Nyelengin Kuy!

Benar. Saya pun merasa begitu. Judul artikel saya kali ini rada nyeleneh. Ya, tapi gimana dong. Kalimat itu yang pertama nyantol di otak saya. Jadi maklumin aja ya, dan disyukuri, punya otak masih dipake.

Jadi kalo bahasa jawa, piggy bank itu disebutnya celengan. Makanya kata kerjanya jadi nyelengi. Hehehe…

Jadi saya ada cerita. Once upon a time (saking lamanya), saya inget, masih sekitar kelas 1 atau 2 SD, masih numpang di rumah nenek, saya dan kakak punya hobi yang lagi kekinian di kecamatan kami saat itu. ((kecamatan)). Namanya filateli. Duile banget kan. Ga usah saya terangin ya filateli apa, pokoknya itu hobi terkeren yang pernah masuk ke dalam list biodata di diari temen-temen saya dulu. Saking pedenya, tiap rumah di kampung saya ketokin dan tanyain “kulonuwun, gadhah prangko mboten” (“kulonuwun, punya perangko tidak?”. red). Yang seringnya berakhir dengan membawa segepok amplop dengan tempelan prangko Pak Harto berkopiah yang tersenyum manis warna warni, dengan kemiringan kepala sekitar 20 derajat dan terkadang dicap dengan brutal oleh petugas kantor pos.

Nah, pas lagi getol getolnya koleksi ini, tren makin menggila dengan adanya temuan bernama ‘stamp album‘. Oh, hidup jadi filatelist KERAS BUNG! Maka, untuk mempertahankan predikat sebagai kolektor prangko abal-abal tingkat kecamatan, saya dan kakak sangat menginginkan album prangko tersebut. Sayangnya, saya dan kakak TIDAK BERANI MINTA KE ORANG TUA. Karna bagi kami, album perangko adalah kebutuhan tersier dan masih jauh berada di pucuk tertinggi dari piramida Maslow. Jadi, mari sejenak lupakan album prangko seharga dua ribu rupiah.

Tapi jangan sebut kami sebagai bonek bersaudara kalau menerima nasib begitu saja. Saya dan kakak yang selalu diberi uang jajan sebesar LIMA PULUH RUPIAH alias SEKET GELO, berjuang keras untuk mengurungkan jajan, demi menabung untuk membeli THE HOLY ALBUM PERANGKO! jadi silahkan hitung:

Harga album perangko : 2.000, uang saku per hari @ 50 (2 orang jadi 100), maka untuk mengumpulkan uang sebesar 2.000, harus menabung selama:

2.000 : 100 = 20 hari. Saya ulangi, DUA PULUH HARI PUASA JAJAN PENTOL!

Kami nabungnya pakai tabungan tanah warna merah yang klasik banget itu, ditaroh di dalam lemari baju. Wqwqwqwq. Kaya gini nih penampakan celengannya.

sumber: Tokopedia

Maka pada hari H, proudly present “drum roll*.. Terkumpul lah uang sebesar 1.950 (wqwqwqwq.. IYA, KURANG 50 RUPIAH BANGET, gara-gara saya pernah cheating, ga tahan godaan saus pentol yang menetes-netes sempurna). Maka kekurangan, kalo ga salah ditambahin ibu saya atau bude saya gitu. Dan, dengan begitu, officialy, kami punya ALBUM PERANGKO PUJAAN HATI yang beli di Toko Ibu. Mission accomplished!

Dan, bagaimana kabar album perangko saya? Masih ada. Sampai dengan tahun 2006. Setelah gempa Jogja, sepertinya sih masih ada pas di pengungsian. Tapi terus sekarang lupa. Huh! Paling ga umurnya sempat 11 tahun kan, dari beli taun 1995.

Nah, setelah memiliki anak, dari kecil saya memang menginginkan Keenan punya memori dan pengalaman serunya menabung. Tidak selamanya barang-barang yang dia inginkan, didapat dari kebaikan hati (dan kelapar mataan) orang tuanya. Yee kan. Hayo ngaku yang sering kalap liat mainan/baju anak? *cung!

Saya dan Baim setiap ke toko mainan (kalo baju mah kebutuhan rada pokok ya, dan Keenan biasanya ga kabita-en kalo baju hehe) dan Keenan bilang “Keenan mau ini”, kami tanya balik “Keenan punya uang untuk beli, Nak?”. Dan sudah pasti dia bilang “Ga punya”. Lanjutannya ada dua, kalo ga Keenan bilang “OO, yaudah deh ga usah” atau “Ooo, Keenan nabung dulu ya”. Iyaa, anak saya mah terbiasa (orang tuanya) hidup prihatin kali ya, jadi alhamdulillah ga pernah tantrum kalo minta sesuatu.

Dulu pas di Bogor, sempet ada celengan koin yang sudah hampir penuh. Tapi pas pindah, entah kemana itu celengan, jadi kami belikan celengan lagi. Keenan kalo nyelengin rada nggragas juga hahaha. Tiap habis beli sesuatu, dia sering nagih kembalian untuk dicelengin errrr. Udah gitu, ga tahan liat koin nganggur. Koin pak ogah di mobil kadang jadi incaran. Wqwqwqwq.

Daaan.. akhirnya, setelah sekian lama nabung, baru minggu lalu dia menikmati hasil kerja kerasnya. Duit nabung (dari hasil nodong) nya dia belikan mobilan Lightning Mcqueen yang kecil. Dan senengnya lagi, sampai seminggu dia beli, belum bosen. Keenan juga jadi lebih hati-hati pegang mainannya itu, even itu cuma mobilan kecil. Jadi flashback kan, dulu saya juga gitu. Eman-eman sama hasil jerih payah berdarah-darah *lebay.

Jadi menurut saya, selain menabung itu pangkal kaya (apalagi kalau nabungnya berlian, asal ga nabung ke cukongnya ponzi yes), mengajarkan anak menabung sejak dini memiliki beberapa kebaikan, antara lain:

  1. melatih disiplin anak, setidaknya dia berlatih untuk memiliki goal yang ingin dia capai, sehingga mendorong dia untuk disiplin menabung.
  2. anak akan cenderung menghargai uang dan effort. There’s non free lunch. Selalu ada usaha untuk mendapatkan sesuatu.
  3. menanamkan Senses of belonging anak terhadap barang yang berhasil dia beli dari tabungan. So far si linghtning Mcqueen menjadi mainan favorit, dan selalu dieman-eman. Kadang dia ngitung dent atau bagian penyoknya nambah apa ga. Hahahaha.
  4. Kami sekaligus mengajarkan (pada anak dan diri sendiri) untuk membeli yang memang dia butuhkan. Karena jumlah tabungan itu terbatas, maka barang yang dibeli harus sesuai dengan standar prioritas.
  5. melatih anak untuk mengambil keputusan. Ini sih side effect yah. Karena dalam banyak hal, saya dan Baim selalu memberikan pilihan untuk Keenan, dan membiarkan dia untuk memutuskan sendiri pilihannya. Misal untuk membeli barang, harus pilih salah satu, karena terbatasnya uang, atau alasannya mending uang ditabung. Sering juga akhirnya Keenan lebih memilih untuk tidak membeli apa-apa. kalo begini, yang mencelos emak-bapaknya hahahaha.
  6. Apalagi ya? Ada yang bisa nambahin?? Hihi..

Yang pasti, saya dan suami yakin bahwa mengajarkan anak untuk “no free for lunch” dalam hal mendapatkan sesuatu, akan bermanfaat bagi dia nantinya. Mungkin kami memang bukan orang tua yang sempurna, tidak melulu takluk dengan ilmu parenting yang beraneka rupa, tapi kami hanya mempersiapkan anak di masa yang akan datang, di mana persaingan akan makin kompetitif, supaya menjadi anak yang mandiri, berdaya guna, dan tangguh. Ish, udah keren belom saya… Uhuy!

Kalo kamuh! kamuh! kamuh! Sharing dong ngajarin anak biar rajin nabung gimana??

Advertisements

Thank You BCA!

Ya, saya adalah PNS. Tapi its fair kan kalo saya bikin testimoni tentang bank non plat merah?

Kenapa? Karena so far saya sangat puas dengan pelayanan dari Bank BCA. Baru beberapa menit yang lalu saya balik dari BCA untuk mengurus kartu ATM saya yang hilang, dan sepanjang jalan, saya kepikiran kalau kepuasan saya ini harus banget ditulis di blog. ((kepuasan)) banget ya sis.

Pagi ini tepat pukul delapan saya berjalan menuju Kantor Cabang Utama BCA Bandung di Jl. Asia Afrika. Sama seperti sebelum-sebelumnya, setelah saya memasuki komplek perkantoran, saya langsung disapa ramah oleh satpam dan tukang parkir. Masuk ke dalam gedung, deretan Customer Service udah kayak lomba melambai-lambai tangan untuk segera dilayani, tidak perlu ada nomor urut antrian, mana yang kosong, CSnya langsung berdiri dan mempersilahkan. Tak sampai 30 menit, karena sambil ngobrol sana sini, urusan beres, tanpa ribet. Pelanggan puas, urusan kelar.

Ada beberapa disclaimer mungkin, antara lain:

  1. Saya hanya pernah mengunjungi KCU Bandung dan belum pernah di kantor yang lain, tapi semoga representatif.
  2. Jenis pelayanan yang telah saya terima dari BCA adalah membuka tabungan, membuat atm karena hilang, dan kartu kredit.
  3. Selama ini cuma berhubungan dengan bank BUMN, dan bank swasta hanya BCA, dan Muamalat (untuk keperluan KPR).

Jadi hal apa sajakah yangmembuat saya jatuh hati pada BCA sampai saya semangat nulis di blog, bukan karena ada job atau endorse atau buzzer??

1. Management Culture

Hal yang paling saya suka dari BCA adalah culture dari seluruh pegawai BCA. Mulai dari satpam, tukang parkir, sampai dengan Customer Service, semuanya punya culture yang menyenangkan, yaitu sangat ramah menyapa pelanggan. INI PENTING BANGET. Even kita cuma ambil duit di atm, disapa dengan ramah. Bahkan saya sering ke BCA cuma pake sendal jepit, make up luntur, kuyu, tetap disapa. Kebiasaan kan, orang Indonesia kalau nyapa milih-milih. Apalagi kalo di mol, dateng pake sendal jepit, ga mekapan, pasti dikira maling ayam. (jaelah, di mol emang ada ayam?)

2. Kemudahan untuk penambahan atau pengurangan pelayanan

Maksudnya gini, jadi saya punya kartu kredit BCA. Dulunya dibikin sama marketingnya, lewat by phone dan whatsapp, jadi mungkin ada beberapa klausul yang saya miss, yaitu data saya kesebar, jadi as predictable, hp saya sering bunyi dari asuransi, kartu kredit bang anu ini inu, sampai dengan layanan naonan we, aing lieur. Makanya saya meminta untuk customer servicenya untuk meng-offkan hal tersebut. Dan mulai bulan depan, say goodbye to marketing

Oh iya, kebetulan di KCU Asia Afrika karena mungkin merupakan kantor cabang utama, jadi ada layanan kartu kreditnya juga. Dan semua proses dilayani dengan mudah, solutif, dan tidak berbelit-belit. Selain itu saya juga melakukan permintaan untuk menghapus credit life BCA saya, dan ternyata tidak sesulit yang saya baca di internet. Mungkin kesulitan nasabah lain karena by phone, mungkin bisa dicoba jika langsung datang ke CS nya langsung. Repot sih, tapi langsung di follow up.

3. Penggantian Kartu ATM yang tidak berbelit

Berhubung saya adalah emak-emak short term memory, akhirnya ketemu masa dimana lupa naro ATM. Dan itu ngehnya 3 hari setelah ATM raib ga ada di dompet! Walhasil panik banget! Akhirnya telepon ke CS BCA, dan dibantu untuk memblokirnya. Dan untuk proses penggantian kartunya, ga perlu repot dan bikin males, karena ga perlu ngurus surat keterangan di kantor polisis dll. Kenapa? Karena saat buka rekening, nasabah telah diambil foto oleh  petugas sehingga pihak BCA dapat memastikan bahwa pemohon pembuatan kartu adalah pemilik rekening langsung. Oh iya, dokumen yang diperlukan hanyalah KTP dan akan lebih baik lagi jika membawa buku tabungan juga.

4. Teller yang Sigap

Oke fix, ini saya katro banget pas pertama kali buka rekening. Di KCU Bandung hanya ADA SATU TELLER. SAat itu saya udah pesimis aja, mana antrian berdiri. Namun ternyata, pelayanan sangat sigap, penghitungan uang dilakukan langsung oleh mesin sehingga teller hanya tinggal mengotorisasi saja dan memastikan uang telah masuk ke rekening. Satu teller, dengan kecepatan 4 teller di bank lain.

5. Mesin ATM yang user friendly 

Mesin ATM ini mungkin belum semua ATM BCA di Indonesia. Namun, di KCU Bandung, kebanyakan merupakan ATM yang dapat digunakan untuk setor tunai maupun pengambilan tunai, serta transaksi nontunai. Saat pertama kali kartu ATM dimasukan ke dalam mesin ATM, nasabah diberi 2 pilihan fitur, yaitu setor tunai dan penarikan tunai/transaksi nontunai. Untuk pengambilan tunai sendiri, sangat menyenangkan ketika tahu ada pilihan untuk dapat mengambil pecahan 50ribuan dan 100 ribuan. Oke mungkin saya katrok, tapi baru lihat di ATM BCA ini saja hahah.

6. Kartu Debit yang menyatu dengan Flash

Bulan Maret tahun ini, BCA mengeluarkan jenis kartu baru, yaitu kartu debit yang disatukan dengan Flash. Jangan khawatir, saldo antara flash dengan rekening tidak disatukan. Jadi aman apabila kartu ilang. Hal tersebut memudahkan nasabah, apalagi macem saya yang pelupa parah. Kartu etoll sering nyelip entah kemana. Kalau disatukan kan, biasanya kartu ATM akan nangkring manis di dompet, sehigga memudahkan untuk mencarinya.

Nah kurang lebih faktor-faktor itu yang bikin saya kesengsem sama BCA. Tapi bukan berarti bank lain ga bagus loh. Kebetulan saja mungkin pengalaman saya semuanya lagi manis terus (semoga sih oke terus ya BCA). Semoga standar pelayanan di kantor lain juga sebagus di KCU Bandung. Dan,  Thank You BCA!

Muka Segar Saat Bangun Tidur? Why Not?

Beberapa waktu yang lalu, saya memposting kegundahan saya di instagram tentang skin care. Iya, sindrom almost being 30 ya kayak gitu. Banyak kekhawatiran. Khawatir lemak di perut, khawatur keriput di ujung mata, khawatir bisep kendor, khawatir flek hitam. OH NOOOO!!!! Lalu akhirnya saya mencoba produk baru keluaran Garnier, yaitu Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask dari Yukcoba.in. Produk ini setipe dengan sleeping mask yang saat ini sedang sangat marak di kalangan beauty blogger. Kini #WaktunyaKrimMalam bersama #YukCobainChallenge mencoba produk Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask.

Sleeping mask memang sedang menjadi primadona sejak tahun lalu. Kenapa? Karena pada malam hari merupakan waktu yang paling baik bagi kulit untuk beregenerasi dan revital. Terdapat beberapa skin care yang telah mengeluarkan produk sleeping mask dengan berbagai macam base bahan pembuatan. Garnier, mengeluarkan produk Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask yang mengklaim skin care pertama kali yang menggunakan kombinasi:

1. Soy Yoghurt Probiotic Axtract yang berfungsi untuk menutrisi dan mengangkat sel kulit mati,

2. Lemon Essence yang berfungsi untuk mencerahkan kulit dan menyamarkan noda hitam,

3. Vitamin C, dan WhiteSpeed Serum yang berfungsi untuk menyamarkan dan mencegah noda hitam.

Produk ini membantu menutrisi kulit ketika kita sedang tidur pada malam hari dan mampu membantu untuk mengurangi tampilan kusam, karena mengangkat sel-sel kulit mati, serta menghasilkan kulit yang semakin cerah dan mampu menghilangkan noda hitam.


Saya belum pernah menggunakan sleeping mask sebelumnya, sehingga penasaran apakah hasilnya memang seperti review orang-orang. Kebanyakan sleeping mask akan memberikan efek muka menjadi moist dan segar ketika bangun tidur. Terlebih lagi, saya adalah tipe doyan begadang dan permasalahan kulit muka saya sedari dulu adalah KUSAM. So, here it is..

Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask ini memiliki tekstur seperti krim pelembab wajah, tapi lebih cair. Aromanya segar dan tidak terlalu mencolok. Saya menggunakan produk ini dengan ukuran 20 ml, dengan kemasan tube seperti Garnier seri Facial Wash, easy to carry, dan dapat selap selip di pouch. Ketika dibuka tutupnya, tanpa perlu menekan tube, krim keluar dengan sendirinya, karena tekstur yang cenderung agak cair. Selain ukuran ini, Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask juga tersedia dalam ukuran 50 ml.


Saya menggunakan arnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Maskk pada malam hari setelah mencuci muka, membersihkan muka dengan micelar water, menggunakan FTE, baru kemudian mengoleskan krim ini. Saya memakainya berselang seling dengan krim malam. Enaknya lagi, Garnier New Light Complete Yoghurt Sleeping Mask ini tidak perlu dibilas, cukup ditinggal tidur, dan pagi harinya saya membilasnya sekaligus saat wudhu untuk Shalat Subuh.
Setelah digunakan, hanya butuh sekitar 1-2 menit sampai krim benar-benar terserap. Kulit saya termasuk yang normal cenderung kering, ketika menggunakan krim ini lebih halus, lembab, namun tidak oily. Ketika bangun tidur, voila! Hasil yang diperoleh adalah, wanginya tetap enak dan segar, kulit lebih halus, dan yang pasti lebih segaar. Its work!
Jika ingin membeli produk ini, dapat diperoleh di drugstore atau mini market, untuk ukuran 20 ml dibandrol dengan harga di kisaran IDR 25ribuan. Selamat mencoba!

#TUMBloggersMeetUp: #ResepMudahMeriah Blue Band, Menghadirkan Cinta Dalam Setiap Kue Buatan Ibu

Idul Fitri di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari kue kering atau disebut cookies. Dulu sewaktu kecil, setiap puasa menjelang lebaran, oven tangkring selalu mengepul, loyang penuh olesan margarin, dan toples-toples kue mulai terisi aneka macam kue kering. Mulai dari lidah kucing, putri salju, nastar, kastengel, dan sagu keju. Hayoo siapa yang setiap silaturahmi ke tetangga selalu kenyang makan kue kering??!!

Saat ini bisnis kue kering telah menjamur dan menjadi bisnis yang menjanjikan. Dengan alasan kepraktisan, banyak orang yang lebih memilih untuk membeli kue khas lebaran daripada membuatnya sendiri. Apalagi tak sedikit yang menawarkan pembelian secara online, sehingga semakin memanjakan konsumen untuk tidak perlu lagi membeli kue ke toko, apalagi membuatnya sendiri. Orang telah beralih lebih mengandalkan label cookies shop baik yang online maupun offline, salah satunya juga karena dengan alasan minimnya peralatan baking yang mumpuni. Selain itu, keterbatasan inspirasi untuk membuat resep masakan kue khas lebaran juga menjadi momok para ibu, sehingga dalam benak sebagian besar ibu, baking adalah hal yang sangat sulit dan mustahil dilakukan.

Beragam tantangan tersebut yang menjadi dasar Blueband untuk menghadirkan 10 resep kue khas lebaran yang dapat dibuat tanpa menggunakan oven. Tidak ada lagi cerita meminjam oven tetangga, atau ribut ingin mencicil oven setiap tahunnya. Kali ini kue kering made in rumah dapat kembali memenuhi toples, dan keseruan dapur dengan aneka adonan kue menjelang lebaran, kembali hadir. Dan yang paling penting, selalu ada cinta dalam setiap suapan kue yang dibuat oleh ibu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Nando Kusmanto, Brand Manager Blue Band, dalam kesempatan #TUMBloggerMeetUp: Blue Band Cake And Cookie Sharing Session & Baking Workshop, di Restoran Lucy in The Sky, SCBD hari Sabtu pekan lalu (20/5),  yang menceritakan bahwa setiap ibu pasti menginginkan dapat membuat sendiri kue khas lebaran yang lezat dan istimewa. Namun para ibu selalu dihadapkan dengan beragam tantangan, mulai dari peralatan yang tidak komplit sampai dengan bingung menentukan resep kue. Berawal dari hal tersebut, Blue band berkolaborasi dengan seorang chef muda sarat pengalaman, Chef Ayu Anjani Rahardjo, telah menciptakan 10 resep masakan kue khas lebaran yang tidak memerlukan oven, agar para ibu Indonesia mendapatkan momen baking yang mudah dan menyenangkan.

Cookies no oven? Yup! Nampak impossible, but its exist! Dalam acara tersebut, sesaat setelah melakukan registrasi, saya terpana dengan dekorasi Lucy in the Sky yang saat itu didominasi oleh warna pastel, senada dengan dress code hari itu, yaitu paste candy color. Langit-langit ruangan dihiasi dengan ornamen khas bulan Ramadhan, meja-meja telah ditata apik dengan peralatan tempur memasak, bahan-bahan yang telah ditakar, dan BlueBand Cake and Cookie. Terdapat satu spot photobbooth yang cantik dengan 2 scandinavian chair berwarna kuning cerah, membuat suasana semakin segar. Di sampingnya, telah disediakan kids area, dengan beberapa peralatan mewarnai yang telah ramai dengan beberapa anak yang sedang asik memegang crayon. Namun, yang paling membuat saya takjub, terdapat 2 cookie’s corner, dimana meja beralas kain furing putih dan kain kotak-kotak kuning ceria, di atasnya ditata dengan apik beberapa (banyak lebih tepatnya) kue kering yang dibuat tanpa menggunakan oven! Tentu saja saya tidak melewatkan untuk mencicipi beberapa jenis kue, dan semua enak! Crunchy? Yes! Yummy? No doubt! Keenan malah berkali-kali minta. Oops!

Dalam perhelatan tersebut, hadir pula Ayudia Bing Slamet. Artis sekaligus penulis buku Teman Tapi Menikah ini bercerita betapa menyenangkannya mempersiapkan kue kering bersama keluarga ketika dia masih kecil. Kebetulan, ibu Ayudia dulu sempat jualan kue kering. Bisa dibayangkan, betapa serunya saat-saat memasak kue bersama. Hal itu selalu menjadi kenangan manis dan Ayudia ingin kembali menciptakan kembali keseruan momen tersebut di keluarga kecilnya. Tidak hanya sekedar kumpul-kumpul dengan suami, anak dan orang tua, tapi juga membangun kebersamaan dengan melakukan aktivitas bersama-sama. Ayudia juga berharap, nantinya bisa membuat kue bersama-sama dengan anak dan suami, bahkan memiliki resep khusus kue khas lebaran, kue ala Ayudia.

Namun saat ini, artis yang kerap dipanggil Cha ini masih banyak tantangan yang membuatnya belum dapat mewujudkan mimpinya membuat kue lebaran. Sekala, anaknya yang masih berusia satu tahun, masih belum bisa ditinggal-tinggal, apalagi Ayudia mengasuh Sekala langsung tanpa baby sitter. Selain itu, karena masih keluarga baru yang belum lama menikah, Ayudia masih belum memiliki peralatan memasak kue yang lengkap, sementara yang dimiliki ibunya dahulu. Belum lagi resep kue saat ini yang begitu banyak beredar di internet, justru membuatnya bingung menentukan resep mana yang akan ia ikuti. Menurutnya, membuat kue itu takarannya harus tepat dan presisi untuk memperoleh hasil kue yang lezat. Sama halnya dengan ibu-ibu blogger yang hadir disitu, istri dari Ditto ini sangat gembira dan antusias menyambut kreasi resep kue tanpa oven dari Blue Band.

Beberapa blogger papan atas dan selebgram pun ikut memeriahkan acara itu. Sebut saja Alodita (@alodita), Fifi Alvianto (@fifialvianto), Tara (@mamaofsnow), Tyna Kanna Mirdad (tynakannamirdad), dan Cynthia Riza (@cynthiariza). Oke fix, mereka kece-kece berat! Haha.. Selama ini Cuma seliweran di timeline instagram, sekarang bisa foto barengan. Selanjutnya semoga bisa ikutan tenar. Hahahaha.. AMIN!

Nando melanjutkan, bahwa untuk mempermudah para ibu memasak kue kering dan membuat suasana memasak semakin menyenangkan, Blue Band telah mengeluarkan produk Blue Band Cake and Cookie. Produk ini merupakan varian dari Blue Band yang dikhususkan untuk membuat kue, yang telah mengandung butter dan margarin yang pas sehingga kue buatan ibu akan lebih sempurna teksturnya, lebih renyah, dan mendapatkan rasa serta aroma butter yang lezat tanpa harus menambahkan butter. Dan yang pasti, PRAKTIS!

Setelah talkshow, yang paling ditunggu adalah simulasi memasak cookies no oven bersama chef Ayu Anjani. Chef berusia 22 tahun ini membuat Chocolate Chip Cookies, dan PAKE KUKUSAN! Di sela-sela memasak, chef Ayu memberikan tips-tips mebuat kue no oven antara lain:

  1. Pakailah kukusan/dandang dengan bahan yang cukup tebal;
  2. Tidak perlu menggunakan air, supaya kue yang dihasilkan crunchy;
  3. Gunakan api yang sangat kecil untuk menghindari kue menjadi gosong.

Selain itu, pastry chef yang pernah tinggal di Australia ini juga memberikan tips supaya kualitas kue tetap baik saat disimpan, antara lain:

  1. Gunakan toples dari kaca, jangan plastik, dengan alasan keamanan kesehatan. Menurutnya, kita tidak pernah tahu, terbuat dari bahan apakah plastik tersebut.
  2. Jangan terlalu lama menyimpan kue di dalam toples.
  3. Berikan silica gel di dalam toples untuk mengurangi kelembaban dan menghindari dari jamur. Silica gel ini bukanlah bahan pengawet ya, hanya bahan untuk menyerap cairan di sekitarnya.

Penasaran dengan resep kue no oven? Langsung meluncur ke www.blueband.co.id/dapurnooven untuk mendapatkan 10 #ResepMudahMeriah kue kering yang dimasak tanpa menggunakan oven. Resepnya antara lain; kastengel, nastar keju, putri salju pandan, bola mentega, chocolate chip cookiem kue kacang strawberry, kue kelapa kismis, kue sus keju, putu cake, dan rainbow crispy treats. Di #ResepMudahMeriah ini, Blue Band memang sangat memperhatikan bahwa selalu ada cinta dalam setiap kue yang dibuat langsung oleh ibu. Karena jika hanya membeli kue, maka akan ada sisi emosional yang hilang.

Yang paling ditunggu dan paling seru dari acara kemarin adalah lomba memasak kue! Saya dengar juga ada kompetisi menghias toples ya. Sayang sekali saya tidak bisa ikut acara sampai selesai karena ada keperluan lain. HUHUHU. Maklum jauh-jauh dari Bandung, sekalian semua kepentingan disabet mumpung di Jakarta. Smeoga untuk kesempatan berikutnya bisa fokus sampai acara selesai! Yang pasti saya akan mencoba resep kue no oven ini!!  Apalagi tau kalau kita bisa konsultasi resep juga di instagram Blueband di @blueband_id dan di FB yaitu di link www.facebook.com/BlueBand, dan pasti akan dibalas oleh adminnya, paling lambat 2×24 jam!

Hello (again) Gym!

Saya balik ngegym lagi (duileeee). Terakhir ngegym pas mau nikah dan 2 bulan setelah nikah (lalu ku hamil duluan). Kenapa akhirnya pilih CLBK ngegym lagi? Alasan utamanya sih ngisi waktu sambil nunggu suami les. Wakakaka. Banyak duit banget kan. (Padahal sempet nyesel habis daftar gym, inget cicilan 😭).

Tapi nyeselnya bentar kok, kalau ingat investasi biar sehat. Langsing mah bonus (padahal sasaran utama). Lagian memang sejak dulu lumayan seneng olahraga, meski lebih seneng gegoleran ngemil kentang goreng sambil nonton ipin upin. Dulu pas di Jakarta lumayan seneng lari, temen lari banyak. Semenjak di Bandung, gerobak kupat tahu lebih menarik saat jalan jalan ke Saparua. Aku kudu piyeee 😭😭.

Akhirnya setelah berjibaku dengan pikiran di kepala, itung-itung pengeluaran bulanan (perhitungan), dan mempertimbangkan waktu serta tempat gym yang dekat kantor, akhirnya saya (atas ijin suami), mencari informasi tentang tempat gym yang dekat kantor. Kenapa harus dekat kantor? Ya karena rumah saya di Bandung, eh Cimahi. Wakakakaka. Pertimbangan kedua juga karena lebih fokus, setelah absen pulang, lalu cuss ke tempat gym. Lagipula suami lesnya juga dekat-dekat kantor. Kalau mampir rumah duluan, maka kembalilah kentang goreng dan ipin upin melambai-lambai. Belum lagi Kinong yang minta dicebokin.

Maka dimulailah pencarian tempat gym. Kandidatnya cuma dua sih, yaitu gym di hotel Preanger sama di Golds Gym Braga Citywalk. Pertama yang saya kunjungi adalah di Preanger. Di sana saya dilayani, ((dilayani)) oleh mas mas (lumayan) good looking. Dijelasin sistemnya, membership, fasilitas, kelas, dan tempat alat gym. Saya melongok sebentar. fasilitas yang ditawarkan adalah peralatan gym standar, pool, dan beberapa kelas, kalau ga salah yoga sama zumba. Al least pas itu saya ke Preanger memang pengen tau aja, katanya murah. Memang lumayan murah sih dibanding tempat gym yang memang fitness center, tapi saya kurang sreg karena sepertinya sepi pas saya kesana. Tapi menurut informasi, gym disanan akan ramai pada (waktunya) eh, maksudnya pada malam hari.

Saya pilih Gold’s Gym alasannya adalah, karena disana kapanpun kesana akan tetap hingar bingar. Ciye hingar bingar, dugem kalik (kayak pernah aja deh yan). Kalo saya pribadi, seneng yang ramai, karna jadi makin semangat liatin pada pake sport bra, terus biasanya orang cenderung pada cuek, mau situ salto, atau plank sambil nonggeng, nobody’s notice. Sebenarnya di Bandung ada Fitness First juga, cuma pertimbangan saya cuma satu, yang deket kantor. Itu aja. Jadi saya ga tau komparasi di FF masalah biaya dll nya kaya apa.

Ada beberapa hal, kapan kita merapa perlu untuk nge gym:

  1. Kerja kantoran monoton di depan komputer, dan itu berlangsung lama.
  2. Badan mulai tidak proporsional, alias bun-cit atau gen-dut.
  3. Males kepanasan kalau pas workout.
  4. Suka banyak jenis olahraga, seperti yoga, body combat, body pump, atau boxing. Kalau di fitness sudah all in.
  5. Niat konsul sama personal training. Kenapa? Karena PT itu ga cuma ngenali alat-alat aja, tapi juga bisa konsultasi gizi, workout yang tepat sesuai dengan porsi yang diharapkan. Misal mau ngurangin size perut, PT ini punya serangkaian latihan yang (nampak) biasa aja, tapi sungguh nampol tralala.
  6. Sambil nunggu suami les (ini sih alasan gue ajeeeee).

Lalu berapakah biaya nge gym di GG?

Ternyata ada beberapa hal (yang entah ini akal-akalan marketingnya atau bukan) pertimbangan, marketingnya memberikan harga ke konsumen. Misalnya saya, dateng sendiri ke GG, maka (katanya) harganya akan lebih murah jika dibanding marketingnya yang jemput bola. Atau misal saya dateng karena dapet rekomendasi dari teman, maka teman saya akan mendapat diskon (macem member get member ya).

Jadi saya kena pendaftaran untuk single club. Kenapa? Karena saya optimis aja ga bakal mutasi kemana-masa selama 1 tahun ini hehe. Lagian kalau lagi traveling atau lagi dinas ke luar kota, kayaknya ga sempet kepikiran mau nge gym. YA KALEEEE. Kecuali kalau sebentar lagi gue kuliah di UK kali ya (AMININ AJAAAA). Tapi kalau untuk penggunaan gym membership di luar negeri hanya berlaku 14 hari pertama saja. Duh, padahal kan saya kemungkinan bisa 2-5 tahun ya di UK (bukan halu, cuma optimis, OPTIMIS pake capslock).

Jadi saya dapet harga pendaftaran sama pembayaran bulan terakhir (komit 12 bulan) 1.xxx.xxx, ga nyampe 1,1 juta kayaknya. Itu juga termasuk 15 hari pertama karena saya daftar pas tengah bulan. Sebulannya kena 408k, dicharge langsung ke CC. Jadi sebaiknya anda punya CC kalau mau ngegym di GG (bukan ajakan riba’ loh). Cuma memang kebijakan dari manajemen seperti itu. Iya sih lebih praktis bagi GG, dan kalau terjadi apa-apa dalam proses pembayaran, itu sudah urusan pemilik kartu dan banknya. Oh iya, dari paket tersebut, sudah dapet gym bag GG yang koneng koneng tea.

So far sudah jalan sebulan, sudah pakai 2 kali PT (paket), dan PT disini baik-baik banget, helpful, ramah, ga songong. Kelasnya seru-seru juga, tapi pas hatta yoga, i felt so dumb, kayaknya cuma gue sendiri yang ga bisa ngangkat badan (plis deh!). Gapapa, still 11 months to gooo.. Hahaha Semangaat!!

Untuk rules, pada dasarnya sama dengan tempat gym lain, seperti peraturan untuk cuti, penegnaan tagihan bulanan, loker, kunci dll.

Oke, lets see. SEMOGA ISTIQOMAH YA SIS!

*sebenarnya sudah bikin vlog pas ngegym.. tapi tapi.. nanti aja uploadnya hahaha.