Pencarian Sekolah, Kegalauan Tiada Henti

Welcome to liat-upil-anak-aja-too-much-worries world alias EMAK EMAK LYFE. Huft.

Sejak Keenan umur 6 bulan sebenarnya saya sudah mulai memikirkan persiapan anak masuk sekolah. Memikirkan seenggaknya nanti bayarnya ga pake daun. Haha. Akibat biaya sekolah sekarang suka UNREAL. Belum lagi inflasinya yang ga nurut sama inflasinya BI. Ya ga sih.

Tapi sayangnya saya lupa mikirin, BAKAL SEKOLAH DIMANA YA ENTAR. HAHAHAH. Soalnya emaknya (semi) nomaden gini sih. Lalu setelah baca-baca blog orang beserta masukan teman-teman, akhirnya muncul banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya untuk memilih sekolah untuk anak. Ketahuilah, saya ga sampe ikutan trial ke sekolah satu-satu seperti review di blog-blog itu loh. Tapi yang kaya gitu aja HAYATI SUDAH LELAH BRAAAY!

Dari banyak faktor itu, saya telah meringkasnya menjadi domain faktor (halah apa sih) untuk mengerucutkan pilihan. Domain faktor yang menjadi pedoman saya, yang mungkin bisa jadi masukan bagi ibu-ibu ogah rempong tapi maunya dapet yang terbaik (dan biaya yang affordable) seperti saya, antara lain sebagai berikut:

1. Basic Sekolah

Saat ini banyak sekali basic sekolah. Atulah istilahnya apa, pokoknya kalo saya mah nyebutnya basik sekolah. Ada yang berbasis islam, bilingual, kepribadian, montessory, apalah apalah begitu. Atu we ini emak-emak lieur nanaonan etaaaa.. Akhirnya saya serahkan dan kembalikan saja kepada AlQuran dan Hadist (jamaaaaaah ~). Saya memilih basik Islam, yang ada target hafalan surat-surat, diajarin adab-adab Islami, yang pokoknya sekarang kalo yang Islam terpadu mah kurang lebih sama kurikulumnya. Kenapa akhirnya saya milih ini, padahal dulunya saya montessory garis kerashh. Pada suatu ketika, ketika Keenan masih 2 tahun, saya iseng-iseng trial ke sekolah yang universal, bilingual, dan semi-semi montessory. Miss-missnya sih banyak yang pakai jilbab juga, namun akan tetapi, ketika bagian baca doa, saya kok kurang sreg. Woi anak w ntar ga hapal rodhitubillahiroba (doa pembuka majlis) — pikiran berlebihan seorang emak-emak (sok) visioner. Saya langsung mengkeret, dan akhirnya setelah diskusi dengan suami, kami lebih takut ga bisa jawab pas ditanya munkar nakir “kenapa kamu lebih memilih sekolah yang katanya keren kekinian itu dibanding sekolah yang mengenalkan Allah sejak dini”. Matilah awak maaaaak… Akhirnya, saya dan suami memilih sekolah anak sebagai salah satu bentuk ikhtiar mendidik anak dan mengenalkan agama sebagai fondasi edukasi.

(udah kaya pemain Ayat Ayat Cinta belum aku…)

“FAHRI!! NIKAHI AKUUH FAHRII” -pret.

Jadi intinya, yakinkan dan pastikan, mau seperti apa fondasi pendidikan untuk anak kita. Mumpung anaknya masih nurut kan, nanti mungkin pas dia udah SMP ke atas, mereka akan memilih sekolah sesuai dengan preferensi mereka. Tidak ada basik sekolah yang tidak baik. Namanya juga sekolah, ga ada yang ngajari biar jadi orang jahat. Dan yang perlu diingat, sekolah hanyalah salah satu sarana untuk mendidik anak. Pendidikan utama, terutama untuk anak-anak yang masih kecil, adalah di rumah dan keluarga. Jadi jangan sampai elemen terpenting itu hilang. (sayup sayup terdengar lirik “harta yang paling berharga, adalah keluharghaaa ~”)

GILAK AKO KOK MERASA KEREN BANGET DI POSTINGAN KALI INI. *silakan sundud saya kaaaak ~

2. Lokasi Sekolah

Di saat kegalauan menyerang, saya sempat mengajukan polling di instastory, pilih “sekolah yang bagus tapi jauh” atau “sekolah yang B aja tapi deket“? Dan ternyata mostly responden memilih untuk kriteria “sekolah yang B aja tapi deket“. Ini sih diakibatkan rumah saya di bandung coret sih, jadi sekolah inceran di Bandung, namun apa daya rumah nun jauh si pinggiran. Sebenernya enakan kalo bagus dan deket ya. Namun Tuhan selalu menghadapkan kita dengan pilihan-pilihan yang terkadang sulit bagi ibu-ibu picky, apalagi memiliki pengasuh anak yang nyasaran~ HAHAHAHA. ITU SIH GUEEEE AJAAA KALIKKK.

Untuk memilih sekolah bagi anak yang baru mau masuk PG atau TK, memang baiknya yang dekat rumah saja. Syukur-syukur kalo udah deket rumah, tinggal jalan kaki, bagus, dan murah pula (idaman para ibu). Menurut Ibu-ibu yang memberikan jawaban “sekolah yang B aja tapi deket“, itu atas nama hak asasi anak. Mengembalikan fitrah anak yaitu bermain, bukan menghabiskan banyak waktu di jalan, yang biasanya orang tua akan menyerahkan nasib selanjutnya pada yang mulia smartphone. Itu kebanyakan yang mereka khawatirkan.

Begitu juga untuk yang memilih “sekolah yang bagus tapi jauh”, beberapa responden mengirimkan Direct Message ke saya. Sebagian besar mereka khawatir, apalagi dibumbui cerita kalau temannya ada yang nyesel menyekolahkan “asal”, yang penting deket. Beberapa kasus ditemukan kalau anaknya jadi mengucapkan kata-kata yang ga proper di usianya karena sekolahnya di dekat rumah yang kebetulan bukan sekolah komplek. Tapi enaknya ya anak pulang sekolah masih bisa ngaso-ngaso, makasn siang, maen bola, cari kecebong, maen layangan, sampe eneg.

Jadi Ibu Kompor pilih yang mana? HAHAHAH… Akhirnya saya pilih preferensi pertama. Jauh dan (semoga) bagus. Kenapa? Ya karna mbak saya itu nyasaran Buibu.. Ga kasian sama anak kalo capek? Saya lebih kasian kalau anak saya nyasar karna yang nganter sering disorientasi medan. HUHUHUHU. Jadi rencananya Juli nanti saya akan sedikit lebih repot bolak balik jemput anak sekolah, dan sebisa mungkin anak ga ikutan nungguin saya sampe beres kerja. Bandung-Cimahi ga sejauh Jakarta-Bogor cuy. Jadi masih bisa dijangkau. Urusan ijin bu bos ini yang dipikirkan kemudian karna bakal ngilang tiap jam istirahat. hahaha.

Kalau ibu-ibu masih galau, bisa juga mencari alternatif sekolah yang menyediakan jemputan. Saya sempet kepikiran gitu juga, namun setelah berulang kali diskusi dengan bapak kompor, arah pilihan kami selalu kembali ke sekolah itu terus. Jadi yaaa sudah deh..

3. Biaya Sekolah

Sebenarnya ini harusnya jadi faktor utama menentukan anak sekolah dimana yaaa. Tapi rumusnya sih udah jelas. Sesuaikan dengan budget dan kemampuan orang tua masing-masing. Karena sayangnya PG dan TK kok hampir gapernah denger ada beasiswanya. Beda sama SMA atau kuliah. Ga kuat bayar, tapi bisa diusahakan cari beasiswa. Plis atulah Bu! Huhu..

Jadi saya pake prinsip, yaaa semampunya orang tua (tentunya dengan senantiasa mengurangi jajan cireng) biar duit kekumpul buat bayar uang pangkal serta tution fee. Saya itung-itungan sama suami, dari mulai uang pangkal berapa, SPP berapa, ongkos bensin antar jemput berapa, dan ongkos lain-lain. Iya, kami telah menyiapkan asuransi pendidikan, tapi nanti diambilnya paling pas SD.

Untuk urusan biaya sekolah, nanti mungkin akan saya posting di post lain yaa. Tapi kayaknya di The Urban MAma sam MD udah banyak yang share masalah biaya sekolah ya. Tapi sejauh saya survey, di Bandung masih cukup terjangkau (meski sedikit ngoyo) oleh dua orang tua PNS, apalagi dibanding sama Jakarta yang saya harus nyebut berkali-kali liat uang pangkalnya udah bisa DP mobil. Kzl. Halo ILC, kali daripada bahas dana kampanye dan politik, sekali-kali bahas biaya uang pangkal sekolah anak yang semakin ngehe’ ini. Kan pendidikan adalah hak setiap warga negara paaak… kalo berpolitik maaah suka suka situ ajaaa.

4. Waktu Sekolah

Waktu atau durasi anak bersekolah juga sebaiknya menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan. Tentunya untuk anak yang masih PG atau TK, tidak bisa disamakan dengan SD. Biasanya rata-rata sekolah PG/TK durasinya 3-4 jam setiap pertemuan. Beberapa sekolah setiap hari, beberapa 3-4 hari per minggu. Ada juga yang full day. Bagi saya tidak masalah asal porsi belajar di kelas, istirahat, dan bermain seimbang. Jadi kebutuhan anak untuk bermain tetap terpenuhi.

So far, Ibu kompor mengambil waktu yang durasinya 3-4 jam sehari dan dalam seminggu ga full seminggu sekolah. Itu juga kalo anaknya males, atulah biarin ga sekolah. Shantay.. meski bayar SPPnya ga shantay (tetep).

5. Guru dan Support System sekolah

Ini sih berdasarkan pengalaman saya dan Bapak Kompor survey beberap sekolah. Saya adalah tipe yang kalo cari info nanyanya sampai, nanti pas lulus gimana hahaha. Demanding ya kak! Saya seneng kalo ngobrol sama guru/pengurus yang hafal betul kondisi sekolah dan pengalaman sama visi misi sekolah. Kenapa? Karena dengan paham betul sekolah dan konsep pendidikan yang diberikan, saya jadi yakin akan seperti apa gambaran anak saya nantinya sekolah disitu.

Saya paling sebel kalau nanya-nanya, tapi yang ditanya tulalit, even itu satpam atau petugas administrasi. Ogah deh kalo ditanya anu inu aja bingung lempar-lemparan jawaban. Ish, kan ogah, udah ngeluarin duuit, tapi ga meyakinkan gitu. Saya khawatir aja nanti kalo ada apa-apa, juga lempar-lemparan lagi. Bisa jadi catatan kali ya buat sekolah-sekolah. Ada baiknya guru dan seluruh elemen sekolah dibriefing dengan baik, sehingga semunya informatif dan dapat memberikan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Nah kan! Mulai ngamuk. Hahaha.

6. Extrakurikuler

Saya baru tau loh sekarang anak play group pun ada extra kurikulernya! Waw… segitunya ya sekolah jaman sekarang. Ekskul sebenarnya jadi kebutuhan tersier saya dalam memilih sekolah. Tidak utama, karena toh pada dasarnya (jika memang perlu), orang tua bisa memberikan pelatihan sendiri atau les di luar sekolah. Namun alternatif ekskul di sekolah sebenernya memberikan kemudahan orang tua dan mengurangi tingkat kerepotan orang tua (tentunya menekan biaya transport dan biaya les). Biasanya sekolah yanga da ekskulnya akan memberikan bandrol biaya yang sangat terjangkau. Jadi, bukan hal yang buruk jika mengikutsertakan anak untuk ikut ekskul.

7. Fasilitas Sekolah

Sekarang sekolah saling bersaing untuk memberikan kenyamanan dan kelengkapan infrastruktur. Meski ini bukan yang utama, mungkin bisa menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan untuk memasukkan sekolah anak. Fasilitas standar pada umumnya, sekolah memiliki ruang kelas, toilet yang bersih, ruang tunggu khusus orang tua, dan ruang guru.

Saya prefer untuk ruang tunggu orang tua yang dipisahkan dan membiarkan anak sekolah sendiri tanpa didampingi orang tua. Kemudian akses masuk ruang yang terbatas juga menjadi preferensi saya. Jadi pada awal registrasi, biasanya sekolah yang memberikan batasan kepada orang-orang tertentu untuk menjemput dan mendampingi anak, akan diregistrasi, sehingga keamanan anak tetap yang utama.

Jaman sekarang, sekolah sudahbanyak yang menyediakan fasilitas lux seperti kolam renang, lapangan futsal, playground, bahkan kebun sendiri. Semua tergantung ke kekuatan finansial masing-masing orang tua, karena semakin lengkap fasilitas, berbanding lurus juga dengan biaya sekolah. Yha menurut nganaa, bangunnya pake tanah?

Lalu akhirnya Keenan sekolah dimana (alias sekolah pilihan Bapak dan Ibu Kompor)? Oke, tunggu postingan selanjutnya ya. Soon akan posting akhirnya Keenansekolah dimana, biaya, dan alasan kenapa pilih situ.

Kalau kamu, faktor apa yang menentukan pilih sekolah untuk anak? Share di komen ya!

Advertisements

Cerita Toilet Training #Kinong

img_5032-1

Saya mau jumawa. Dikit. Gapapa ya. *dilempar teklek*

Kinong. 24 months. Resmi jadi Big Boy. Karna lulus toilet training. *tepuk tangannya manaaa*

Gitu aja kok bangga banget ziz?! Ngana ga ngerasain 7 bulan eke gempor ngepel-ngepel pipis yang berceceran. Err.. bukan saya sih. Lebih tepatnya Padmi, sementara saya ngeringkuk di pojokan sambil ngasih semangat sambil (berusaha membantu) nunjuk-nunjukin lokasi-lokasi ceceran pipis. Kurang lebih seperti ini:

MK: Mamah Kinong

P: Padmi

MK: Itu.. itu mi.. nah.. kiri dikit.. terus.. terus.. bales.. baless.. lurus aja..

P: *niup sempritan dikira tukang parkir*

Begitu kira-kira. Jadi peristiwa ini saya nobatkan sebagai jumawa moment of 2016. TRING!

Dih, postingan pertama 2017 aja kok masalah nguras-isi-berok. IYA. Mumpung awal tahun, siapa tahu banyak Ibu-ibu di luaran sana yang memiliki resolusi “BEBAS DIAPERS 2017”. Mau ngirit kakak. Heheheh.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat posting di Instagram saya kalau #Kinong sudah resmi ‘Say Goodbye To Diapers”. Lalu beberapa komen menanyakan tips dan trick apa yang supaya sukses. Sebenarnya… Tips apaaa coba yang pas buat proses toilet training yang makan waktu TUJUH BULAN. Tak semedi sek ya..

Jadi kalau ngomongin rules or tips or tricks.. There’s no-one-size-fits-all toilet training approach. Ingat ya Buibu, kalau every child is different, culture setiap keluarga pun berbeda, apalagi bentuk toilet pun beragam. Dari yang jongkok, duduk, atau bahkan yang tinggal nangkring pinggir kali. Oke *off the record*.

Jadi tips yang saya share ini merupakan metode yang pas untuk anak saya, dan saya berharap kalau anak-anak di luar sana juga sesuai. Tapi yang jelas, sebelum memulai semua rangkaian toilet training (yang tidak terlalu) melelahkan (asal ada pembantu) ini, mulailah dengan BAHAGIA. Kenapa bahagia? Karena dengan bahagia, semua lelah, tenaga, emosi, dan waktu yang terkuras, terasa worth it! *silakan sundut gue pake rokok*

Sebelum menginjak ke inti masalah, saya akan beberkan fakta tentang toilet training dulu. CEILAH BANYAK TINGKAH DEH ZIZ! Ngeheheheh. Fakta ini disampaikan oleh Dr. Janet Hall, clinical psychologist dalam A Guide For Parents – Six Step guide by Expert, yang mengatakan bahwa “To be able to toilet trained, toddlers have to learn to control the impulse to spontaneously ‘let it all out'”. Aaaartinyaaaa… silahkan menuju Google Translate *slepet saya kakaaak*.

Jadi ternyata, pada intinya toilet training (TT) itu adalah melatih anak untuk dapat selalu ‘sadar’ dan dapat mengontrol otot yang berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan bladder (urin) dan anal (fecal), yang dikendalikan oleh pusat syaraf. Jadi intinya, berlatih toilet training itu yang paling penting adalah komunikasi dengan anak.

Bagaimana kalau anak belum lancar bicara?

Jangan khawatir. Yang paling penting adalah, anak sudah mengerti dengan apa yang Mama bicarakan.

Tips: Sering-sering ajak anak berkomunikasi.

Oh iya, bagaimana dengan Ibu-ibu kebanyakan jaman dahulu yang sudah mulai ‘mentatur’ anaknya sejak bayi?

Hal ini justru lebih baik lagi, karena refleks anak dilatih sejak dini. Jadi mindset anak sudah jalan ‘kalau aku dibawa ke toilet = pup/pee’. Ini sebenarnya tergantung kesiapan masing-masing orang tua. Biasanya, mindset anak akan terbentuk sekitar seminggu berjalan TT, tapi ada juga yang lebih cepat atau lebih lambat. Jika mindset anak terbentuk, belum tentu anak sudah bebas ngompol-ngompol lagi loh. Sampe sekarang pun sesekali saya kecolongan. Bukan karena anak tidak sadar akan ‘tanda’, tapi karena dia males diajak ke toilet (permasalahan selanjutnya haha).

Tips: Bawalah anak ke toilet satu jam sekali sampai anak anda paham ‘full sign’ dan bisa mengendalikan otot rektalnya (baca: ngampet).

Biasanya fase anak yang TT itu gimana ya?

Hari 1-3 Dibawa ke toilet sejam sekali. Anak masih kadang bingung. Ditungguin lama ga pipis-pipis. Udah ditungguin setengah jam, ga pipis juga, anaknya malah main air. Akhirnya senewen. Dibawa masuk rumah lagi, dipakein celana, eh malah ngompol. INI SERING BANGET.

Tips: selama nunggu pee, bagian pantat atau pinggang atau kemaluan diciprat-ciprat air, biasanya akan merangsang anak untuk pee karena sensasi dingin air. Tapi kalo ga pipis jugaa.. ya nikmati aja ~. SABAAAR.

Biasanya seminggu setelahnya anak akan tune in kalau dibawa ke toilet langsung ‘mancur’. Tapi jangan terlalu berharap nunggu anak untuk minta pipis ya. Kita yang harus inisiatif ajak anak ke toilet.

Jangan kaget kalau pas awal-awal lepas diaper, anak akan sangat sering sekali ngompol. Sejam bisa 2-3 kali! Itu karena kebiasaan menggunakan diapers yang ga perlu nahan kalau mau pipis dan anak masih belum bisa membaca ‘tanda’ pengen pee/pup.

Tips: Siapin kain pel sebanyak-banyaknya. Hehehehe.

Kalo pup gimana?

Masalah per-eek-an ini gampang-gampang susah. Apa gampangnya? Lebih mudah dideteksi dini dan lebih lama proses sampe mejret dibanding pee. Biasanya mudah dilihat dari ekspresi dan tingkah laku anak akan mudah terlihat. Muka nyureng, alis berkerut, mulut menekuk, lobang hidung membesar, ya ga sih gaes? Nah, kalau sudah seperti itu, langkah selanjutnya adalah lepas celana-ngacir ke toilet.

Apakah setelah itu semua masalah selesai dan dunia menjadi lebih indah?

Ya cencu cidaaaak dooongg!

Sampai di toilet, didudukin/dijongkokin, apa yang terjadi kemudian? Kebanyakan anak akan menangis atau menolak (ini bagian susahnya). Pasti kebanyakan ibu akan bertanya ‘anak akooo kenapa kok gitooo?’. Jangan khawatir ibu-ibu, itu adalah hal yang lumrah, bukan akrena anak ibu cacingan atau melihat gajah terbang.

Tips: Menurut pengalaman, anak akan lebih mudah pup ketika dia berjongkok (tentunya pakai wc jongkok, bukan nangkring di wc duduk). Lalu bagaimana kalu di rumah adanya wc duduk? Salah satu dokter anak temennya #Kinong bilang kalau anak akan lebih mudah pup jika kakinya memijak. It means, pilihlah toilet seat anak yang ada tangganya, jadi kekuatan kamehamengeden‘ akan menjadi lebih maksimal. Eh gimana tuh yang ada tangganya? Kaya gini loh ibu-ibu..

download
sumber http://www.google.com

Belinya dimana?

Kalau di Indonesia ada di Toys Kingdom.

Mbak Sis, perlu ga sih pake potty training?

Semua dikembalikan ke selera, style, financial, dan kebutuhan masing-masing anak dan keluarga. Kenapa? Kalau saya bilang PERLU BANGET, eh ternyata ga kepake sama sekali. Ada loh yang kayak gini. Kan mubazir. Tapi kalau menurut saya, jika wc di rumah modelnya adalah WC duduk, maka sebaiknya pakai potty seat, karena kalau ga, anak bisa ceblok ~

Lalu kalau yang portable potty itu gimana? Beli boleh, ga juga gapapa. Kalau beli, sebaiknya orang tua mengenalkan anak menggunakan toilet itu bagaimana dan untuk apa *aliran mamak ogah rugi*, jadai jangan cuma dianggurin ya, Mama.

Kalau #MamahKinong sendiri gimana?

Saya beli kok, potty seat IKEA, yang biasa aja itu loh, ga ada pijakan. Sempat beberapa kali pakai, tapi semenjak tahu bahwa WC jongkok lebih efektif, mangkrak deh.

Tips: Tidak perlu memaksakan untuk membeli potty training. Namun jika memang ada budgetnya, tidak ada salahnya beli, karena (mungkin) dengan potty training, proses TT akan lebih menyenangkan dan kids friendly.

#Kinong dulu langsung lepas diapers blas atau pake clodi atau training pants?

Saya adalah aliran Mamak Bonek, jadi Kinong pun harus jadi Bayi Bonek. Hahaha. Saya langsung lepas diaper, ga pake clodi atau training pants. Jadi cuma pake sempak CD sama celana aja.

Tips: Lagi-lagi kembali ke rules, ‘senyaman Mama aja’. Kalau pede mampus kaya saya (meski pesing dimana-mana), ya sok atuh lepas nappynya. Kalo ga ya bisa bertahap pakai clodi/training pants. Yang penting tetap konsisten ditatur ya anaknya!

Dulu #Kinong ekstrim ga pake diapernya 24 jam ya?

ENGGAK DOOOONG…

Meski bonek, #MamahKinong masih takut jatah tidur berkurang. HAHAHAHA. Saya melakukannya secara bertahap. Enam setengah bulan lepas diapers siang hari aja, setengah bulan baru lepas full 24 jam. Baru deh sakses.

Tips: Kalau Mama yakin dan memang punya cukup waktu alias ga dikejar-kejar harus ngantor paginya, langkah ekstrim 24 jam lepas diapers boleh dicoba. Karena untuk lepas diapers malam hari, berakhir dengan Ibu-ibu dengan mata panda. Kalo mau giliran jaga dengan Bapaknya sih boleh-boleh aja, kuncinya tetap konsistenbangun dan ajak anak ke toilet. Saya dulu karena awareness anak udah jalan, jadi cukup 2 kali saya ajak dia ke toilet kalau pas tidur.

Ada ga sih langkah yang lebih mudah dan cepat tanpa kita harus repot ngepel-ngepel kalo ngompol dan bolak balik kamar mandi. Aku tak sanggup, Mbak, tampar aku.. tampaaar… *zzzz

ADA! Nyuruh babysitter atau Mbak pengasuh yang eksekusi. Tapi urusan hasil ga bisa dibandingin loh yaaaa.. apalagi kalau bicara masalah bonding. Nah kaaan.. kaann.. Jangan mewek deh.. Dibalik sukses TT anak, terdapat mata panda Ibunya dan lengan dan tungkai yang mau potel bolak-balik ngepel plus ngedate sama toilet. Tapi kalau berhasil, rasanya BAHAGIAAAA TIADA TARAAAA *oles-oles concealer sama minyak urut*.

Tips: Jika memang Mama benar-benar tidak sempat, karena kerja, boleh minta tolong dengan pengasuh. Tapi ketika hari libur, sebaiknya Mama tetap menghandle sendiri urusan TT ini. Kenapa? Karena sembari mengajarkan TT kepada anak, Mama bisa mengajarkan sex education juga kepada anak. Ingat ya, pastikan pengasuh yang benar-benar Mama sudah percaya dan kenal betul. Atau Mama bisa juga ambil cuti khusus untuk mengajari anak TT. 

Anak saya mau sekolah, saya takut kalau di sekolah dia pipis dimana-mana. Gimana ya?

Komunikasi. Bicarakan semua kepada guru di sekolah anak. Saya yakin jika guru di sekolah mau mengerti dan mau diajak kompromi.Saat ini telah banyak sekolah preschool yang mensupport untuk TT di sekolah. Saya cukup surprise ketika kemarin survey sekolah untuk #Kinong, rupanya di Bandung kebanyakan melatih anak sedini mungkin untuk bisa lepas diapers.

Tips: Selalu komunikasikan hal tersebut ke guru.  Jika memang berbenturan dengan aturan sekolah yang tidak mau kalau tidak pake diapers, well, cari sekolah yang lain. Kok gitu?! TEGA! Ga. Bukan masalah tega. Semua tetap kembali ke keputusan Mama sih. Tapi menurut pengalaman, dengan memakaikan kembali diapers ke anak yang sudah lulus TT, akan membuat dia bingung.

Pake diapers lagi?

Jadi saya setiap pergi keluar masih belum terlalu percaya diri. Takut nanti di mobil atau di tempat umum #Kinong pipis di celana. Bukan masalah pipis-berceceran, tapi saya memikirkan masa depannya, bisa jadi bahan bully-an anak-pipi–di celana (oke, ini saya terlalu imajinatif). Ternyata selama pergi di luar (kira-kira selama 6 jam), #Kinong sama sekali GA PIPIS! Aku kudu piye, mboook?! Pas sampe rumah, bawa ke toilet langsung den, mancuuur.

Pernah juga waktu itu lagi nonton Moana. Pas tengah-tengah, dese minta pipis.. dua kali. IYA DUA KALI. Padahal udah dibilang kalao mau pipis ga perlu ke toilet, karena udah pake diaper. Nanti pipis di toiletnya kalau sampe rumah.

Efek buruknya?

Di rumah dia mulai bingung, dan ngompol-ngompol lagi. Saya dan suami berkesimpulan bahwa #Kinong menjadi bingung karena sebelumnya diberitahu kalau boleh pipis tanpa ke toilet. *telat iki looo naaak kamuu*

Wajar sih, kan seperti kita kalau lagi bobok, terus kebelet pipis, terus ngimpi ke toilet, pas udah pipis, taunya ngompol. Nah, sebelum pipis itu kan ada perasaan bersalah kan.

Atau.

Pas kita lagi heboh renang, lalu kebelet pipis. Dan kemudian.. ah sudahlah…

Kira-kira begitu mungkin perasaannya..

Tips: Jika bepergian dan memang belum terlalu percaya diri, boleh memakaikan diapers ke anak, tapi sebaiknya rutinitas ‘ajak anak ke toilet’ tetap dilaksanakan. Jadi memakai diapers bertujuan untuk worse case aja, seperti: ga nemu toilet, atau toilet jorok nauzubilla, atau lagi di perjalanan dll.

#MamahKinong punya rekomendasi pembelanjaran seru supaya anak terinspirasi mau TT ga?

Ada. Beberapa kali saya putar beberapa video proses TT di Youtube. entah anaknya ngeh atau ga, namanya juga usaha. YE KAN! Saya juga membeli buku anak tentang Toilet Training. Buku ini saya rekomendasikan, judulnya Ready To Go! Toilet Time, beli di Kinokuniya harganya 154k. Buku ini sebenarnya merupakan training kit untuk toilet training karena dilengkapi dengan parents guide dan chart chart reward kalau anak berhasil TT. Terdapat 2 versi buku ini, yaitu for boys dan for girls. Guide for parents nya cukup mudah dipahami dan tidak berbelit-belit, mungkin lain waktu saya review (janjimu busuk deh, KAK!).

Buku TT sebenarnya ada banyak sekali versi. Punya keponakan saya pun ada yang mirip dengan buku yang saya beli, namun ada tombol flushnya, yang kalau dipencet bunyi WC yang ngeflush. Saat ini, itu jadi salah satu buku favorit #Kinong dan selalu rekues, ‘mau buku toyet (toilet), Mamah’.

Tips: Tak ada salahnya beri pengertian ke anak dan beri semangat bahwa dia sudah jadi big boy/big girl, jadi harus pakai underpants, karena diapers hanya dipakai untuk baby. Biasanya anak akan lebih termotivasi (sementara emaknya mewek, anaknya udah gede aja).

Kapan ya sebaiknya mulai?

When your child and you ready. Kapan sih itu, kakak. Mbulet deh.

Menurut Heidi Murkoff di bukunya What to expect the Second Year, kesiapan anak untuk TT antara lain ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Ketika diaper tidak lagi cepat penuh. Ingat kan, semasa newborn, diaper itu borosnyaaa, masyaAllah. Nah, menuju usia 20 bulan, biasanya frekuensi pee anak akan semakin berkurang. Dari yang awalnya ganti popok 3-4 kali sehari, berkurang menjadi 1-2 kali saja.
  2. Anak mulai kasih sign atau bicara kalau dirinya pee/poop. Jadi misalnya lagi asik arisan keluarga tiba-tiba anak teriak-teriak “MAMAAAH, DEDEK NGEBOOOOM”, itu ada 2 pertanda. Yang pertama, Ok FIX, waktunya TT. Yang kedua, arisan seketika bubar dan pada telpon gegana.
  3. Anak mulai tidak nyaman ketika diapernya penuh, atau kotor sehabis poop. Maka bilanglah, “OK dear, mulai besok kita pupnya di toilet yaaa, biar ga kotor”.
  4. Ketika anak sudah mulai bisa melepas/memakai sendiri celananya. Hmm.. tapi kalau menurut saya sih, ga perlu sampe ditunggu kapan dia bisa pake atau lepas sendiri celananya yaaa.

Tips: In deciding when to take the potty plunge, your toddlers readiness definitely a top priority, but YOUR READINESS, COUNTS TOO. Kenapa? Karena TT itu memerlukan kemauan, usaha, kooperatif dari si anak. Namun selain itu juga memerlukan waktu, perhatian, komitmen, konsistensi, dan stok sabar yang banyaaaaak. Saya aja butuh waktu sampe 7 bulan. HAHAHAHA. Sungguh tempe sekali ya mental #MamahKinong.

Jadi, sudah siap TT?

Ingat, kunci suksesnya TT adalah KOMUNIKASI. Dont stop comunicating to your love ones, dear Mamah Kece.

Mamah Kece PASTI BISA! *virtual hug*

Trapped Dyno

Suatu hari saya berniat untuk mengambil uang di ATM. Sudah tanggal tua, belum gajian, sudah dipastikan gerakan kekep dompet dimulai. Ternyata kali itu ATM Bank plat merah yang ada di dalam Alfamidi antri banyak, beralihlah saya ke Indomaret yang letaknya bersebelahan. Namun bukan untuk mengambil di mesin ATM juga, melainkan mau mengambil tunai di kasir… Continue reading Trapped Dyno

Kidzooona Cibinong City Mall

Akhirnya pertama kalinya ngajak Keenan ke playground yang ada di mol. Biar kekinian *uhuk. Mumpung Bapaknya di rumah juga bisa diporotin nemenin juga. Nah, Kidzooona di CCM ini tergolong baru. Suatu ketika pas saya dan suami ngedate minum Chatime ke CCM, kami melihat hingar bingar di salah satu ujung mol. Kami samperin, ternyata ada playground baru. Tanya… Continue reading Kidzooona Cibinong City Mall