini memiliki sifat sanguinis dan tertarik terhadap entertaiment (plis bukan infotainment). Maka saya dan #BapakKinong memutuskan untuk membelikan mainan keyboard untuk mainan dan hiburan emaknya.
  3. Tentukan dulu sense apa yang ingin dikembangkan dari anak. Meskipun anak memiliki kecenderungan terhadap minat tertentu, namun akan lebih baik jika orang tua tetap menstimulus semua motorik dan sensorik kasar dan halus anak. Kalau teorinya sih supaya balance antara otak kanan dan otak kiri.
  4. Pastikan perencanaan keuangan untuk alokasi membeli mainan secermat mungkin. Membeli mainan tidak perlu mengorbankan dengan tidak membeli susu anak, atau mengakibatkan makan sebulan cuma nasi lauk garem. ITU BAHAYA. Selain bahaya abgi kesehatan juga bahaya bagi kesehatan hubungan rumah tangga.
  5. Mama sebaiknya menjadi #MamahKekinian yang kreatif. Sebelum memutuskan membeli mainan, sebaiknya memikirkan apakah sebuah permainan menstimulus anak dapat dibuat DIY-nya. Sekarang sudah banyak sekali tutorial ala-ala monterssori di Pinterest atau Youtube.
  6. Buatlah schedule yang balance antara bermain indoor dan outdoor karena keduanya memiliki fungsi masing-masing untuk stimulasi anak. Dengan begitu, Mama bisa tentukan mainan apa yang sebaiknya dibeli.
  7. Jika Mama ragu akan sebuah mainan, disarankan untuk sewa mainan terlebih dahulu. Apalagi yang harganya pricey. kalau tidak, Mama juga bisa bikin wish list hadiah untuk kelahiran bayi atau ulang tahun (jika tidak malu wakakakaka).
  8. Membeli mainan ini pada jaman sekarang juga bertujuan untuk mengurangi paparan gadget pada anak. Jadi sebelum beli, komit dulu dengan diri sendiri dan suami, supaya mainan harus dapat difungsikan optimal dan tidak UUG (Ujung-Unjungnya Gadget).

Nah itu beberapa tips dari #kompormledug. Yang paling penting dan perlu diingat adalah STOP JUDGING OTHERS dan GADGET BUKANLAH SOLUSI. Kalau kamu, ada tips yang lain?

Advertisements

11 thoughts on “Polemik Mainan Mahal vs Mainan Murah

    1. BENEEER BANGET.. Pasti setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada yang benar atau salah. Yang ga bener yang maunya manak doang tapi ga mau ngurus *kok malah esmosi hihihihi…

    1. kalo ketemu yang ginian kasih tau ya mbaaaak wakakakakak. Eh tapi ELC atau Kids station atau Toys kingdom sering diskon 70% kok… *ketawan beli diskonan mulu hihi.. Thanks for coming mbaaak

  1. Saya bingung mau ikut team yg mana. Wong saya biasamya beliin anak mainan murah. Tapi yg mahal sering juga. Nah bingung kan. Hihi. Tp akhir2 ini saya selalu bujuk2 anak untuk beli mainan yg murah2 aja sih.. hehe.

  2. Rekomendasi mainan yang bisa bikin duduk anteng (lama), dan nggak ngebosenin (besok2nya masih mau dimainin lagi) apa ya? #rekomendasimamakinong #askmamakinong #pilihanmamakinong 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s