Nyelengin Kuy!

Benar. Saya pun merasa begitu. Judul artikel saya kali ini rada nyeleneh. Ya, tapi gimana dong. Kalimat itu yang pertama nyantol di otak saya. Jadi maklumin aja ya, dan disyukuri, punya otak masih dipake.

Jadi kalo bahasa jawa, piggy bank itu disebutnya celengan. Makanya kata kerjanya jadi nyelengi. Hehehe…

Jadi saya ada cerita. Once upon a time (saking lamanya), saya inget, masih sekitar kelas 1 atau 2 SD, masih numpang di rumah nenek, saya dan kakak punya hobi yang lagi kekinian di kecamatan kami saat itu. ((kecamatan)). Namanya filateli. Duile banget kan. Ga usah saya terangin ya filateli apa, pokoknya itu hobi terkeren yang pernah masuk ke dalam list biodata di diari temen-temen saya dulu. Saking pedenya, tiap rumah di kampung saya ketokin dan tanyain “kulonuwun, gadhah prangko mboten” (“kulonuwun, punya perangko tidak?”. red). Yang seringnya berakhir dengan membawa segepok amplop dengan tempelan prangko Pak Harto berkopiah yang tersenyum manis warna warni, dengan kemiringan kepala sekitar 20 derajat dan terkadang dicap dengan brutal oleh petugas kantor pos.

Nah, pas lagi getol getolnya koleksi ini, tren makin menggila dengan adanya temuan bernama ‘stamp album‘. Oh, hidup jadi filatelist KERAS BUNG! Maka, untuk mempertahankan predikat sebagai kolektor prangko abal-abal tingkat kecamatan, saya dan kakak sangat menginginkan album prangko tersebut. Sayangnya, saya dan kakak TIDAK BERANI MINTA KE ORANG TUA. Karna bagi kami, album perangko adalah kebutuhan tersier dan masih jauh berada di pucuk tertinggi dari piramida Maslow. Jadi, mari sejenak lupakan album prangko seharga dua ribu rupiah.

Tapi jangan sebut kami sebagai bonek bersaudara kalau menerima nasib begitu saja. Saya dan kakak yang selalu diberi uang jajan sebesar LIMA PULUH RUPIAH alias SEKET GELO, berjuang keras untuk mengurungkan jajan, demi menabung untuk membeli THE HOLY ALBUM PERANGKO! jadi silahkan hitung:

Harga album perangko : 2.000, uang saku per hari @ 50 (2 orang jadi 100), maka untuk mengumpulkan uang sebesar 2.000, harus menabung selama:

2.000 : 100 = 20 hari. Saya ulangi, DUA PULUH HARI PUASA JAJAN PENTOL!

Kami nabungnya pakai tabungan tanah warna merah yang klasik banget itu, ditaroh di dalam lemari baju. Wqwqwqwq. Kaya gini nih penampakan celengannya.

sumber: Tokopedia

Maka pada hari H, proudly present “drum roll*.. Terkumpul lah uang sebesar 1.950 (wqwqwqwq.. IYA, KURANG 50 RUPIAH BANGET, gara-gara saya pernah cheating, ga tahan godaan saus pentol yang menetes-netes sempurna). Maka kekurangan, kalo ga salah ditambahin ibu saya atau bude saya gitu. Dan, dengan begitu, officialy, kami punya ALBUM PERANGKO PUJAAN HATI yang beli di Toko Ibu. Mission accomplished!

Dan, bagaimana kabar album perangko saya? Masih ada. Sampai dengan tahun 2006. Setelah gempa Jogja, sepertinya sih masih ada pas di pengungsian. Tapi terus sekarang lupa. Huh! Paling ga umurnya sempat 11 tahun kan, dari beli taun 1995.

Nah, setelah memiliki anak, dari kecil saya memang menginginkan Keenan punya memori dan pengalaman serunya menabung. Tidak selamanya barang-barang yang dia inginkan, didapat dari kebaikan hati (dan kelapar mataan) orang tuanya. Yee kan. Hayo ngaku yang sering kalap liat mainan/baju anak? *cung!

Saya dan Baim setiap ke toko mainan (kalo baju mah kebutuhan rada pokok ya, dan Keenan biasanya ga kabita-en kalo baju hehe) dan Keenan bilang “Keenan mau ini”, kami tanya balik “Keenan punya uang untuk beli, Nak?”. Dan sudah pasti dia bilang “Ga punya”. Lanjutannya ada dua, kalo ga Keenan bilang “OO, yaudah deh ga usah” atau “Ooo, Keenan nabung dulu ya”. Iyaa, anak saya mah terbiasa (orang tuanya) hidup prihatin kali ya, jadi alhamdulillah ga pernah tantrum kalo minta sesuatu.

Dulu pas di Bogor, sempet ada celengan koin yang sudah hampir penuh. Tapi pas pindah, entah kemana itu celengan, jadi kami belikan celengan lagi. Keenan kalo nyelengin rada nggragas juga hahaha. Tiap habis beli sesuatu, dia sering nagih kembalian untuk dicelengin errrr. Udah gitu, ga tahan liat koin nganggur. Koin pak ogah di mobil kadang jadi incaran. Wqwqwqwq.

Daaan.. akhirnya, setelah sekian lama nabung, baru minggu lalu dia menikmati hasil kerja kerasnya. Duit nabung (dari hasil nodong) nya dia belikan mobilan Lightning Mcqueen yang kecil. Dan senengnya lagi, sampai seminggu dia beli, belum bosen. Keenan juga jadi lebih hati-hati pegang mainannya itu, even itu cuma mobilan kecil. Jadi flashback kan, dulu saya juga gitu. Eman-eman sama hasil jerih payah berdarah-darah *lebay.

Jadi menurut saya, selain menabung itu pangkal kaya (apalagi kalau nabungnya berlian, asal ga nabung ke cukongnya ponzi yes), mengajarkan anak menabung sejak dini memiliki beberapa kebaikan, antara lain:

  1. melatih disiplin anak, setidaknya dia berlatih untuk memiliki goal yang ingin dia capai, sehingga mendorong dia untuk disiplin menabung.
  2. anak akan cenderung menghargai uang dan effort. There’s non free lunch. Selalu ada usaha untuk mendapatkan sesuatu.
  3. menanamkan Senses of belonging anak terhadap barang yang berhasil dia beli dari tabungan. So far si linghtning Mcqueen menjadi mainan favorit, dan selalu dieman-eman. Kadang dia ngitung dent atau bagian penyoknya nambah apa ga. Hahahaha.
  4. Kami sekaligus mengajarkan (pada anak dan diri sendiri) untuk membeli yang memang dia butuhkan. Karena jumlah tabungan itu terbatas, maka barang yang dibeli harus sesuai dengan standar prioritas.
  5. melatih anak untuk mengambil keputusan. Ini sih side effect yah. Karena dalam banyak hal, saya dan Baim selalu memberikan pilihan untuk Keenan, dan membiarkan dia untuk memutuskan sendiri pilihannya. Misal untuk membeli barang, harus pilih salah satu, karena terbatasnya uang, atau alasannya mending uang ditabung. Sering juga akhirnya Keenan lebih memilih untuk tidak membeli apa-apa. kalo begini, yang mencelos emak-bapaknya hahahaha.
  6. Apalagi ya? Ada yang bisa nambahin?? Hihi..

Yang pasti, saya dan suami yakin bahwa mengajarkan anak untuk “no free for lunch” dalam hal mendapatkan sesuatu, akan bermanfaat bagi dia nantinya. Mungkin kami memang bukan orang tua yang sempurna, tidak melulu takluk dengan ilmu parenting yang beraneka rupa, tapi kami hanya mempersiapkan anak di masa yang akan datang, di mana persaingan akan makin kompetitif, supaya menjadi anak yang mandiri, berdaya guna, dan tangguh. Ish, udah keren belom saya… Uhuy!

Kalo kamuh! kamuh! kamuh! Sharing dong ngajarin anak biar rajin nabung gimana??

Advertisements