#TUMBloggersMeetUp: #ResepMudahMeriah Blue Band, Menghadirkan Cinta Dalam Setiap Kue Buatan Ibu

Idul Fitri di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari kue kering atau disebut cookies. Dulu sewaktu kecil, setiap puasa menjelang lebaran, oven tangkring selalu mengepul, loyang penuh olesan margarin, dan toples-toples kue mulai terisi aneka macam kue kering. Mulai dari lidah kucing, putri salju, nastar, kastengel, dan sagu keju. Hayoo siapa yang setiap silaturahmi ke tetangga selalu kenyang makan kue kering??!!

Saat ini bisnis kue kering telah menjamur dan menjadi bisnis yang menjanjikan. Dengan alasan kepraktisan, banyak orang yang lebih memilih untuk membeli kue khas lebaran daripada membuatnya sendiri. Apalagi tak sedikit yang menawarkan pembelian secara online, sehingga semakin memanjakan konsumen untuk tidak perlu lagi membeli kue ke toko, apalagi membuatnya sendiri. Orang telah beralih lebih mengandalkan label cookies shop baik yang online maupun offline, salah satunya juga karena dengan alasan minimnya peralatan baking yang mumpuni. Selain itu, keterbatasan inspirasi untuk membuat resep masakan kue khas lebaran juga menjadi momok para ibu, sehingga dalam benak sebagian besar ibu, baking adalah hal yang sangat sulit dan mustahil dilakukan.

Beragam tantangan tersebut yang menjadi dasar Blueband untuk menghadirkan 10 resep kue khas lebaran yang dapat dibuat tanpa menggunakan oven. Tidak ada lagi cerita meminjam oven tetangga, atau ribut ingin mencicil oven setiap tahunnya. Kali ini kue kering made in rumah dapat kembali memenuhi toples, dan keseruan dapur dengan aneka adonan kue menjelang lebaran, kembali hadir. Dan yang paling penting, selalu ada cinta dalam setiap suapan kue yang dibuat oleh ibu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Nando Kusmanto, Brand Manager Blue Band, dalam kesempatan #TUMBloggerMeetUp: Blue Band Cake And Cookie Sharing Session & Baking Workshop, di Restoran Lucy in The Sky, SCBD hari Sabtu pekan lalu (20/5),  yang menceritakan bahwa setiap ibu pasti menginginkan dapat membuat sendiri kue khas lebaran yang lezat dan istimewa. Namun para ibu selalu dihadapkan dengan beragam tantangan, mulai dari peralatan yang tidak komplit sampai dengan bingung menentukan resep kue. Berawal dari hal tersebut, Blue band berkolaborasi dengan seorang chef muda sarat pengalaman, Chef Ayu Anjani Rahardjo, telah menciptakan 10 resep masakan kue khas lebaran yang tidak memerlukan oven, agar para ibu Indonesia mendapatkan momen baking yang mudah dan menyenangkan.

Cookies no oven? Yup! Nampak impossible, but its exist! Dalam acara tersebut, sesaat setelah melakukan registrasi, saya terpana dengan dekorasi Lucy in the Sky yang saat itu didominasi oleh warna pastel, senada dengan dress code hari itu, yaitu paste candy color. Langit-langit ruangan dihiasi dengan ornamen khas bulan Ramadhan, meja-meja telah ditata apik dengan peralatan tempur memasak, bahan-bahan yang telah ditakar, dan BlueBand Cake and Cookie. Terdapat satu spot photobbooth yang cantik dengan 2 scandinavian chair berwarna kuning cerah, membuat suasana semakin segar. Di sampingnya, telah disediakan kids area, dengan beberapa peralatan mewarnai yang telah ramai dengan beberapa anak yang sedang asik memegang crayon. Namun, yang paling membuat saya takjub, terdapat 2 cookie’s corner, dimana meja beralas kain furing putih dan kain kotak-kotak kuning ceria, di atasnya ditata dengan apik beberapa (banyak lebih tepatnya) kue kering yang dibuat tanpa menggunakan oven! Tentu saja saya tidak melewatkan untuk mencicipi beberapa jenis kue, dan semua enak! Crunchy? Yes! Yummy? No doubt! Keenan malah berkali-kali minta. Oops!

Dalam perhelatan tersebut, hadir pula Ayudia Bing Slamet. Artis sekaligus penulis buku Teman Tapi Menikah ini bercerita betapa menyenangkannya mempersiapkan kue kering bersama keluarga ketika dia masih kecil. Kebetulan, ibu Ayudia dulu sempat jualan kue kering. Bisa dibayangkan, betapa serunya saat-saat memasak kue bersama. Hal itu selalu menjadi kenangan manis dan Ayudia ingin kembali menciptakan kembali keseruan momen tersebut di keluarga kecilnya. Tidak hanya sekedar kumpul-kumpul dengan suami, anak dan orang tua, tapi juga membangun kebersamaan dengan melakukan aktivitas bersama-sama. Ayudia juga berharap, nantinya bisa membuat kue bersama-sama dengan anak dan suami, bahkan memiliki resep khusus kue khas lebaran, kue ala Ayudia.

Namun saat ini, artis yang kerap dipanggil Cha ini masih banyak tantangan yang membuatnya belum dapat mewujudkan mimpinya membuat kue lebaran. Sekala, anaknya yang masih berusia satu tahun, masih belum bisa ditinggal-tinggal, apalagi Ayudia mengasuh Sekala langsung tanpa baby sitter. Selain itu, karena masih keluarga baru yang belum lama menikah, Ayudia masih belum memiliki peralatan memasak kue yang lengkap, sementara yang dimiliki ibunya dahulu. Belum lagi resep kue saat ini yang begitu banyak beredar di internet, justru membuatnya bingung menentukan resep mana yang akan ia ikuti. Menurutnya, membuat kue itu takarannya harus tepat dan presisi untuk memperoleh hasil kue yang lezat. Sama halnya dengan ibu-ibu blogger yang hadir disitu, istri dari Ditto ini sangat gembira dan antusias menyambut kreasi resep kue tanpa oven dari Blue Band.

Beberapa blogger papan atas dan selebgram pun ikut memeriahkan acara itu. Sebut saja Alodita (@alodita), Fifi Alvianto (@fifialvianto), Tara (@mamaofsnow), Tyna Kanna Mirdad (tynakannamirdad), dan Cynthia Riza (@cynthiariza). Oke fix, mereka kece-kece berat! Haha.. Selama ini Cuma seliweran di timeline instagram, sekarang bisa foto barengan. Selanjutnya semoga bisa ikutan tenar. Hahahaha.. AMIN!

Nando melanjutkan, bahwa untuk mempermudah para ibu memasak kue kering dan membuat suasana memasak semakin menyenangkan, Blue Band telah mengeluarkan produk Blue Band Cake and Cookie. Produk ini merupakan varian dari Blue Band yang dikhususkan untuk membuat kue, yang telah mengandung butter dan margarin yang pas sehingga kue buatan ibu akan lebih sempurna teksturnya, lebih renyah, dan mendapatkan rasa serta aroma butter yang lezat tanpa harus menambahkan butter. Dan yang pasti, PRAKTIS!

Setelah talkshow, yang paling ditunggu adalah simulasi memasak cookies no oven bersama chef Ayu Anjani. Chef berusia 22 tahun ini membuat Chocolate Chip Cookies, dan PAKE KUKUSAN! Di sela-sela memasak, chef Ayu memberikan tips-tips mebuat kue no oven antara lain:

  1. Pakailah kukusan/dandang dengan bahan yang cukup tebal;
  2. Tidak perlu menggunakan air, supaya kue yang dihasilkan crunchy;
  3. Gunakan api yang sangat kecil untuk menghindari kue menjadi gosong.

Selain itu, pastry chef yang pernah tinggal di Australia ini juga memberikan tips supaya kualitas kue tetap baik saat disimpan, antara lain:

  1. Gunakan toples dari kaca, jangan plastik, dengan alasan keamanan kesehatan. Menurutnya, kita tidak pernah tahu, terbuat dari bahan apakah plastik tersebut.
  2. Jangan terlalu lama menyimpan kue di dalam toples.
  3. Berikan silica gel di dalam toples untuk mengurangi kelembaban dan menghindari dari jamur. Silica gel ini bukanlah bahan pengawet ya, hanya bahan untuk menyerap cairan di sekitarnya.

Penasaran dengan resep kue no oven? Langsung meluncur ke www.blueband.co.id/dapurnooven untuk mendapatkan 10 #ResepMudahMeriah kue kering yang dimasak tanpa menggunakan oven. Resepnya antara lain; kastengel, nastar keju, putri salju pandan, bola mentega, chocolate chip cookiem kue kacang strawberry, kue kelapa kismis, kue sus keju, putu cake, dan rainbow crispy treats. Di #ResepMudahMeriah ini, Blue Band memang sangat memperhatikan bahwa selalu ada cinta dalam setiap kue yang dibuat langsung oleh ibu. Karena jika hanya membeli kue, maka akan ada sisi emosional yang hilang.

Yang paling ditunggu dan paling seru dari acara kemarin adalah lomba memasak kue! Saya dengar juga ada kompetisi menghias toples ya. Sayang sekali saya tidak bisa ikut acara sampai selesai karena ada keperluan lain. HUHUHU. Maklum jauh-jauh dari Bandung, sekalian semua kepentingan disabet mumpung di Jakarta. Smeoga untuk kesempatan berikutnya bisa fokus sampai acara selesai! Yang pasti saya akan mencoba resep kue no oven ini!!  Apalagi tau kalau kita bisa konsultasi resep juga di instagram Blueband di @blueband_id dan di FB yaitu di link www.facebook.com/BlueBand, dan pasti akan dibalas oleh adminnya, paling lambat 2×24 jam!

Hello (again) Gym!

Saya balik ngegym lagi (duileeee). Terakhir ngegym pas mau nikah dan 2 bulan setelah nikah (lalu ku hamil duluan). Kenapa akhirnya pilih CLBK ngegym lagi? Alasan utamanya sih ngisi waktu sambil nunggu suami les. Wakakaka. Banyak duit banget kan. (Padahal sempet nyesel habis daftar gym, inget cicilan 😭).

Tapi nyeselnya bentar kok, kalau ingat investasi biar sehat. Langsing mah bonus (padahal sasaran utama). Lagian memang sejak dulu lumayan seneng olahraga, meski lebih seneng gegoleran ngemil kentang goreng sambil nonton ipin upin. Dulu pas di Jakarta lumayan seneng lari, temen lari banyak. Semenjak di Bandung, gerobak kupat tahu lebih menarik saat jalan jalan ke Saparua. Aku kudu piyeee 😭😭.

Akhirnya setelah berjibaku dengan pikiran di kepala, itung-itung pengeluaran bulanan (perhitungan), dan mempertimbangkan waktu serta tempat gym yang dekat kantor, akhirnya saya (atas ijin suami), mencari informasi tentang tempat gym yang dekat kantor. Kenapa harus dekat kantor? Ya karena rumah saya di Bandung, eh Cimahi. Wakakakaka. Pertimbangan kedua juga karena lebih fokus, setelah absen pulang, lalu cuss ke tempat gym. Lagipula suami lesnya juga dekat-dekat kantor. Kalau mampir rumah duluan, maka kembalilah kentang goreng dan ipin upin melambai-lambai. Belum lagi Kinong yang minta dicebokin.

Maka dimulailah pencarian tempat gym. Kandidatnya cuma dua sih, yaitu gym di hotel Preanger sama di Golds Gym Braga Citywalk. Pertama yang saya kunjungi adalah di Preanger. Di sana saya dilayani, ((dilayani)) oleh mas mas (lumayan) good looking. Dijelasin sistemnya, membership, fasilitas, kelas, dan tempat alat gym. Saya melongok sebentar. fasilitas yang ditawarkan adalah peralatan gym standar, pool, dan beberapa kelas, kalau ga salah yoga sama zumba. Al least pas itu saya ke Preanger memang pengen tau aja, katanya murah. Memang lumayan murah sih dibanding tempat gym yang memang fitness center, tapi saya kurang sreg karena sepertinya sepi pas saya kesana. Tapi menurut informasi, gym disanan akan ramai pada (waktunya) eh, maksudnya pada malam hari.

Saya pilih Gold’s Gym alasannya adalah, karena disana kapanpun kesana akan tetap hingar bingar. Ciye hingar bingar, dugem kalik (kayak pernah aja deh yan). Kalo saya pribadi, seneng yang ramai, karna jadi makin semangat liatin pada pake sport bra, terus biasanya orang cenderung pada cuek, mau situ salto, atau plank sambil nonggeng, nobody’s notice. Sebenarnya di Bandung ada Fitness First juga, cuma pertimbangan saya cuma satu, yang deket kantor. Itu aja. Jadi saya ga tau komparasi di FF masalah biaya dll nya kaya apa.

Ada beberapa hal, kapan kita merapa perlu untuk nge gym:

  1. Kerja kantoran monoton di depan komputer, dan itu berlangsung lama.
  2. Badan mulai tidak proporsional, alias bun-cit atau gen-dut.
  3. Males kepanasan kalau pas workout.
  4. Suka banyak jenis olahraga, seperti yoga, body combat, body pump, atau boxing. Kalau di fitness sudah all in.
  5. Niat konsul sama personal training. Kenapa? Karena PT itu ga cuma ngenali alat-alat aja, tapi juga bisa konsultasi gizi, workout yang tepat sesuai dengan porsi yang diharapkan. Misal mau ngurangin size perut, PT ini punya serangkaian latihan yang (nampak) biasa aja, tapi sungguh nampol tralala.
  6. Sambil nunggu suami les (ini sih alasan gue ajeeeee).

Lalu berapakah biaya nge gym di GG?

Ternyata ada beberapa hal (yang entah ini akal-akalan marketingnya atau bukan) pertimbangan, marketingnya memberikan harga ke konsumen. Misalnya saya, dateng sendiri ke GG, maka (katanya) harganya akan lebih murah jika dibanding marketingnya yang jemput bola. Atau misal saya dateng karena dapet rekomendasi dari teman, maka teman saya akan mendapat diskon (macem member get member ya).

Jadi saya kena pendaftaran untuk single club. Kenapa? Karena saya optimis aja ga bakal mutasi kemana-masa selama 1 tahun ini hehe. Lagian kalau lagi traveling atau lagi dinas ke luar kota, kayaknya ga sempet kepikiran mau nge gym. YA KALEEEE. Kecuali kalau sebentar lagi gue kuliah di UK kali ya (AMININ AJAAAA). Tapi kalau untuk penggunaan gym membership di luar negeri hanya berlaku 14 hari pertama saja. Duh, padahal kan saya kemungkinan bisa 2-5 tahun ya di UK (bukan halu, cuma optimis, OPTIMIS pake capslock).

Jadi saya dapet harga pendaftaran sama pembayaran bulan terakhir (komit 12 bulan) 1.xxx.xxx, ga nyampe 1,1 juta kayaknya. Itu juga termasuk 15 hari pertama karena saya daftar pas tengah bulan. Sebulannya kena 408k, dicharge langsung ke CC. Jadi sebaiknya anda punya CC kalau mau ngegym di GG (bukan ajakan riba’ loh). Cuma memang kebijakan dari manajemen seperti itu. Iya sih lebih praktis bagi GG, dan kalau terjadi apa-apa dalam proses pembayaran, itu sudah urusan pemilik kartu dan banknya. Oh iya, dari paket tersebut, sudah dapet gym bag GG yang koneng koneng tea.

So far sudah jalan sebulan, sudah pakai 2 kali PT (paket), dan PT disini baik-baik banget, helpful, ramah, ga songong. Kelasnya seru-seru juga, tapi pas hatta yoga, i felt so dumb, kayaknya cuma gue sendiri yang ga bisa ngangkat badan (plis deh!). Gapapa, still 11 months to gooo.. Hahaha Semangaat!!

Untuk rules, pada dasarnya sama dengan tempat gym lain, seperti peraturan untuk cuti, penegnaan tagihan bulanan, loker, kunci dll.

Oke, lets see. SEMOGA ISTIQOMAH YA SIS!

*sebenarnya sudah bikin vlog pas ngegym.. tapi tapi.. nanti aja uploadnya hahaha.

Roti Gempol di Gang Senggol

Bagi yang tinggal di Bandung, kuliner ini pasti sudah tak asing lagi. Letaknya di Jalan Gempol, di antara spot kuliner “rakyat” yang ramai, namun kualitas rasa dan pengalaman kuliner, tidak perlu diragukan. Saya biasa kesana (iya biasa, saking hobinya) setiap hari Jumat selepas lari pagi. Habis lari, langsung kalap nggempol. Disarankan kesana tidak usah pakai mobil, kecuali mobilnya bisa dilipet, soalnya jalanan cukup sempit. Bisa sih lewat, cuma kadang jadi zolim sama pengguna jalan lain kalo pas lagi papasan. Hehe.

Setiap kali ke Roti Gempol, pasti selalu ramai. Kekurangan selain parkiran, tempat nya juga sempit. Karena letak tempat makannya berdempetan dengan pabrik rotinya, ketika parkir, biasanya sudah kecium wangi roti. Hmmm.. Roti gempol memang produk roti home made yang menawarkan menu roti tawar, roti gandum, dan isiannya. Bagi yang ingin menu lain, roti gempol juga menjual mie yamin yang rasanya tak kalah otentik!

Apa saja yang dijual di roti gempol? ROTI. Hehehehe.

2016-12-16-photo-00023168

Roti nya dibakar, di atas kompor, eh wajan, eh teflon yang besar. Dasarnya adalah roti tawar dengan berbagai pilihan. Ada roti tawar biasa, roti tawar spesial, roti tawar super, roti tawar gandum, dan havermut. Yang membedakan adalah bahan susu dalam roti tersebut (plis jangan nyari susu kuda liar). Untuk pilihan isian, dibagi menjadi:

  1. manis (coklat, kacang, susu, selai -> bisa dicampur maksimal 3, jika tambah keju maka hitungannya masuk ke asin)
  2. asin (keju telur)
  3. spesial (daging telur/ daging keju)
  4. komplit (daging, telur, keju)

Masing-masing isian ada beraneka ukuran, ada yang perseorangan, ada juga yang ririungan. Untuk yang ririungan bisa untuk 2-3 orang (ya kalo saya sendiri sih bisa habis sendirian). Kalau yang ririungan rasanya bisa mix asin dan manis.

Kalau favorit saya sih yang gandum spesial perseorangan (kalo ririungan aku malu). Rotinya lembut, telurnya bisa request well done atau moderate, ada saus mayonais yang gurih. ENAK BANGET! Harganya sangat terjangkau, sudah pasti. Minumannya selain yang dibuat sendiri oleh karyawan (es teh, milo, kopi dll) ada juga thai tea merek addict tea, susu kedelai aneka rasa mereknya doudou (favorit yang aroma melon), dan beberapa minuman warna warni menarik lainnya.

2016-12-16-photo-00023174 2016-12-16-photo-00023169 2016-12-16-photo-00023177

Kalau beli roti tawarnya bawa pulang, jangan sedih dan jangan bimbang kalau potongan ketebalan rotinya berbeda dan tidak konsisten, Semua karena dikerjakan dengan manual, alias dipotong langsung sama breadmakernya pakai pisau roti. Keuntungannya, kita bisa request ketebalan roti, bisa yang tebel-tebel kayak badan saya, atau yang tipis-tipisa biar kalau mau di toast di rumah bisa kemripik.

2016-12-16-photo-00023167

Selain menjual roti, Roti Gempol juga jual selai dan saos yang sama persis dengan yang disajikan dalam menu. Memang sausnya otentik juga, bertekstur, asam-manis-pedasnya pas. Jadi untuk yang mau kasih surprise ke pacar/suami/teman/keluarga dengan roti ala roti gempol, you can make your own Gempol 2.0. Oh iya, beberapa roti yang ditawarkan di etalase juga tak kalah drooling. Ada roti sobek aneka isian, dan donat yang kita bisa pilih taburannya, gula putih atau merah. Saya sukaaa sekali dengan donatnya yang berukuran cukup jumbo, dengan taburan gula merah. lembut banget dan harganya pun bikin gagal diet, 2k rupiah saja. Nangis bahagia, meski berakhir timbangan geser ke kanan terus.

2016-12-16-photo-00023172 2016-12-16-photo-00023163 2016-12-16-photo-00023164

Jika kemari, saya belum pernah mengajak anak karena tempatnya pun tak kalah “gang senggolnya”, takut Keenan rusuh. Meski kecil, tapi bersih dan nyaman. Ada sofa panjang dengan meja-meja kecil mirip coffee shop. Memang sebaiknya kalau makan disini (apalagi pas lagi jam ramai) ga bisa sambil arisan keluarga, atau reunian, karena dijamin dilempar sutil sama mas-mas pemanggang roti sambil teriak “yang ngantri banyak WOI!”. Interior ROti Gempol yang sederhana, justru membuat manis dan menarik.

2016-12-16-photo-00023178

Ada yang punya rencana ke Bandung tahun baru ini? Jangan sampai kelewatan kuliner satu ini ya!

Ngopi Cantik di Watt Coffee – Kwitang

Masih inget kan postingan saya tentang cerita dalam secangkir kopi di sini? Jadi ceritanya suatu siang di tengah kebosanan melanda dan kebetulan tanggal muda, saya meng-iya-kan ajakan temen saya, Ronny (i spelled your named carefully and correctly ya madam!) untuk ngopi cantik di kafe ini. Awalnya saya agak surprise karna baru tahu ada kafe kece… Continue reading Ngopi Cantik di Watt Coffee – Kwitang