Pencarian Sekolah, Kegalauan Tiada Henti

Welcome to liat-upil-anak-aja-too-much-worries world alias EMAK EMAK LYFE. Huft.

Sejak Keenan umur 6 bulan sebenarnya saya sudah mulai memikirkan persiapan anak masuk sekolah. Memikirkan seenggaknya nanti bayarnya ga pake daun. Haha. Akibat biaya sekolah sekarang suka UNREAL. Belum lagi inflasinya yang ga nurut sama inflasinya BI. Ya ga sih.

Tapi sayangnya saya lupa mikirin, BAKAL SEKOLAH DIMANA YA ENTAR. HAHAHAH. Soalnya emaknya (semi) nomaden gini sih. Lalu setelah baca-baca blog orang beserta masukan teman-teman, akhirnya muncul banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya untuk memilih sekolah untuk anak. Ketahuilah, saya ga sampe ikutan trial ke sekolah satu-satu seperti review di blog-blog itu loh. Tapi yang kaya gitu aja HAYATI SUDAH LELAH BRAAAY!

Dari banyak faktor itu, saya telah meringkasnya menjadi domain faktor (halah apa sih) untuk mengerucutkan pilihan. Domain faktor yang menjadi pedoman saya, yang mungkin bisa jadi masukan bagi ibu-ibu ogah rempong tapi maunya dapet yang terbaik (dan biaya yang affordable) seperti saya, antara lain sebagai berikut:

1. Basic Sekolah

Saat ini banyak sekali basic sekolah. Atulah istilahnya apa, pokoknya kalo saya mah nyebutnya basik sekolah. Ada yang berbasis islam, bilingual, kepribadian, montessory, apalah apalah begitu. Atu we ini emak-emak lieur nanaonan etaaaa.. Akhirnya saya serahkan dan kembalikan saja kepada AlQuran dan Hadist (jamaaaaaah ~). Saya memilih basik Islam, yang ada target hafalan surat-surat, diajarin adab-adab Islami, yang pokoknya sekarang kalo yang Islam terpadu mah kurang lebih sama kurikulumnya. Kenapa akhirnya saya milih ini, padahal dulunya saya montessory garis kerashh. Pada suatu ketika, ketika Keenan masih 2 tahun, saya iseng-iseng trial ke sekolah yang universal, bilingual, dan semi-semi montessory. Miss-missnya sih banyak yang pakai jilbab juga, namun akan tetapi, ketika bagian baca doa, saya kok kurang sreg. Woi anak w ntar ga hapal rodhitubillahiroba (doa pembuka majlis) — pikiran berlebihan seorang emak-emak (sok) visioner. Saya langsung mengkeret, dan akhirnya setelah diskusi dengan suami, kami lebih takut ga bisa jawab pas ditanya munkar nakir “kenapa kamu lebih memilih sekolah yang katanya keren kekinian itu dibanding sekolah yang mengenalkan Allah sejak dini”. Matilah awak maaaaak… Akhirnya, saya dan suami memilih sekolah anak sebagai salah satu bentuk ikhtiar mendidik anak dan mengenalkan agama sebagai fondasi edukasi.

(udah kaya pemain Ayat Ayat Cinta belum aku…)

“FAHRI!! NIKAHI AKUUH FAHRII” -pret.

Jadi intinya, yakinkan dan pastikan, mau seperti apa fondasi pendidikan untuk anak kita. Mumpung anaknya masih nurut kan, nanti mungkin pas dia udah SMP ke atas, mereka akan memilih sekolah sesuai dengan preferensi mereka. Tidak ada basik sekolah yang tidak baik. Namanya juga sekolah, ga ada yang ngajari biar jadi orang jahat. Dan yang perlu diingat, sekolah hanyalah salah satu sarana untuk mendidik anak. Pendidikan utama, terutama untuk anak-anak yang masih kecil, adalah di rumah dan keluarga. Jadi jangan sampai elemen terpenting itu hilang. (sayup sayup terdengar lirik “harta yang paling berharga, adalah keluharghaaa ~”)

GILAK AKO KOK MERASA KEREN BANGET DI POSTINGAN KALI INI. *silakan sundud saya kaaaak ~

2. Lokasi Sekolah

Di saat kegalauan menyerang, saya sempat mengajukan polling di instastory, pilih “sekolah yang bagus tapi jauh” atau “sekolah yang B aja tapi deket“? Dan ternyata mostly responden memilih untuk kriteria “sekolah yang B aja tapi deket“. Ini sih diakibatkan rumah saya di bandung coret sih, jadi sekolah inceran di Bandung, namun apa daya rumah nun jauh si pinggiran. Sebenernya enakan kalo bagus dan deket ya. Namun Tuhan selalu menghadapkan kita dengan pilihan-pilihan yang terkadang sulit bagi ibu-ibu picky, apalagi memiliki pengasuh anak yang nyasaran~ HAHAHAHA. ITU SIH GUEEEE AJAAA KALIKKK.

Untuk memilih sekolah bagi anak yang baru mau masuk PG atau TK, memang baiknya yang dekat rumah saja. Syukur-syukur kalo udah deket rumah, tinggal jalan kaki, bagus, dan murah pula (idaman para ibu). Menurut Ibu-ibu yang memberikan jawaban “sekolah yang B aja tapi deket“, itu atas nama hak asasi anak. Mengembalikan fitrah anak yaitu bermain, bukan menghabiskan banyak waktu di jalan, yang biasanya orang tua akan menyerahkan nasib selanjutnya pada yang mulia smartphone. Itu kebanyakan yang mereka khawatirkan.

Begitu juga untuk yang memilih “sekolah yang bagus tapi jauh”, beberapa responden mengirimkan Direct Message ke saya. Sebagian besar mereka khawatir, apalagi dibumbui cerita kalau temannya ada yang nyesel menyekolahkan “asal”, yang penting deket. Beberapa kasus ditemukan kalau anaknya jadi mengucapkan kata-kata yang ga proper di usianya karena sekolahnya di dekat rumah yang kebetulan bukan sekolah komplek. Tapi enaknya ya anak pulang sekolah masih bisa ngaso-ngaso, makasn siang, maen bola, cari kecebong, maen layangan, sampe eneg.

Jadi Ibu Kompor pilih yang mana? HAHAHAH… Akhirnya saya pilih preferensi pertama. Jauh dan (semoga) bagus. Kenapa? Ya karna mbak saya itu nyasaran Buibu.. Ga kasian sama anak kalo capek? Saya lebih kasian kalau anak saya nyasar karna yang nganter sering disorientasi medan. HUHUHUHU. Jadi rencananya Juli nanti saya akan sedikit lebih repot bolak balik jemput anak sekolah, dan sebisa mungkin anak ga ikutan nungguin saya sampe beres kerja. Bandung-Cimahi ga sejauh Jakarta-Bogor cuy. Jadi masih bisa dijangkau. Urusan ijin bu bos ini yang dipikirkan kemudian karna bakal ngilang tiap jam istirahat. hahaha.

Kalau ibu-ibu masih galau, bisa juga mencari alternatif sekolah yang menyediakan jemputan. Saya sempet kepikiran gitu juga, namun setelah berulang kali diskusi dengan bapak kompor, arah pilihan kami selalu kembali ke sekolah itu terus. Jadi yaaa sudah deh..

3. Biaya Sekolah

Sebenarnya ini harusnya jadi faktor utama menentukan anak sekolah dimana yaaa. Tapi rumusnya sih udah jelas. Sesuaikan dengan budget dan kemampuan orang tua masing-masing. Karena sayangnya PG dan TK kok hampir gapernah denger ada beasiswanya. Beda sama SMA atau kuliah. Ga kuat bayar, tapi bisa diusahakan cari beasiswa. Plis atulah Bu! Huhu..

Jadi saya pake prinsip, yaaa semampunya orang tua (tentunya dengan senantiasa mengurangi jajan cireng) biar duit kekumpul buat bayar uang pangkal serta tution fee. Saya itung-itungan sama suami, dari mulai uang pangkal berapa, SPP berapa, ongkos bensin antar jemput berapa, dan ongkos lain-lain. Iya, kami telah menyiapkan asuransi pendidikan, tapi nanti diambilnya paling pas SD.

Untuk urusan biaya sekolah, nanti mungkin akan saya posting di post lain yaa. Tapi kayaknya di The Urban MAma sam MD udah banyak yang share masalah biaya sekolah ya. Tapi sejauh saya survey, di Bandung masih cukup terjangkau (meski sedikit ngoyo) oleh dua orang tua PNS, apalagi dibanding sama Jakarta yang saya harus nyebut berkali-kali liat uang pangkalnya udah bisa DP mobil. Kzl. Halo ILC, kali daripada bahas dana kampanye dan politik, sekali-kali bahas biaya uang pangkal sekolah anak yang semakin ngehe’ ini. Kan pendidikan adalah hak setiap warga negara paaak… kalo berpolitik maaah suka suka situ ajaaa.

4. Waktu Sekolah

Waktu atau durasi anak bersekolah juga sebaiknya menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan. Tentunya untuk anak yang masih PG atau TK, tidak bisa disamakan dengan SD. Biasanya rata-rata sekolah PG/TK durasinya 3-4 jam setiap pertemuan. Beberapa sekolah setiap hari, beberapa 3-4 hari per minggu. Ada juga yang full day. Bagi saya tidak masalah asal porsi belajar di kelas, istirahat, dan bermain seimbang. Jadi kebutuhan anak untuk bermain tetap terpenuhi.

So far, Ibu kompor mengambil waktu yang durasinya 3-4 jam sehari dan dalam seminggu ga full seminggu sekolah. Itu juga kalo anaknya males, atulah biarin ga sekolah. Shantay.. meski bayar SPPnya ga shantay (tetep).

5. Guru dan Support System sekolah

Ini sih berdasarkan pengalaman saya dan Bapak Kompor survey beberap sekolah. Saya adalah tipe yang kalo cari info nanyanya sampai, nanti pas lulus gimana hahaha. Demanding ya kak! Saya seneng kalo ngobrol sama guru/pengurus yang hafal betul kondisi sekolah dan pengalaman sama visi misi sekolah. Kenapa? Karena dengan paham betul sekolah dan konsep pendidikan yang diberikan, saya jadi yakin akan seperti apa gambaran anak saya nantinya sekolah disitu.

Saya paling sebel kalau nanya-nanya, tapi yang ditanya tulalit, even itu satpam atau petugas administrasi. Ogah deh kalo ditanya anu inu aja bingung lempar-lemparan jawaban. Ish, kan ogah, udah ngeluarin duuit, tapi ga meyakinkan gitu. Saya khawatir aja nanti kalo ada apa-apa, juga lempar-lemparan lagi. Bisa jadi catatan kali ya buat sekolah-sekolah. Ada baiknya guru dan seluruh elemen sekolah dibriefing dengan baik, sehingga semunya informatif dan dapat memberikan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Nah kan! Mulai ngamuk. Hahaha.

6. Extrakurikuler

Saya baru tau loh sekarang anak play group pun ada extra kurikulernya! Waw… segitunya ya sekolah jaman sekarang. Ekskul sebenarnya jadi kebutuhan tersier saya dalam memilih sekolah. Tidak utama, karena toh pada dasarnya (jika memang perlu), orang tua bisa memberikan pelatihan sendiri atau les di luar sekolah. Namun alternatif ekskul di sekolah sebenernya memberikan kemudahan orang tua dan mengurangi tingkat kerepotan orang tua (tentunya menekan biaya transport dan biaya les). Biasanya sekolah yanga da ekskulnya akan memberikan bandrol biaya yang sangat terjangkau. Jadi, bukan hal yang buruk jika mengikutsertakan anak untuk ikut ekskul.

7. Fasilitas Sekolah

Sekarang sekolah saling bersaing untuk memberikan kenyamanan dan kelengkapan infrastruktur. Meski ini bukan yang utama, mungkin bisa menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan untuk memasukkan sekolah anak. Fasilitas standar pada umumnya, sekolah memiliki ruang kelas, toilet yang bersih, ruang tunggu khusus orang tua, dan ruang guru.

Saya prefer untuk ruang tunggu orang tua yang dipisahkan dan membiarkan anak sekolah sendiri tanpa didampingi orang tua. Kemudian akses masuk ruang yang terbatas juga menjadi preferensi saya. Jadi pada awal registrasi, biasanya sekolah yang memberikan batasan kepada orang-orang tertentu untuk menjemput dan mendampingi anak, akan diregistrasi, sehingga keamanan anak tetap yang utama.

Jaman sekarang, sekolah sudahbanyak yang menyediakan fasilitas lux seperti kolam renang, lapangan futsal, playground, bahkan kebun sendiri. Semua tergantung ke kekuatan finansial masing-masing orang tua, karena semakin lengkap fasilitas, berbanding lurus juga dengan biaya sekolah. Yha menurut nganaa, bangunnya pake tanah?

Lalu akhirnya Keenan sekolah dimana (alias sekolah pilihan Bapak dan Ibu Kompor)? Oke, tunggu postingan selanjutnya ya. Soon akan posting akhirnya Keenansekolah dimana, biaya, dan alasan kenapa pilih situ.

Kalau kamu, faktor apa yang menentukan pilih sekolah untuk anak? Share di komen ya!

Advertisements

8 thoughts on “Pencarian Sekolah, Kegalauan Tiada Henti

  1. Ceritain dong jadinya sekolah dmn? Lg bingung juga niih anakku mau sekolah dmn. Secara rumah ku di bandung coret juga 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s