Pencarian Sekolah, Kegalauan Tiada Henti

Welcome to liat-upil-anak-aja-too-much-worries world alias EMAK EMAK LYFE. Huft.

Sejak Keenan umur 6 bulan sebenarnya saya sudah mulai memikirkan persiapan anak masuk sekolah. Memikirkan seenggaknya nanti bayarnya ga pake daun. Haha. Akibat biaya sekolah sekarang suka UNREAL. Belum lagi inflasinya yang ga nurut sama inflasinya BI. Ya ga sih.

Tapi sayangnya saya lupa mikirin, BAKAL SEKOLAH DIMANA YA ENTAR. HAHAHAH. Soalnya emaknya (semi) nomaden gini sih. Lalu setelah baca-baca blog orang beserta masukan teman-teman, akhirnya muncul banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya untuk memilih sekolah untuk anak. Ketahuilah, saya ga sampe ikutan trial ke sekolah satu-satu seperti review di blog-blog itu loh. Tapi yang kaya gitu aja HAYATI SUDAH LELAH BRAAAY!

Dari banyak faktor itu, saya telah meringkasnya menjadi domain faktor (halah apa sih) untuk mengerucutkan pilihan. Domain faktor yang menjadi pedoman saya, yang mungkin bisa jadi masukan bagi ibu-ibu ogah rempong tapi maunya dapet yang terbaik (dan biaya yang affordable) seperti saya, antara lain sebagai berikut:

1. Basic Sekolah

Saat ini banyak sekali basic sekolah. Atulah istilahnya apa, pokoknya kalo saya mah nyebutnya basik sekolah. Ada yang berbasis islam, bilingual, kepribadian, montessory, apalah apalah begitu. Atu we ini emak-emak lieur nanaonan etaaaa.. Akhirnya saya serahkan dan kembalikan saja kepada AlQuran dan Hadist (jamaaaaaah ~). Saya memilih basik Islam, yang ada target hafalan surat-surat, diajarin adab-adab Islami, yang pokoknya sekarang kalo yang Islam terpadu mah kurang lebih sama kurikulumnya. Kenapa akhirnya saya milih ini, padahal dulunya saya montessory garis kerashh. Pada suatu ketika, ketika Keenan masih 2 tahun, saya iseng-iseng trial ke sekolah yang universal, bilingual, dan semi-semi montessory. Miss-missnya sih banyak yang pakai jilbab juga, namun akan tetapi, ketika bagian baca doa, saya kok kurang sreg. Woi anak w ntar ga hapal rodhitubillahiroba (doa pembuka majlis) — pikiran berlebihan seorang emak-emak (sok) visioner. Saya langsung mengkeret, dan akhirnya setelah diskusi dengan suami, kami lebih takut ga bisa jawab pas ditanya munkar nakir “kenapa kamu lebih memilih sekolah yang katanya keren kekinian itu dibanding sekolah yang mengenalkan Allah sejak dini”. Matilah awak maaaaak… Akhirnya, saya dan suami memilih sekolah anak sebagai salah satu bentuk ikhtiar mendidik anak dan mengenalkan agama sebagai fondasi edukasi.

(udah kaya pemain Ayat Ayat Cinta belum aku…)

“FAHRI!! NIKAHI AKUUH FAHRII” -pret.

Jadi intinya, yakinkan dan pastikan, mau seperti apa fondasi pendidikan untuk anak kita. Mumpung anaknya masih nurut kan, nanti mungkin pas dia udah SMP ke atas, mereka akan memilih sekolah sesuai dengan preferensi mereka. Tidak ada basik sekolah yang tidak baik. Namanya juga sekolah, ga ada yang ngajari biar jadi orang jahat. Dan yang perlu diingat, sekolah hanyalah salah satu sarana untuk mendidik anak. Pendidikan utama, terutama untuk anak-anak yang masih kecil, adalah di rumah dan keluarga. Jadi jangan sampai elemen terpenting itu hilang. (sayup sayup terdengar lirik “harta yang paling berharga, adalah keluharghaaa ~”)

GILAK AKO KOK MERASA KEREN BANGET DI POSTINGAN KALI INI. *silakan sundud saya kaaaak ~

2. Lokasi Sekolah

Di saat kegalauan menyerang, saya sempat mengajukan polling di instastory, pilih “sekolah yang bagus tapi jauh” atau “sekolah yang B aja tapi deket“? Dan ternyata mostly responden memilih untuk kriteria “sekolah yang B aja tapi deket“. Ini sih diakibatkan rumah saya di bandung coret sih, jadi sekolah inceran di Bandung, namun apa daya rumah nun jauh si pinggiran. Sebenernya enakan kalo bagus dan deket ya. Namun Tuhan selalu menghadapkan kita dengan pilihan-pilihan yang terkadang sulit bagi ibu-ibu picky, apalagi memiliki pengasuh anak yang nyasaran~ HAHAHAHA. ITU SIH GUEEEE AJAAA KALIKKK.

Untuk memilih sekolah bagi anak yang baru mau masuk PG atau TK, memang baiknya yang dekat rumah saja. Syukur-syukur kalo udah deket rumah, tinggal jalan kaki, bagus, dan murah pula (idaman para ibu). Menurut Ibu-ibu yang memberikan jawaban “sekolah yang B aja tapi deket“, itu atas nama hak asasi anak. Mengembalikan fitrah anak yaitu bermain, bukan menghabiskan banyak waktu di jalan, yang biasanya orang tua akan menyerahkan nasib selanjutnya pada yang mulia smartphone. Itu kebanyakan yang mereka khawatirkan.

Begitu juga untuk yang memilih “sekolah yang bagus tapi jauh”, beberapa responden mengirimkan Direct Message ke saya. Sebagian besar mereka khawatir, apalagi dibumbui cerita kalau temannya ada yang nyesel menyekolahkan “asal”, yang penting deket. Beberapa kasus ditemukan kalau anaknya jadi mengucapkan kata-kata yang ga proper di usianya karena sekolahnya di dekat rumah yang kebetulan bukan sekolah komplek. Tapi enaknya ya anak pulang sekolah masih bisa ngaso-ngaso, makasn siang, maen bola, cari kecebong, maen layangan, sampe eneg.

Jadi Ibu Kompor pilih yang mana? HAHAHAH… Akhirnya saya pilih preferensi pertama. Jauh dan (semoga) bagus. Kenapa? Ya karna mbak saya itu nyasaran Buibu.. Ga kasian sama anak kalo capek? Saya lebih kasian kalau anak saya nyasar karna yang nganter sering disorientasi medan. HUHUHUHU. Jadi rencananya Juli nanti saya akan sedikit lebih repot bolak balik jemput anak sekolah, dan sebisa mungkin anak ga ikutan nungguin saya sampe beres kerja. Bandung-Cimahi ga sejauh Jakarta-Bogor cuy. Jadi masih bisa dijangkau. Urusan ijin bu bos ini yang dipikirkan kemudian karna bakal ngilang tiap jam istirahat. hahaha.

Kalau ibu-ibu masih galau, bisa juga mencari alternatif sekolah yang menyediakan jemputan. Saya sempet kepikiran gitu juga, namun setelah berulang kali diskusi dengan bapak kompor, arah pilihan kami selalu kembali ke sekolah itu terus. Jadi yaaa sudah deh..

3. Biaya Sekolah

Sebenarnya ini harusnya jadi faktor utama menentukan anak sekolah dimana yaaa. Tapi rumusnya sih udah jelas. Sesuaikan dengan budget dan kemampuan orang tua masing-masing. Karena sayangnya PG dan TK kok hampir gapernah denger ada beasiswanya. Beda sama SMA atau kuliah. Ga kuat bayar, tapi bisa diusahakan cari beasiswa. Plis atulah Bu! Huhu..

Jadi saya pake prinsip, yaaa semampunya orang tua (tentunya dengan senantiasa mengurangi jajan cireng) biar duit kekumpul buat bayar uang pangkal serta tution fee. Saya itung-itungan sama suami, dari mulai uang pangkal berapa, SPP berapa, ongkos bensin antar jemput berapa, dan ongkos lain-lain. Iya, kami telah menyiapkan asuransi pendidikan, tapi nanti diambilnya paling pas SD.

Untuk urusan biaya sekolah, nanti mungkin akan saya posting di post lain yaa. Tapi kayaknya di The Urban MAma sam MD udah banyak yang share masalah biaya sekolah ya. Tapi sejauh saya survey, di Bandung masih cukup terjangkau (meski sedikit ngoyo) oleh dua orang tua PNS, apalagi dibanding sama Jakarta yang saya harus nyebut berkali-kali liat uang pangkalnya udah bisa DP mobil. Kzl. Halo ILC, kali daripada bahas dana kampanye dan politik, sekali-kali bahas biaya uang pangkal sekolah anak yang semakin ngehe’ ini. Kan pendidikan adalah hak setiap warga negara paaak… kalo berpolitik maaah suka suka situ ajaaa.

4. Waktu Sekolah

Waktu atau durasi anak bersekolah juga sebaiknya menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan. Tentunya untuk anak yang masih PG atau TK, tidak bisa disamakan dengan SD. Biasanya rata-rata sekolah PG/TK durasinya 3-4 jam setiap pertemuan. Beberapa sekolah setiap hari, beberapa 3-4 hari per minggu. Ada juga yang full day. Bagi saya tidak masalah asal porsi belajar di kelas, istirahat, dan bermain seimbang. Jadi kebutuhan anak untuk bermain tetap terpenuhi.

So far, Ibu kompor mengambil waktu yang durasinya 3-4 jam sehari dan dalam seminggu ga full seminggu sekolah. Itu juga kalo anaknya males, atulah biarin ga sekolah. Shantay.. meski bayar SPPnya ga shantay (tetep).

5. Guru dan Support System sekolah

Ini sih berdasarkan pengalaman saya dan Bapak Kompor survey beberap sekolah. Saya adalah tipe yang kalo cari info nanyanya sampai, nanti pas lulus gimana hahaha. Demanding ya kak! Saya seneng kalo ngobrol sama guru/pengurus yang hafal betul kondisi sekolah dan pengalaman sama visi misi sekolah. Kenapa? Karena dengan paham betul sekolah dan konsep pendidikan yang diberikan, saya jadi yakin akan seperti apa gambaran anak saya nantinya sekolah disitu.

Saya paling sebel kalau nanya-nanya, tapi yang ditanya tulalit, even itu satpam atau petugas administrasi. Ogah deh kalo ditanya anu inu aja bingung lempar-lemparan jawaban. Ish, kan ogah, udah ngeluarin duuit, tapi ga meyakinkan gitu. Saya khawatir aja nanti kalo ada apa-apa, juga lempar-lemparan lagi. Bisa jadi catatan kali ya buat sekolah-sekolah. Ada baiknya guru dan seluruh elemen sekolah dibriefing dengan baik, sehingga semunya informatif dan dapat memberikan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Nah kan! Mulai ngamuk. Hahaha.

6. Extrakurikuler

Saya baru tau loh sekarang anak play group pun ada extra kurikulernya! Waw… segitunya ya sekolah jaman sekarang. Ekskul sebenarnya jadi kebutuhan tersier saya dalam memilih sekolah. Tidak utama, karena toh pada dasarnya (jika memang perlu), orang tua bisa memberikan pelatihan sendiri atau les di luar sekolah. Namun alternatif ekskul di sekolah sebenernya memberikan kemudahan orang tua dan mengurangi tingkat kerepotan orang tua (tentunya menekan biaya transport dan biaya les). Biasanya sekolah yanga da ekskulnya akan memberikan bandrol biaya yang sangat terjangkau. Jadi, bukan hal yang buruk jika mengikutsertakan anak untuk ikut ekskul.

7. Fasilitas Sekolah

Sekarang sekolah saling bersaing untuk memberikan kenyamanan dan kelengkapan infrastruktur. Meski ini bukan yang utama, mungkin bisa menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan untuk memasukkan sekolah anak. Fasilitas standar pada umumnya, sekolah memiliki ruang kelas, toilet yang bersih, ruang tunggu khusus orang tua, dan ruang guru.

Saya prefer untuk ruang tunggu orang tua yang dipisahkan dan membiarkan anak sekolah sendiri tanpa didampingi orang tua. Kemudian akses masuk ruang yang terbatas juga menjadi preferensi saya. Jadi pada awal registrasi, biasanya sekolah yang memberikan batasan kepada orang-orang tertentu untuk menjemput dan mendampingi anak, akan diregistrasi, sehingga keamanan anak tetap yang utama.

Jaman sekarang, sekolah sudahbanyak yang menyediakan fasilitas lux seperti kolam renang, lapangan futsal, playground, bahkan kebun sendiri. Semua tergantung ke kekuatan finansial masing-masing orang tua, karena semakin lengkap fasilitas, berbanding lurus juga dengan biaya sekolah. Yha menurut nganaa, bangunnya pake tanah?

Lalu akhirnya Keenan sekolah dimana (alias sekolah pilihan Bapak dan Ibu Kompor)? Oke, tunggu postingan selanjutnya ya. Soon akan posting akhirnya Keenansekolah dimana, biaya, dan alasan kenapa pilih situ.

Kalau kamu, faktor apa yang menentukan pilih sekolah untuk anak? Share di komen ya!

Advertisements

Happy Three Years Keenan!

Hari ini, tiga tahun lalu, tangismu menggenapkan bahagia kami. Jemari-jemari kecilmu mengusapkan cinta. Sejak saat itu, kami percaya, bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada, bahkan sebelum kita bertemu. Kami rela menukar kebahagiaan kami, demi senyum dan tawamu, Nak..

Semoga Allah meridhoi setiap langkamu, selalu cinta Al-Quran, selalu rendah hati, selalu sehat, selalu mau belajar, dan selalu “Keenan saaaayang sama Bapak sama Mamah”. I love You, Son.

Shopping List Saat Di Bali

Minggu lalu, saya akhirnya berkesempatan untuk kembali ke Bali. Bali itu kaya kota ketiga saya dan baim, setelah Jogja dan Bandung. Ini kali kelima saya, kali ketiga Baim, dan kali kedua Raisa (lhaa).. Kinong maksudnya. Tapi selalu ga puas tiap ke bali, adaaa saja bucket list yang belum ke checklist. Ada yang gitu juga?

Bali kemarin dalam rangka menghadiri undangan nikah temen deket sekaligus #birthdaytrip nya Kinong dan Baim. Mereka kan ultahnya deketan, jadi sekalian haha. Oh iya, birthday trip ini sengaja kami bikin (insyaAllah) setiap tahun mendekati atau setelah Kinong ultah. Saya dan Baim sepakat untuk tidak mengadakan pesta perayaan, tapi dialihkan ke birthday trip saja, sekalian refreshing (dan ngirit) haha.

Nah, kalau ke Bali, saya dan Baim punya list kunjungan wajib untuk belanja. Pasangan impulsif diskonan hunter mah ya gini deh haha. Sampe milih hotel aja sengaja di dekat storenya supaya ga perlu bawa mobil, cukup jalan kaki. NIAT BANGET KAN! Ya gitu deh haha. Jadi ini dia shopping list saya dan baim tiap ke Bali..

SURFS STUFFS

  1. Bali Surf Outlet (BSO). Letaknya di By Pass Ngurah Rai. Barang disini seputaran brand surfs stuff, mulai dari Roxy, Ripcurl, Quicksilver, Surfer Girl, DC, dll. Pokoknya yang biasanya dijual di Planet Surf di mal-mal. Barang-barangnya original dengan harga yang miring. Kenapa miring? Karena mereka menjual stock lama sehingga diskon gede, yang kalian ga bisa temukan di Planet Surf mall, kecuali di pop up planet surf, kurang lebih murahnya kaya gitu. Tapi barang-barangnya mostly good condition. Kemarin disini sempat dapet pouch buat ipad Ripcurl seharga 99k saja. Kalau kualitas, ga usah ditanya lha ya.
  2. Original Surf Outlet (OSO). Outletnya masih segaris dengan BSO. Kebanyakan outlet surfs stuff yang harganya miring memang di Bypass Ngurah Rai. Kalau mau yang mahalan dan new arrival sih di Kuta Beach Walk aja. Tapi saya dan Baim tim diskonan aja udah seneng banget haha. Disini barang-barangnya mah 11-12 sama BSO. Tapi ada beberapa item yang diskonanya banyak (meski ga murah-murah amat) yang di BSO ga nemu, kaya jam ripcurl sama sunglasses Oakley. Oakley masih ada yang harganya 600an, kalau bagusan ada yang 1000k-an. Akhirnya dimari duo impulsif ga kuat iman sama jam tangan ripcurl yang dibandrol diskon 50-60%. KZL kan. Gesek CC maang!
  3. Rip Curl Original Surf Outlet. Masih di sepanjang jalan Bypass Ngurah Rai, outlet ini kalau ga salah segedung sama sport station yang banyak diskon juga. Say apernah dapet dompet roxy original leather cuma 130k!! diskonnya 70% haha. Kemaren di bagian depan banyak sale besar merk insight deh.

HOME LIVING

Bali memang surganya home living, Segala yang berbau tropical vibes ada disini. Saya kemaren sempat mampir di beberapa store yang menjual homeliving di Bali, kebayakan ngumpul di sekitaran jl. Kayu Aya. Pas jalan lihat juga sih toko-toko kaki limanya di legian dan Kuta. Yang pasti kalau di store yang versi kaki lima, jangan lupa nawar yah! Lumayan book selisihnya, di instagram jualnya sadis sadis! kesel!

di salah satu emperan toko jl. Kayu Aya

Jadi beberapa store rekomendasi untuk mampir saat di Bali antara lain:

  1. Kim Soo Home. Nama storenya bau-bau Korea ya. Tapi ternyata store Kim Soo ini ada di Bali dan Melbourne. Letaknya di Jl. Kayu Aya. Deket Motel Mexicola. Tipsnya kalau jalan-jalan di daerah ini, parkirin mobil/motor di seberangnya toko. Lalu jalan keliling Jl. Kayu Aya ini. Banyak sekali restoran dan store yang eyecaching, minimal buat foto-foto. Haha. Kim Soo ini ada instagramnya @kimsoohome. Storenya dibagi menjadi menjadi dua bagian, yaitu resto dan homeliving. Jadi bisa one stop shopping. Untuk barang yang dijual, pada dasarnya mirip-mirip dengan homeliving store yang lain, even itu kaki lima! Tapi mungkin kualitasnya beda ya.. Saya sempat beli coaster teakwood 2 biji harga 40k-an. Yang mure mure ajee yee..
  2. Satunama. Store ini hampir sampingan dengan Kim Soo. Isinya pun 11-12. Di sekitaran homeliving store ini banyak juga yang versi kaki limanya. Jadi mending lihat-lihat dulu di store, hafalin harganya, lalu bandingin di kaki lima. Tapi di kaki limanya awalnya juga ngebandrol harga tinggi loh, karna merasa letaknya deketan sama Kimsoo dan Satunama. Yaaa pinter-pinternya nawar aja. Tapi kalo saya sih ga tega sadis-sadis hehe.
  3. Fernshop. Masih seputaran Jl. Kayu Aya. Adalah toko pernak pernik dari gelang-kalung sampai homeliving. Tidak terlalu istimewa, beberapa wooden doll, terdapat terarium, dan saya akhirnya memutuskan untuk membeli accecories hanging berbentuk kaktus. Sungguh tak berfaedah, tapi kusukaakkk.. Hahahha..
  4. Bungalow Living. Letaknya di daerah Berawa, Canggu. Honestly saya belom sempat kesana. Tapi kalau dilihat dari instagramnya, produknya hampir sama dengan Kim Soo dan Satunama.

Lalu apa yang say adapat? Saya dapat macrame ukuran besar di (emperan) Kim Soo seharga 250k dan hanging pot seharga 50k. Murmer ya.. dan sekarang saya masih kepikiran dengan macrame yang chusion sama hiasan kerang gitu.. Nyesel ga beli.. Di instagram bikin sedih harganya T.T.

macramw kaya gini banyak di emperan Jl. Kayu Aya, Legian. dan Kuta
ini chusion cover yang saya nyesel ga jadi beliii huhuhu…

OLEH-OLEH

Urusan oleh-oleh ini, menjadi list wajib bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Alasannya banyak, gaenak sama bos karna cuti mele (ngacung), ga enak sama temen kerja karna sering back up kerjaan (ngacung), ga enak sama temen-temen arisan karna balik-balik masa cuma bawa kulit eksotis doang (halah).. Dan masih banyak ketidak enakan lainnya. Iya apa iyhaaaaa… Nah kalo oleh-oleh, saya mah mainstream lah, dari 2011 pertama ke Bali, oleh-oleh ya

  1. Krisna. Juaranya. HAHAHAHA. Yang penting muraaah dan dapat banyak fufufufu.. pernah juga Agung Bali yang mirip-mirip Krisna lah. Harga juga 11-12 sebenarnya. Tapi karna kebiasaan ajaaa sikkk belinya di Krisna, dan ada dimana-mana. Mulai dari kalung cebanan, sampe kain bali yang ratusan ribu.
  2. Joger. Joger jelek, yang sudah tersohor daari jaman kapan. Barangnay sebenarnya ga banyak berubah, tapi udah jadi trade marknya Bali, kalo ke Bali, ga afdol kalo ga ke Joger. Yang paling males sih kalo bawa mobil ke Joger, udah pasti macet jalan depannya, parkirnya pun ga pernah kosyong. Hih! Tapi ada lahan parkir sekitaran 100 meter dari Joger sih, jadi bisa parkir dulu, lalu jalan kaki ke Joger.

WARUNG MAKAN

Kalo tempat makan di Bali sih udah pasti banyak bangeeet yang hits dan lucu-lucu. Mulai dari Motel Mexicola, La Laguna, Nook, Bebek Tepi Sawah, dll dll banyaaak pisan. Tapi kalo ke Bali, saya dan Baim tidak akan pernah melewatkan ke NASI PEDAS BU ANDHIKA. Kelezatan yang HQQ. Kan kita live like a local hahaha. Pret. Padahal alasan sebenarnya adalah enak, banyak, murah. HAHAHAHA. Semacam warteg gitu, tapi all the dishes are hoootttt. Saya suka sambelnya, kalo menurut saya sambelnya lebih enak dari sambel legendari bu rudi (pas lagi laper kali ya makannya). Nasi Pedas Bu Andhika ada beberapa lokasi, di seberang Joger, di jalan belakang JOger pun ada, dan beberapa tempat lainnya.

Nah, kalo kamu, ada rekomendasi shopping list di Bali ga? Siapa tau ada rejeki lagi balik kesono (buat liburaaaaan) hehehe…

Nyelengin Kuy!

Benar. Saya pun merasa begitu. Judul artikel saya kali ini rada nyeleneh. Ya, tapi gimana dong. Kalimat itu yang pertama nyantol di otak saya. Jadi maklumin aja ya, dan disyukuri, punya otak masih dipake.

Jadi kalo bahasa jawa, piggy bank itu disebutnya celengan. Makanya kata kerjanya jadi nyelengi. Hehehe…

Jadi saya ada cerita. Once upon a time (saking lamanya), saya inget, masih sekitar kelas 1 atau 2 SD, masih numpang di rumah nenek, saya dan kakak punya hobi yang lagi kekinian di kecamatan kami saat itu. ((kecamatan)). Namanya filateli. Duile banget kan. Ga usah saya terangin ya filateli apa, pokoknya itu hobi terkeren yang pernah masuk ke dalam list biodata di diari temen-temen saya dulu. Saking pedenya, tiap rumah di kampung saya ketokin dan tanyain “kulonuwun, gadhah prangko mboten” (“kulonuwun, punya perangko tidak?”. red). Yang seringnya berakhir dengan membawa segepok amplop dengan tempelan prangko Pak Harto berkopiah yang tersenyum manis warna warni, dengan kemiringan kepala sekitar 20 derajat dan terkadang dicap dengan brutal oleh petugas kantor pos.

Nah, pas lagi getol getolnya koleksi ini, tren makin menggila dengan adanya temuan bernama ‘stamp album‘. Oh, hidup jadi filatelist KERAS BUNG! Maka, untuk mempertahankan predikat sebagai kolektor prangko abal-abal tingkat kecamatan, saya dan kakak sangat menginginkan album prangko tersebut. Sayangnya, saya dan kakak TIDAK BERANI MINTA KE ORANG TUA. Karna bagi kami, album perangko adalah kebutuhan tersier dan masih jauh berada di pucuk tertinggi dari piramida Maslow. Jadi, mari sejenak lupakan album prangko seharga dua ribu rupiah.

Tapi jangan sebut kami sebagai bonek bersaudara kalau menerima nasib begitu saja. Saya dan kakak yang selalu diberi uang jajan sebesar LIMA PULUH RUPIAH alias SEKET GELO, berjuang keras untuk mengurungkan jajan, demi menabung untuk membeli THE HOLY ALBUM PERANGKO! jadi silahkan hitung:

Harga album perangko : 2.000, uang saku per hari @ 50 (2 orang jadi 100), maka untuk mengumpulkan uang sebesar 2.000, harus menabung selama:

2.000 : 100 = 20 hari. Saya ulangi, DUA PULUH HARI PUASA JAJAN PENTOL!

Kami nabungnya pakai tabungan tanah warna merah yang klasik banget itu, ditaroh di dalam lemari baju. Wqwqwqwq. Kaya gini nih penampakan celengannya.

sumber: Tokopedia

Maka pada hari H, proudly present “drum roll*.. Terkumpul lah uang sebesar 1.950 (wqwqwqwq.. IYA, KURANG 50 RUPIAH BANGET, gara-gara saya pernah cheating, ga tahan godaan saus pentol yang menetes-netes sempurna). Maka kekurangan, kalo ga salah ditambahin ibu saya atau bude saya gitu. Dan, dengan begitu, officialy, kami punya ALBUM PERANGKO PUJAAN HATI yang beli di Toko Ibu. Mission accomplished!

Dan, bagaimana kabar album perangko saya? Masih ada. Sampai dengan tahun 2006. Setelah gempa Jogja, sepertinya sih masih ada pas di pengungsian. Tapi terus sekarang lupa. Huh! Paling ga umurnya sempat 11 tahun kan, dari beli taun 1995.

Nah, setelah memiliki anak, dari kecil saya memang menginginkan Keenan punya memori dan pengalaman serunya menabung. Tidak selamanya barang-barang yang dia inginkan, didapat dari kebaikan hati (dan kelapar mataan) orang tuanya. Yee kan. Hayo ngaku yang sering kalap liat mainan/baju anak? *cung!

Saya dan Baim setiap ke toko mainan (kalo baju mah kebutuhan rada pokok ya, dan Keenan biasanya ga kabita-en kalo baju hehe) dan Keenan bilang “Keenan mau ini”, kami tanya balik “Keenan punya uang untuk beli, Nak?”. Dan sudah pasti dia bilang “Ga punya”. Lanjutannya ada dua, kalo ga Keenan bilang “OO, yaudah deh ga usah” atau “Ooo, Keenan nabung dulu ya”. Iyaa, anak saya mah terbiasa (orang tuanya) hidup prihatin kali ya, jadi alhamdulillah ga pernah tantrum kalo minta sesuatu.

Dulu pas di Bogor, sempet ada celengan koin yang sudah hampir penuh. Tapi pas pindah, entah kemana itu celengan, jadi kami belikan celengan lagi. Keenan kalo nyelengin rada nggragas juga hahaha. Tiap habis beli sesuatu, dia sering nagih kembalian untuk dicelengin errrr. Udah gitu, ga tahan liat koin nganggur. Koin pak ogah di mobil kadang jadi incaran. Wqwqwqwq.

Daaan.. akhirnya, setelah sekian lama nabung, baru minggu lalu dia menikmati hasil kerja kerasnya. Duit nabung (dari hasil nodong) nya dia belikan mobilan Lightning Mcqueen yang kecil. Dan senengnya lagi, sampai seminggu dia beli, belum bosen. Keenan juga jadi lebih hati-hati pegang mainannya itu, even itu cuma mobilan kecil. Jadi flashback kan, dulu saya juga gitu. Eman-eman sama hasil jerih payah berdarah-darah *lebay.

Jadi menurut saya, selain menabung itu pangkal kaya (apalagi kalau nabungnya berlian, asal ga nabung ke cukongnya ponzi yes), mengajarkan anak menabung sejak dini memiliki beberapa kebaikan, antara lain:

  1. melatih disiplin anak, setidaknya dia berlatih untuk memiliki goal yang ingin dia capai, sehingga mendorong dia untuk disiplin menabung.
  2. anak akan cenderung menghargai uang dan effort. There’s non free lunch. Selalu ada usaha untuk mendapatkan sesuatu.
  3. menanamkan Senses of belonging anak terhadap barang yang berhasil dia beli dari tabungan. So far si linghtning Mcqueen menjadi mainan favorit, dan selalu dieman-eman. Kadang dia ngitung dent atau bagian penyoknya nambah apa ga. Hahahaha.
  4. Kami sekaligus mengajarkan (pada anak dan diri sendiri) untuk membeli yang memang dia butuhkan. Karena jumlah tabungan itu terbatas, maka barang yang dibeli harus sesuai dengan standar prioritas.
  5. melatih anak untuk mengambil keputusan. Ini sih side effect yah. Karena dalam banyak hal, saya dan Baim selalu memberikan pilihan untuk Keenan, dan membiarkan dia untuk memutuskan sendiri pilihannya. Misal untuk membeli barang, harus pilih salah satu, karena terbatasnya uang, atau alasannya mending uang ditabung. Sering juga akhirnya Keenan lebih memilih untuk tidak membeli apa-apa. kalo begini, yang mencelos emak-bapaknya hahahaha.
  6. Apalagi ya? Ada yang bisa nambahin?? Hihi..

Yang pasti, saya dan suami yakin bahwa mengajarkan anak untuk “no free for lunch” dalam hal mendapatkan sesuatu, akan bermanfaat bagi dia nantinya. Mungkin kami memang bukan orang tua yang sempurna, tidak melulu takluk dengan ilmu parenting yang beraneka rupa, tapi kami hanya mempersiapkan anak di masa yang akan datang, di mana persaingan akan makin kompetitif, supaya menjadi anak yang mandiri, berdaya guna, dan tangguh. Ish, udah keren belom saya… Uhuy!

Kalo kamuh! kamuh! kamuh! Sharing dong ngajarin anak biar rajin nabung gimana??

BLIBLI Solusi Terbaik Belanja Online

Semenjak menjadi ibu, tentu saja banyak sekali perubahan dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari bangun pagi-bekerja-di rumah, tidak lagi bisa seenaknya seperti dulu saat masih single. Saat ini sebisa mungkin jika ada waktu luang, saya habiskan bersama anak. Semua prioritas pun berubah. Quality time bersama anak selalu menjadi yang utama.

Hal yang sama juga terjadi pada aktivitas berbelanja saya. Saya dulunya tipe orang yang suka berbelanja langsung ke toko/supermarket, memilih-milih dalam waktu yang tidak sebentar, kalau bisa harus disempatkan untuk cek toko sebelah. Hehe. Pokoknya muter pasar sampai gempor. Namun sekarang, sudah tentu saya tak lagi bisa berlama-lama memandangi barang, memilih-milih, apalagi cek toko sebelah. Kadang kangen belanja, tapi lebih kangen kalo ninggalin anak lama-lama.

Namun sekarang saya tetap bisa memanjakan diri dengan berbelaja, karena online shop saat ini menjadi solusi tepat bagi ibu yang memiliki anak batita. Kita bisa berbelanja apa saja dengan smartphone, everytime, everywhere. Tak mau kalah, suami saya pun juga mulai menggemari kebiasaan berbelanja online ini. Mulai dari berbelanja baju, sepatu, sampai dengan gadget pun, kami beli melalui online.

Berbelanja bagi saya dan suami itu bisa jadi self healing, asal semua masih undercontrol. Selain itu berbelanja juga menjadi salah satu reward kita karena kita telah bekerja setiap hari, jadi tidak ada salahnya untuk treat yourself dengan belanja. Bahkan berbelanja menjadi salah satu jurus memperlancar ASI saat masih menyusui, karena berbelanja membuat kita happy, dan hati yang bahagia membuat hormon oksitosin bekerja. Ah, heaven.

Saat ini telah banyak raksasa online shop di Indonesia, namun saya dan suami telah memiliki rekomendasi toko online yang menurut kami paling bagus baik dari segi harga, kualitas barang yang dikirim, keamanan transaksi, sampai dengan layanan customer care nya. Iya, kami, lebih tepatnya saya, adalah tipe yang (maunya) selalu diperlakukan sebagai ‘pembeli adalah raja’, jadi ada salah sedikit dengan onlineshop, protes. Hehe.

Raksasa online shop andalan kami itu adalah Blibli.com. Ya kaaan.. Pasti semua setuju deh. Apalagi kalau untuk beli gadget online, saya dan suami selalu puas berbelanja disini. Selain estimasi pengiriman yang jelas, Blibli juga selalu mengirimkan barang dengan kondisi sangat baik dan dengan kemasan yang rapi serta aman. Kami tidak perlu khawatir kalau barang (gadget) adalah refurbish atau dalam kondisi tidak baik. Blibli juarak!

blibli_square_300.jpg

Saya juga sangat apreciate dengan customer service Blibli. Suatu ketika saya pernah berbelanja di Blibli.com dengan menggunakan voucher. Namun barang tak kunjung datang sampai batas waktu estimasi pengiriman. Akhirnya saya komplain melalui email, iya email, karena saya pelit pulsa. Hahaha. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, CS Blibli langsung memfollow up keluhan saya dengan memberikan alasan kenapa paket belum terkirim, selain itu saya juga diberi pilihan apakah refund dengan menggunakan voucher juga, atau tetap menunggu sampai barang dikirim. Akhirnya saya memilih untuk menunggu saja. SOLUTIF sekali kan! Tidak berbelit-belit dan memberikan solusi terbaik bagi customernya, sehingga pelanggan menjadi tetap merasa aman dan nyaman. Akhirnya 2 hari kemudian, barang yang saya pesan tersebut pun sampai dengan selamat, terbungkus dalam kemasan yang rapih. Terimakasih Blibli!.

1

Oh iya. Berbelanja online ini juga harus tricky loh. Apalagi bagi yang gemar berbelanja online dengan kartu kredit. Harus hati-hati dan waspada ya, karena saat ini kejahatan cyber pun sudah sangat banyak. Beberapa teman saya pernah mengalami. Jadi dia belanja menggunakan kartu kredit, barang pesanan tak kunjung datang, tapi tagihan tetap jalan, eh taunya kena hack orang brunei. Huuhuhu. Tapi saya bisa berlega hati karena kalau berbelanja online melalui Blibli.com, jaringan Blibli selalu menggunakan https atau versi aman dari http, protokol komunikasi dari World Wide Web.

Blibli juga punya tips untuk berbelanja online tetap aman, baca saja artikelnya disini.

Pokoknya Blibli selalu menjadi sahabat berbelanja online ga pake ribet bagi saya-suami-dan Kinong deh. Belum pernah belanja online di Blibli.com? Kamu HARUS COBA!

Terimakasih BLIBLI!